Peserta CGP Angkatan 4 Kota Surakarta
Calon Guru Penggerak Mengikuti Lokakarya 3 di Hotel Royal Herritage Solo
Mural Untuk Solo Bangkit
Tergerak, Bergerak, Menggerakkan
Pengelolaan Kelas Daring di SMK N 6 Surakarta
Selama masa pandemi pembelajaran hanya bisa secara daring guru dituntut bisa menggunakan aplikasi meeting.
Kangguru Mas Guru
Filosofi Semar pada Pewayangan Jawa yang ngemong, momong dan tut wuri handayani .
Foto Section CGP angkatan 4 Kota Surakarta
Berlangsung di Lokakarya 3 - Hotel Royal Herritage Solo.
Foto Section CGP angkatan 4 Kota Surakarta
Berlangsung di Lokakarya 3 - Hotel Royal Herritage Solo.
Saturday, March 19, 2022
Minyak Goreng yg Tergoreng
Wednesday, September 8, 2021
Cerpen Fiksi
Saturday, September 4, 2021
Elang dan Ular
Friday, September 3, 2021
Makanan Gosong
Tanah dan Emas
Wednesday, September 1, 2021
kaya itu keniscayaan sebagai Insan Ekonomi
Sunday, August 22, 2021
Guru Abdi Siswa
UNTUK SAUDARAKU YG TERLANJUR JADI GURU
Kenapa Sang Guru awet muda?
Karena selalu bekerja dengan penuh kebahagiaan serta ketulusan mendampingi siswa yang dinamis.
Kenapa Sang Guru selalu selamat?
Karena tiap pagi menyambut anak dan siswa mendoakan "Assalamu'alaikum".
Kenapa Sang Guru banyak amalannya?
Karena setiap saat ia dengan ikhlas menginfakkan ilmunya pada siswa.
Kenapa Sang Guru sangat berjasa?
Karena kita semua hadir bisa membaca dan menulis serta berprofesi apapun karena jasanya.
Kenapa Sang Guru kelak dijanjikan kebahagiaan oleh-Nya?
Karena meski telah wafat ia masih dapat kiriman pahala karena amal jariyah ilmunya yang diamalkan siswanya.
Maka .....
Berbahagialah wahai para guru, ibu bapak akan dapat kemuliaan di dunia dan akherat. Dengan syarat kita menjalankan tugas diniati ibadah serta dengan penuh kesabaran dan keikhlasan membimbing/mendampingi siswa yang diamanahkan pada kita.
Semoga Allah SWT memberikan kesehatan, kesabaran, ketulusan dan keikhlasan bagi kita semua wahai Sang Guru.... Aamiin yaa Robb... 🤲🤲🤲🤲...semangaaatt.
Saturday, August 21, 2021
BJ HABIBIE
Saturday, August 14, 2021
Terpuruk itu Bukan Terburuk
TERPURUK ITU BUKAN TERBURUK
Oleh : P.Son
Malam
itu Amar kedatangan kawan senior di ruang kerjanya, warung internet (warnet), namanya
Anto,. Say Hallo dan mereka ngobrol tentang keseriusan bisnis warnet
saat itu yang naik daun di tahun itu (2002). Dari awal Amar sudah curiga
mengapa Anto datang malam-malam begini, pasti ada hal yang penting. Kalau tidak
kenapa datang, ini tidak biasanya ! Pikirnya. Benar saja, belum genap 30 menit
ngobrol Anto sudah mulai utik-utik warnet,
dia katakan kalau warnet ini juga ada perannya, ada partisipasinya saat itu.
Makanya dia berpesan kalau warnet ini dijaga yang benar agak kepercayaan yang
didapati Amar tidak luntur. Menurutnya,
“
Ada yang bilang kalau kamu sudah mulai tidak dipercaya atasan!” Katanya
menghardik. Kontan saja Amar langsung
bertanya
“Kata siapa Tok? Siapa yang bilang?” Tanya
Amar.
“Ada
deh, makanya kamu bisa tanya atasanmu saja “. Jawab Anto.
“Baik,
besok saya datang ke bu Tini”. Tegas Amar.
Sepulang
dari obrolan itu, Amar tidak bisa tidur memikirkan keluhan dari atasan yang menurut Anto, Amar mulai
dicurigai kurang amanah, mulai disangka korupsi itu gosip yang tengah
berkembang. Wajar saja karena Warnetnya mulai ramai sampai malam hingga dini
hari membuat berita buruk yang menyertainya. Warnet yang dulu sepi,
pelanggannya hanya murid saja sekarang bisa ramai dan pelanggannya dari orang
umum 24 jam lagi. Siapapun akan berprasangka buruk kalau tidak mengetahui cerita
sesungguhnya.
Keesokan
harinya Amar ceritakan oborolan tadi malam dengan istri tercinta, namun
istrinya tidak emosi, hanya menyarankan agar hati-hati dan tidak buru-buru
membela diri dengan membabi buta. Sesampainya di kantor Amar mengira jika
saatnya sudah tepat untuk masuk ke ruang Bu Tini mengutarakan masalah yang
dirasa mengganjal hatinya. Amar ceritakan kalau tadi malam didatangi seorang
kawan senior orang dekat Bu Tini, orang kepercayaan ibu yang mengeluh kalau
Amar mulai tidak jujur, mulai korupsi, mulai diprasangkai buruk dan berita ini
sudah menyebar ke beberapa kawan lain yang seprofesi. Ibu Tini yang dilapori
Amar seperti ini langsung membantah bila informasi itu tidak benar, tidak ada
sama sekali pikiran buruk seperti itu, tidak ada omongan seperti itu pada Amar.
Ibu Tini menyarankan agar tidak mempercayai berita tersebut dan tetap fokus
pada tugasnya menjadi manager Warnet yang sudah dirintisnya sehingga mulai
menghasilkan.
Amar
yang dijelaskan bu Tini itu tidak percaya dan menangis di hadapan bu Tini
karena merasa disalahkan, difitnah dan di”paido”
pekerjaannya. Tidak disemangati, tidak dimotivasi, tidak diarahkan tapi malah
digosip yang tidak benar pada berita bohong itu. Dalam hati kecil ini Amar ini
mungkin ujian baginya untuk meraih yang lebih baik dari ini. Hatinya juga mulai
berpikir untuk mengakhiri bisnis warnet karena dari tahun ke tahun juga mulai
meredup.
Amar
kembali beraktivitas seperti sediakala bertugas sebagai manajer warnet mengelola
bisnis lengkap dengan resiko kerusakan komputer, komplain pelanggan, pembayaran
internet ke ISP (Server Provider)
yang tinggi, pembayaran gaji operator
yang harus tepat waktu menjadi tugas harian dan bulanan Amar. Pengeluaran biaya
operasional warnet saat itu cukup besar, untuk ISP saja bisa mencapai Rp.6 juta
sebulan, untuk gaji mencapai Rp.4,5 jt untuk 3 orang, biaya jastel Rp.1-2 jt
sebulan, untuk kerusakan dan lain-lain bisa kisaran Rp.2-3 jt sebulan. Masih
ada selisih memang, walaupun tipis antara Rp.3-5 juta sebulan sebagai
keuntungan tetapi sekali ada kerusakan dana yang disisihkan bisa ludes, sebab
biaya kerusakan alat juga cukup tinggi seperti mouse, mainboard, VGA, LAN Card,
Headshet dan lain-lain.
Suatu
ketika Amar melaporkan kondisi kerusakan komputer pada pihak manajemen,
dilaporkan bahwa komputer warnet sudah banyak yang rusak, jika diservis dari
dana pemasukan kemungkinan tidak bisa membiayai gaji dan jasa internet, namun
pihak manajemen tidak berkenan malah mengajukan rapat istimewa dengan
menghadirkan Amar selaku pengelola dan beberapa manajer senior yang ada di
dalamnya. Rapat membahas masalah penting terkait ketidaksiapkan warnet
merecover peralatan internet yang semakin parah rusaknya. Hasil rapat
menyimpulkan warnet akan di-lego (dipindah-alihkan) kepada orang yang siap
mendanai kerusakan alat, dan amar menyatakan atau malah diminta secara halus
mundur dari manager warnet.
Bagi
Amar pindah alih dan ganti manajemen warnet tidak masalah, tetapi apakah itu
menyelesaikan masalah, sedang masalah yang sesungguhnya ada pada pembiayaan
alat yang kurang karena penghasilan menurun dan alat banyak yang rusak, secara
manajerial tim masih solid, masih siap bekerja dan berusaha. Namun apa bisa
dikata jika pihak manajemen memutuskan warnet ganti manajemen baru dan Amar
dilengserkan tanpa solusi yang adil pada inti masalah sebenarnya. Inilah awal
terpuruk Amar dimulai. Benar saja, warnet diganti manajemen orang lain semua
alat komputer dimake over, diservis,
direkondisi lagi benahi manajemennya. Semua pegawai/operator diganti oleh
manajer baru itu, Pak Yoyok namanya bersama timnya mengambil alih warnet yang
Amar rintis dari kecil menjadi warnet yang ramai.
Sejak
saat itu Amar kehilangan pekerjaan, kehilangan pendapatan tambahan. Gaji yang
biasanya bisa digunakan mengangsur kredit rumah barunya sekarang nihil, tidak
ada pemasukan dari warnet. Angsuran rumah lewat BMT sedianya 950.000 per bulan pun
nyaris tidak bisa dibayar. Waktu itu Amar sedih luar biasa apa yang
digadang-gadang, diharap-harap, dirintisnya sirna semua tanpa bekas tidak ada
penghargaan sedikit pun terucap dari manajemen telah merintis warnet menjadi
layak jual, tidak ada yang mensupport keterpurukan Amar agar bisa bangkit,
tidak ada yang memberi semangat memberi nasehat untuk bisa menerima masalah
besar ini. Sampai pada suatu saat Amar berdoa di tengah malam tepatnya pukul
03.00, meminta Allah agar melunasi hutang kredit rumah, meminta Allah agar
semua bisa dihadapinya dengan lancar karena semua masalah pasti ada sebab ada
akibat dan semua kesulitan pasti ada kemudahan.
Tidak
butuh waktu yang lama Amar vakum pada
pekerjaan warnet, Amar dapat info dari kawan ada lowongan operator warnet di
daerah Balapan Solo. Amar langsung telisik informasi itu dan benar saja jika
warnet Mas Rony (Pemilik) Zero Spot membutuhkan seorang operator yang punya
pengalaman pada bidang warnet. Amar diterima kerja sebagai operator dan diminta
langsung masuk kerja untuk shift malam. Warnet buka mulai pagi jam 08.00 –
05.00 WIB dibagi dua shift. Amar dapat jatah jaga warnet pukul 18.00 – 03.00 pagi
WIB. Bersyukur pada Allah walaupun jauh dari rumah masih dikasih solusi bisa
bekerja lagi di warnet sehingga bisa mengangsur kredit rumah yang kurang
beberapa bulan lagi. Bersyukur juga jika masalahnya bisa cepat diatasi walaupun
berat dilalui. Malam-malam bekerja di warnet orang, jauh dari rumah hingga dini
hari, pukul 02.00 kadang pukul 03.00 baru pulang dari kerjaan membuat tubuh
Amar kurus, capek, kelelahan dan sedih luar biasa. Kerja ikut orang berbeda
dengan kerja di lingkungan sendiri, ditempat sendiri. Kerja jadi manajer sangat
berbeda kerja jadi operator itulah yang Amar hadapi sekarang kerja ikut orang
tentu waktu, durasi, disiplin, pemasukan warnet dihitung benar tidak ada
kompromi kalau ada yang geser apalagi kurang setoran, harus tepat.
Hari
demi hari Amar jalani pekerjaan sebagai operator warnet kadang suka kadang
duka, suka karena bisa membayar cicilan kredit rumah dan bisa bertahan hidup,
duka karena berat sekali pekerjaan ini, nyaris tiap sore-malam hingga dini hari
tidak ketemu anak istri di rumah, ketemunya sudah tidur semua, sudah lelah
semua di jam-jam 02.00 – 05.00 WIB. Tiap hari Amar menelusuri jalanan pulang bersama
motor bebek Yamaha 75 dengan tangisan, dengan peluh air mata sedih dan berat
sekali hidup ini, kerja hasil tak seberapa tapi dikerjakan karena terpaksa agar
bisa bertahan. Tangisan Amar selalu saja menetes sendiri di dalam hatinya memikirkan
kapan hidup ini bisa lebih baik, kapan bisa bekerja yang tidak menyita waktu
yang berat seperti ini, itu pula yang diungkap dalam doa Amar di tiap
malam-malamnya.
“Allah, Engkaulah penggenggam rejeki seluruh
makhluh di bumi, angkatlah hidup ku dari hidup dan bekerja seperti ini, hidup
yang lebih baik, jangan biarkan waktu ku dan waktu anak istri ku terpisah dari
pekerjaan ini. Jangan biarkan malam ku ada di tempat orang lain sedangkan orang
lain pun tidak bisa membayar selayak yang ku minta”. Seperti itu doa dan pinta
Amar pada Tuhannya.
“Ya
Allah, nasib ku ini sedang berat sedang di bawah, abot (berat) ya Allah abot (berat).
Entaskan saya dari keterpurukan ini jangan berlama-lama engkau beri ujian yang
saya tidak sanggup aku hadapi.” Amar bermohon.
Di
mata kawan-kawan Amar nampak biasa saja, pekerjaan sebagai pengajar di salah
satu sekolah favorit tentu membuatnya lebih tenang. Karena bekerja di warnet
sebenarnya adalah pekerjaan tambahan (sampingan). Walaupun pekerjaan sampingan,
tetapi penghasilannya sangat diharapkan bagi kebutuhan keluarga, sedangkan
pekerjaan pertamanya di sekolah penghasilannya sudah sangat minim
terpotong-potong untuk angsuran bank, kredit motor, koperasi dan lain-lain.
Kawan-kawan Amar yang tahu jika dia bekerja di Warnet pada sore hingga malam
hari sudah diketahuinya, mereka pun sebagian ikut mendukung ada juga yang
menyayangkan nasibnya. Namun Amar menyakini jika ini hanya loncatan sementara
sebagai solusi dari Allah agar dia bisa bertahan untuk beberapa bulan ke depan.
Lebih
dari 8 bulan Amar bekerja di Zeronet Balapan Solo, seperti biasanya menyiapkan
meja komputer bersih, komputer server dan komputer billing berjalan lancar, menyapu lantai dan memberi pengharum
ruangan secara rutin. Suatu malam, seorang kawan dari Jakarta mengabari Amar
lewat Yahoo Messenger jika ada lowongan sebagai relawan Korban Gempa Tsunami di
Aceh. Entah apa yang merasuki pikiran Amar saat itu, dia menyatakan setuju
bergabung dengan lembaga Depdikbud dan UNICEF menjadi relawan pendataan sekolah
korban gempa tsunami di Aceh waktu itu. Amar diminta melengkapi persyaratan,
perijinan dari pihak warnet dan dari pihak sekolah. Amar mengundurkan diri dari
pekerjaan warnet keesokan harinya dan meminta ijin ke sekolah pada hari
berikutnya.
Sungguh
perjuangan yang berat untuk mendapatkan ijin dari sekolah waktu itu, padahal
Amar mendapatkan rekomendasi langsung di Direktor Pendidikan dan Kebudayaan
Jakarta waktu itu bernama Dikmenjur (Direktorat Menengah Kejuruan), Bapak Gatot
HP. Pihak sekolah tidak meloloskan ijin karena alasan tugas sebagai pengajar
terbengkalai dan itu bukan pekerjaan utamanya. Amar berdalih negara lain saja
ikut membantu orang yang sedang kesulitan, kota yang sedang kena bencana alam
dibantu, kita yang punya saudara sebangsa se tanah air tidak membantu, ironis
debat Amar waktu itu. Negara lain memberi bantuan apa saja untuk Aceh agar bisa
rekonsiliasi, agar bisa kembali hidup normal sedangkan kita ditawari menjadi
relawan untuk membantu mereka tidak bersedia, padahal relawannya juga resmi,
hasil kerjasama Depdikbud dengan UNICEF menamai programnya dengan “EMIS (Education Management Information System).
Itulah dasar logika debat Amar saat ditanya pihak sekolah agar surat ijin bisa
diterbitkan.
Kawan-kawan
tentu bertanya mengapa begitu beraninya Amar mau berangkat ke Banda Aceh,
jelas-jelas daerah itu masih belum aman, masih ada pemberontakan GAM (Gerakan
Aceh Merdeka) mungkin juga ada gempa dan tsunami susulan. Amar menjawab, “
Daripada hidupnya hanya bisa meratapi nasib sendiri, sedangkan nasib kita
sendiri masih belum bagus/ layak, saya mencoba bersedekah lewat tangan, tenaga,
pikiran dan waktu saya untuk saudara saya yang kena dampak bencana alam”.
Tegasnya.
Meratapi
perkara mengeluh pada nasib yang dialami adalah sebuah kewajaran setiap
manusia, tetapi ketika nasib kita, rejeki kita sulit bukan berati urusan kita
dengan Tuhan kita selesai. Mungkin saja urusan kita dengan manusia belum
selesai hingga akhirnya Amar tergerak untuk membantu di Aceh, mensedekahkan
dirinya pada pembelaan di penanganan gempa tsunami Aceh. Alasannya hanya itu,
yakni membantu warga Aceh keluar dari krisis utamanya pada sekolah rusak korban
gempa. Nawaitunya berbuat baik pada
anak bangsa, seperti NGO lain negara lain saja membantu bahu membahu
mengentaskan warga Aceh.
Anak,
istri, ibu mertua yang sudah renta Amar tinggalkan pergi ke Nanggro Aceh
Darussalam (NAD), padahal waktu itu harta benda, gaji untuk biaya hidup
sehari-hari saja mungkin sangat-sangat tipis. Amar hanya berpesan pada
istrinya, “Biarlah saya relakan diri untuk diambil tenaga, pikiran dan
keahliannya jika memang diperlukan di sana”. Sambutnya. “Tidak ingin dapat
pamrih, pangkat, gaji, harta dari mereka, yang ku pikirkan bisa sama-sama
bekerja membantu mengentaskan korban”. Pungkasnya.
Dari
Solo naik pesawat ke Jakarta turun di Bandara Sukarno Hatta naik taksi ke
kantor Depdikbud Jakarta. Di sana telah berkumpul sejumlah calon-calon relawan
dari berbagai daerah. Amar diterima staff khusus Posko Gempa Tsunami Aceh dan
langsung mengadakan rapat kecil untuk persiapan diklat operator EMIS selama 2
hari 2 malam. Amar menginap di kos-kosan staff Dikmenjur malam itu, keesokan
harinya mengikuti diklat EMIS bersama tim relawan EMIS. Segala perlengkapan,
bekal, biaya, surat jalan telah siap, tim relawan berangkat ke masing-masing
daerah tujuan. Ada yang ke Banda Aceh, Aceh Besar, Takengon, Loksumawe, Langsa,
Aceh Timur, Aceh Tengah, Bener Meriah dan lain-lain. Amar ditugaskan di Aceh
Timur bersama 10 orang tim relawan di lokasi.
Sesampainya
di Aceh Timur langsung menggelar rapat maraton untuk pendataan, bagi tugas,
bagi pos dan koordinasi ke antar instansi dengan jaringan internet. Pembelian
peralatan internet, pasang jaringan dan lain-lain dikerjakan secara bertahap.
Tanpa
berasa lama sudah 1,5 tahun berlalu di Aceh Timur data selesai lebih cepat,
tugas hampir selesai tinggal ada sesuatu yang mengganjal yakni adakah honor ?
ternyata relawan di sana juga mendapatkan honor yang cukup besar. Gaji relawan
seperti Amar sebagai konsultan saat itu sudah Rp.4,5 juta, sedangkan operator
Rp.1,5 jt dan itu berlangsung 1,5 tahun, nampaknya inilah jawaban dari semua
doa-doa Amar yang merintih tiap malam saat pulang dari warnet itu, mungkin
jalan raya Tirtonadi – Nusukan- Joglo menjadi saksi atas tangisanku tiap pagi
itu. Apa yang tidak dipikirkan oleh saat itu akhirnya terjawab yakni bisa
melunasi hutang kredit rumah secara tunai. Pada akhirnya badai itu pun berlalu
dengan membantu orang lain, membantu orang yang sedang kesulitan sedang terkena
bencana kita juga dibantu oleh Allah.
Karena
hidup harus terus berjalan tiada henti sepanjang nafas masih dikandung badan
maka masalah selalu ada dan solusi pun selalu mengitarinya. Inilah hidup selalu
hadapi masalah dan selesaikan masalah. Jika tidak ingin hidup, mati saja lebih
baik. Maka ada pameo mengatakan mati
lebih mulia dari pada hidup berkubang nista/sengsara. Mendapatkan amanah itu
baik jika dijalankan dengan ikhlas, jika tidak ikhlas lebih baik lepaskan
amanah itu. Karena amanah yang tidak dijalankan berat tanggung jawabnya.
Sepulang
dari Aceh, Amar juga mendapatkan tugas ke Papua Barat untuk program yang sama,
namun tugas yang pertama tidak disetujui atasan karena baru saja pulang dari
Aceh. Dan tugas kedua datang lagi agar Amar membantu di Papua Barat, karena
Amar sudah tercatat sebagai relawan nasional di Dikmenjur dan menyatakan siap
membantu bila dibutuhkan Dikmenjur, saat itu Amar harus berangkat apapun
resikonya. Dan tugas kedua dijalankannya selama 2 bulan saja, karena medan
tugasnya sangatlah berat, membutuhkan biaya transportasi yang sangat mahal
sedangkan biaya operasionalnya terbatas.
Berlanjut
dari Papua ada lagi program keliling Jawa Tengah untuk EMIS-2 yakni pendataan
presensi online yang diterapkan diseluruh SMK se Indonesia. Namun program
berjalan hanya 6 bulan karena saat itu transisisi dari kurikulum KTSP ke
kurikulum 2013 sehingga program EMIS-2 kandas ditengah jalan.
Tidak
lama bersalang waktu Amar dipercaya membuka program keahlian baru namanya
Broadcasting (BC) dan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), Amar ikuti dari awal
mulai proposal ganti-ganti selalu 1-2 tahun terhenti dan dilanjutkan kembali
hingga direalisasi. Jadilah dua program BC dan RPL menjadi jurusan baru Amar
menjadi Ketua Program Keahlian BC, belum genap 1 tahun BC berjalan karena
sesuatu hal yang diluar pengetahuan Amar, dia diganti secara sepihak oleh
manajemen. Tanpa tahu sebab musababnya diganti begitu saja. Mungkin jika
ditelusuri ada benang merahnya karena Amar menjadi Instruktur Nasional (IN)
salah satu jurusan di Makasar beberapa minggu, Amar menjadi instruktur pada
program keahlian ganda yang membuat jabatan Ketua Jurusan diganti sepihak.
Tugas-tugas
terkait penggunaan alat, pengelola lab studio pun dicopot semua juga langsung
diganti oleh orang lain yang dipercayanya. Akhirnya program website, CBT web,
youtube Channel Viska TV Solo pun ikut terpuruk tidak ada contentnya, tidak ada yang mengisi konten, sampai berjalan 1-3
tahun terakhir. Di saat seperti ini yang harus dirasa adalah legowo saja, apa
yang ditarik adalah bukan miliki kita, yang penting Amar tidak melakukan
hal-hal yang dituduhkan atau yang dicurigai. Dari awal pihak sekolah sudah
bilang apa tidak ada serah terima jabatan atau alat saat tugas kapro ke kapro
berikutnya. Amar bilang tidak ada, karena semua berjalan begitu cepat, alat
juga kita dapatkan dan gunakan bersama-sama, dipakai bersama-sama data juga
semua tahu semua paham. Serah terima secara seremonial mungkin tidak dilakukan
tetapi serah terima kewenangan, data itu sudah dilakukan walaupun tidak resmi.
Namun
seperti jawaban itu tidak memuaskan manajemen, pantas saja Amar langsung tidak
dianggap, tidak didata sedikitpun dalam beberapa kesempatan penugasan. Amar
tetap tenang, sabar berdoa dan ikhtiar. Dalam hatinya inilah lakon berikutnya,
alur cerita lanjutan dari sekian banyak alur cerita yang sudah dilalui Amar.
Dan ini kesempatan menengok kembali perjalanan hidup yang belum pudar di dalam
sejarah masa lalu, mungkin ada hal yang terlewati, mungkin ada sesuatu hal yang
terabaikan dalam perjalanan Amar.
Tepat
sekali kasus keterpurukan ini berhikmah manis, adalah keluarga yang selama ini
diabaikan Amar, tidak dianggap hadir oleh Amar sekarang mau tidak mau harus
dianggap, harus diprioritaskan. Keluarga adalah sejarah awal dari karier
seseorang, perhatiannya, atensinya, pengorbanannya adalah benang yang mengikat
pada orang yang dicintai. Amar bisa kuliah dari Sarjana ke Pasca Sarjana,
berprestasi hingga ke propinsi dan nasional bukan karena kemampuan dirinya,
bukan pula prestasinya tetapi karena doa keluarganya.
Amar
sekarang bisa merasakan betapa keluarga hadir pada saat-saat kritis kita
membutuhkan. Betapa rumah tangga ikut berperan pada saat kita mengeluh dan layu
karena masalah yang berat. Betapa kita tidak sadari kalau semua perjalanan
hidup manusia berangkat dari keluarga, dari anak istri, ibu dan bapak. Tanpa
keluarga hidup mungkin tidak bermakna. Sekarang Amar bisa hidup lebih lepas,
lebih legowo, lebih ikhlas menghadapi berbagai badai derita, karena terpuruk
dalam hidup bukan berakhir kiamat dalam berbuat, tetapi terpuruk adalah
pelajaran berharga dalam menapaki kehidupan yang lebih baik, terpuruk bukan
buruk tetapi obat sekaligus sapu untuk membersihkan sisa dendam dalam hati.
Sekarang
kehidupan karier Amar siap menunggu tantangan jaman lagi, menunggui karomah
dari Allah, keajaiban berkah dari Allah untuk dicurahkan pada keluarga Amar.
Kadang Amar sering bercanda dengan istri Ya Allah, kasihlah saya masalah yang
“agak berat” karena di “agak berat” nya masalah itu Engkau kasih lebih pada ku.
Engkau kasih bonus yang luar biasa pada hidupku “. Gitu candanya.
Memang ada benarnya, beberapa kali masalah datang beberap kali pula solusi datang dan penyelesaiannya pun sangat luar biasa. Disadari atau tidak ibarat obat, masalah itu lengkap dengan penyelesaiannya.
Sumber : telah ditulis penulis dalam buku berjudul The Stories of Move On
(((((((((((((((((((())))))))))))))))))
Hidayah, Tiada Tanding Tiada Banding
Hidayah, Tiada Tanding Tiada Banding
Oleh Darsono – SMK Negeri 6 Surakarta
Di masa jayanya
dunia warung internet (warnet) Sony dipercaya mengembangkan usaha warnet di
sekolahnya. Pelanggan warnet adalah para siswa di sekitar lingkungan sekolah
dan berkembang pesat ke masyakarat umum, hingga warnet yang sebelumnya tutup
jam pulang sekolah (sore) lama-lama dibuka 24 jam. Makin rame saja warnet yang diberi nama
VISKANET itu sampai memiliki pelanggan setia yang selalu datang tiap malam
hingga pagi hari dengan omzet yang cukup besar bisa membayar operasional, gaji
karyawan dan perawatan sendiri.
Sampai pada
akhirnya warnet mulai sepi karena alat semakin banyak yang rusak tidak terawat
karena kerusakannya cukup parah, hingga warnet sekolah dikontrak oleh pihak
luar. Inilah awal Sony terpuruk, pendapatan kedua (second salary) dari warnet hilang, baya cicilan rumah baru pun
mulai “megap-megap” karena tidak ada pemasukan. Mulailah Sony mencari tambahan penghasilan di
luar dan benar saja, mendapatkan pekerjaan sebagai penjaga warnet di Solo
Balapan. Berangkat jam 17.00 hingga malam dan dini hari dilaluinya dengan letih
lelah agar dapat mencukupi dan menutup angsuran rumah. Sambil tetap memohon pada Allah agar
diberikan jalan keluar dari masalah yang berat ini. Masalah yang belum pernah
dihadapinya selama hidup yakni terpuruk dalam hidup yang besar pasak daripada
tiang.
Suatu hari Sony
mendapatkan Chat/messenger dari Direktorat Menengah Kejuruan (Dikmenjur)
Jakarta untuk menjadi tenaga relawan penanganan korban Gempa Tsunami khusus
pendataan Gedung dan sekolah rusak, Sony langsung mengiyakan saja. Segala
resiko dipikir belakang, semua surat ijin dan prosedur birokrat dilalui
walaupun berat dan berliku. Sony berangkat ke Jakarta dan sesampainya di
Jakarta keesokan harinya langsung berangkat lagi ke Aceh. Sony mendapatkan
tugas penting yakni menjadi konsultan dan koordinator penanganan pendataan
sekolah rusak di seluruh wilayah Kab.Aceh Timur. Penugasan luar pulau ini
berjalan hampir 1,5 tahun lamanya, penugasan yang berat meninggalkan anak,
istri, mertua yang sudah tua renta. Namun Sony tetap berprinsip agar penugasan
ini lancar dan cepat selesai tanpa masalah yang berat. Sony tetap ingin pulang
dan berkumpul dengan keluaganya seperti keluarga yang lain.
Selepas pulang
tugas dari Kemendikbud kerjasama UNICEF dlm program penanganan pasca gempa tsunami
Aceh th 2006 Sony ingin berevolusi menjadi orang baik, ingin ibadah yg lbh
khusuk dari biasanya, ingin ngaji, ikut pengajian yg istiqomah hanya urusan
ibadah dg tujuan masuk surga selamat dari neraka. Fenomena alam Aceh yg dilanda
bencana gempa dan tsunami sungguh membuat bulu kuduk berdiri, ngeri, dahsyat
dan luar biasa kekuasaan Allah. Hanya beberapa menit bumi Aceh diterpa,
dihantam gempa tsunami dampaknya luar biasa. Tiada makhluk bumi yang bisa
melawan dan menghindari kejadian ini.
Pikiran Sony
hanya satu, ingin ikut ngaji yg benar, spt bukunya RA Kartini " Habis
Gelap Terbitlah Terang" di situ Kartini muda berdebat dengan gurunya kalau
dia ingin membaca Al Quran juga tahu artinya, tahu maknanya, tahu
keterangannya, dan tahu cara prakteknya. Maka Al Quran nya Kartini muda saat
itu dicoret-coret, diberi arti dan ditegur gurunya, kalau Al Quran itu tdk
boleh diberi tanda, tulisan, coretan.
Singkat cerita
Sony dikenalkan istri seorang kyai di desanya dan dijanjikan bertemu di Masjid
Baitul Rohman. Ketemulah keduanya, saat itu sedang ada pengajian umum remaja
desa, mubaligh yang tampil anak remaja yang fasih membaca Al Quran dan
memaknainya.
Malu-malu Sony
mendatangi kyai yang sedang duduk-duduk di serambi masjid bersama beberapa
jamaahnya sekaligus menunggui para remaja yang sedang mengaji.
"Assalamu Alaikum"......ucap salam
Sony.
"Wa alaikum salam" ...sambut kyai
Minto
"Pak Kyai,
Saya mau ikut ngaji di sini?" Pinta Sony.
"Emangnya
bapak dari mana?" tanya kyai Minto.
Saat itu memang
wajah Sony berpenampilan beda mirip orang Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang
sekarang berevolusi menjadi Partai lokal
GAM. sony berambut cepak militer, badan kekar, kulit agak hitam seperti
orang baru pulang perang. Jadi tidak kaget jika bapak kyai Minto bertanya
seperti itu.
"Saya
orang Kadipiro. (Solo). Baru pulang dari tugas dinas di Aceh. Dijelaskan baru
pulang dari Aceh mendapatkan tugas melakukan pendataan gedung sekolah korban
gempa Tsunami. Lalu pak Minto berjanji mengirim ustadz/mubaligh ke rumah untuk
dibimbing, belajar agama mulai dari nol banget, belajar mulai membaca Al-Qur’an
dan membaca hadist dan dali-dalil penting.
Sejak saat
itulah Sony memulai lembaran baru belajar ilmu agama yang benar-benar murni
dari awal mulai hadist tentang bersuci, berwudhu, sholat dalam hadist
Kitabussholah, kitab Adab, kitab Adillah, kitab Shaum dan lain-lain, tentunya
pengajian Al-Quran juga diperdalam secara maknawiyah (diartikan, dideres,
dijelaskan, diterangkan, dipraktekkan).
Apa ini artinya
hidayah, hidup Sony seperti mendapatkan perubahan baru yang positif, perubahan
yang pernah diimpikannya selama hidup, memiliki istri yang sholehah, anak yang
paham agama, tafidz Al-Quran dan mendapatkan rejeki di negeri sendiri. Dan
benar saja yang dirasakan selama ini sudah terjawab dengan jalan cerita Allah
secara sempurna. Sungguh sebuah jalan cerita yang luar biasa, tanpa disadari
semuanya berjalan seperti air mengalir.
Hidayah berarti perkara yang
paling penting dan kebutuhan yang paling besar mendasar dalam kehidupan
manusia. Betapa tidak, hidayah adalah sebab utama keselamatan dan kebaikan
hidup manusia di dunia dan akhirat. Sehingga barangsiapa yang dimudahkan oleh
Allah Ta’ala untuk meraihnya, maka sungguh dia telah meraih
keberuntungan yang besar dan tidak akan ada seorangpun yang mampu
mencelakakannya.
“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah,
maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat);
dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi
(dunia dan akhirat)” (QS al-A’raaf:178).
Hidayah itu sebuah
anugrah yang tidak ada yang jual dan tidak ada yang bisa membelinya. Hidayah
datang dan pergi seperti tercabutnya helai rambut yang diambil dari adunan
tepung. Harga hidayah benar-benar tidak ada harga yang pantas kecuali
mendapatkan ganjaran surga jauh dari neraka.
Bahwasannya tujuan hidup dunia hanyalah mengharapkan masuk surga dan
selamat dari neraka, itulah satu-satunya tujuan yang paling mulia diantara
tujuan kesuksesan manusia di dunia.
Hidayah datang
bukan sendirian, tetapi melalui perantara seseorang, bisa sengaja ataupun tanpa
kesengajaan. Seperti Sony ini yang mendapatkan hidayah dengan tanpa sengaja,
yang berkeinginan membaca Al-Qur’an dengan sedikit banyak langsung mengerti
maksudnya, mengerti artinya, setidaknya paham apa yang dibacanya. Tanpa sengaja
hadir saudara yang bertamu dengan tujuan mengenalkan produk kosmetik dan
kesehatan pada keluarga Sony. Obrolan bisnis sampai obrolan bab ibadah dan
mengaji sampailah pada suatu hari lain ibu itu datang lagi dengan membawa
dalil-dalil hadist yang sudah dicoret-coret (dimaknai dg bahasa Indonesia dan
Jawa) lengkap dan bisa menjelaskan secara baik dari tulisan tersebut seperti
menjelaskan kitab Kuning saja. Dari situlah sedikit demi sedikit keluarga Sony
mampu membuka diri untuk menerima hidayah dari ibu itu.
Tahun demi
tahun, bulan demi bulan berjalan hari demi hari berlalu hingga saat ini
keluarga Sony berada pada jalan yang lurus jalan menuju keluaga islami yang
dirahmati Allah diridhoi Allah masuk surga selamat dari neraka. Tugas membina
keluarga beribadah dengan tertib dan benar ibarat orang berjalan yang penting
selamat, orang ibadah yang penting benar. Ibarat orang berkasus hukum yang
penting bisa menang, ibarat orang yang salah atau disalahkan yang penting bisa
diringankan dan diampuni. Sony memastikan anak-anaknya rajin ibadah, bisa
“diramut” dalam naungan masjid, bisa mengerjakan sholat lima waktu dengan
tertib, biasakan diri menghafal Al-Quran dan Alhamdulillah satu per satu anak telah
mampu menyelesaikan beberapa juz dalam Al-Quran walaupun belum 100 % katam.
Namun perjalanan menuju hafal Al-Quran masih panjang dan berliku.
Memastikan
anak-anak menjalankan enam tabiat luhur yakni selalu jujur, amanah, rukun,
kompak, kerja sama yang baik dan hidup sederhana / hidup hemat. Keluarga Sony
memastikan anak-anak bergaul pada lingkungan yang benar, memiliki kawan teman
yang baik, bergaul dengan keluarga yang baik-baik agar tertular virus kebaikan
pada diri anak dan diri mereka pula. Saling mengingatkan, saling menasehati
dalam kebaikan dan berlomba dalam kebaikan, dan tolong menolog dalam kebaikan.
Sony selalu
menyakinkan pada anak-anak jika hidup di masyarakat harus bisa berbudi luhur,
bicara yang baik, sopan dalam tindakan dan santun dalam tutur kata, bicara “pahit madu”, tata krama,
selalu “takdim” pada orang tua dan
mengagungkan pada apa saja yang layak diagungkan seperti Al-Quran, Hadist,
kitab-kitab, buku-buku dan mengagungkan orang tua. Selalu berucap syukur
Alhamdulillah pada Allah, syukur pada orang-orang yang wajib disyukuri serta
berjalan dalam kebaikan dan selalu berdoa untuk kebaikan semuanya.
Sekarang hampir
15 tahun sudah berlalu peristiwa gempa tsunami yang melatarbelakangi Sony pergi
ke Daerah Istimewa Aceh untuk membantu sahabat, saudara se tanah air untuk
rekonsiliasi korban dan bangkit dari keterpurukan bencana yang dahsyat, telah
mengantarkan Sony dan keluarganya bangkit dari “keterbelakangan aqidah” menuju
kepahaman pada agama yang lurus, agama yang benar sesuai Qu’an Hadist. Gempa
tsunami telah memberikan hikmah yang besar kepada diri Sony. Sony ketemu banyak
orang di Aceh yang memberikan nasehat salah satunya adalah hidup di dunia yang
akan dicari apa kalau sudah seperti ini (gempa), semua berantakan, semua luluh
lantak dalam hitungan menit dan detik tidak berbekas, apa yang dikumpulkan
bertahun-tahun tidak ada artinya kecuali ibadah pada Allah, kecuali mengabdi
mencari kebaikan sebanyak-banyaknya untuk menuju keabadian. Sampai seorang ibu
rumah tangga istri seorang PNS di Aceh mengatakan bahwa sudah tidak ingin lagi
banyak keinginan duniawi (harta, benda, jabatan) dia hanya ingin mohon ampun,
diampuni Allah dan dapat diselamatkan oleh Allah dari azab dan siksaan.
Pada saat ini Kita telah berada di penghujung tahun 2019 dan
beberapa hari lagi akan memasuki tahun baru 2020 Masehi. Tentu setiap akhir dan
pergantian tahun memiliki makna yang sangat dalam bagi kehidupan manusia. Kedalaman makna itu dapat
dirasakan oleh setiap manusia itu sendiri, dimana pada satu sisi di awal tahun
baru sebagai tempat harapan untuk mencapai kesuksesan ke depannya, pada sisi
lain kegagalan yang terjadi di tahun sebelumnya janganlah terjadi di tahun yang
akan dijalani serta ada sisi lain yang pasti terjadi yaitu karena hidup manusia
pasti akan berkurang sesuai dengan jatah usia yang diberikan oleh Allah SWT.
Oleh karena itulah, manusia sangat perlu melakukan perenungan (tafakur)
terhadap diri sendiri. Di samping itu juga sebaiknya manusia melakukan muhasabah yaitu
melakukan evaluasi diri terhadap kebaikan dan keburukan yang telah dilakukan
dalam segala hal baik yang ada hubungannya dengan ibadah kepada Allah SWT
(hubungan vertikal) maupun ada sangkut pautnya dengan hubungan antara makhluk
terhadap perjalanan hidupnya (hubungan horizontal).
Tentu
dengan berakhirnya tahun 2019 ini sebagai momentum
untuk Kita gunakan sebagai bahan muhasabah terhadap diri Kita
masing-masing apakah di tahun yang akan Kita tinggalkan ini lebih banyak
nilai-nilai kebaikan dan ibadah kepada Allah SWT ataukah sebaliknya lebih
banyak nilai kejelekannya? Maka jawabannya ada pada diri kita masing-masing untuk
menilainya. Jika posisi Kita berada pada zona lebih baik dari tahun sebelumnya
maka Kita berada pada zona keberuntungan. Jikalau sama dengan tahun lalu maka
nilainya berada pada zona tertipu, tetapi sebaliknya jika lebih jelek dari
tahun sebelumnya maka Kita telah berada pada zona kerugian. Apabila lebih
banyak nilai kebaikan dan ibadahnya maka kita termasuk golongan orang-orang
yang beruntung, pun-demikian sebaliknya apabila banyak nilai kesalahan dan
dosa-dosanya, maka Kita termasuk dalam golongan orang yang merugi.
Maka,
beruntunglah Kita yang oleh Allah SWT diberi umur yang panjang banyak melakukan
amal kebaikan, sebagaimana Rasulullah SAW menyampaikan dalam hadis yang
artinya: “Sebaik-baik manusia ialah yang diberi umur panjang dan dia gunakan
untuk melakukan kebaikan, dan sejelek-jelak manusia apabila diberi umur yang
panjang tetapi dia gunakan untuk perbuatan kejelekan”. (HR: Ahmad).
Pada hadis yang lain Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Barang siapa
keadaan hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka dia beruntung dan
barangsiapa keadaan hari ini sama dengan hari hari kemarin dia tertipu dan
barangsiapa keadaan hari ini lebih jelek dari hari kemarin, berarti dia
terlaknat” (HR. Baihaqi)
Berdasarkan
hadis Rasulullah SAW di atas, manusia yang beruntung adalah manusia yang tahu
diri, tahu kemampuan yang ada padanya, tahu perhitungannya, mengetahui posisi
pribadinya dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh karena itu, kesadaran
akan pengawasan Allah SWT mendorong seseorang mukmin untuk dapat
melakukan muhasabah atau evaluasi diri terhadap amal
perbuatan, tingkah laku, sikap dan hatinya dalam hal ini adalah muraqabah yaitu
upaya diri untuk senantiasa merasa terawasi oleh Allah SWT dengan jalan
mewaspadai dan mengawasi diri sendiri.
Muhasabah dapat dilakukan sebelum dan sesudah melakukan amal perbuatan.
Sebelum melakukan sesuatu seseorang harus mempertimbangkan terlebih dahulu,
baik-buruknya, manfaat-mudharatnya serta menilai kembali motivasinya dalam
melakukan suatu amalan. Adapun muhasabah sesudah melakukan
amal perbuatan ada tiga macam, yaitu; 1) muhasabah hak Allah
SWT yaitu tentang keikhlasannya dalam beramal karena Allah SWT, kesesuaian
amalannya dengan petunjuk Rasulullah SAW, sikap ikhsannya dalam
beramal, 2) muhasabah pada amalan yang akan lebih baik tidak
dilakukan daripada melakukannya, dan 3) muhasabah terhadap
amalan mubah atau kebiasaannya. Kenapa dilakukan? Apakah dilakukannya untuk
mendapatkan ridha Allah SWT dan kehidupan akhirat? Jika memang mencari ridha
Allah SWT tentunya orang yang beramal akan beruntung, namun jika tidak maka dia
akan merugi.
Di antara
beberapa manfaat muhasabah antara lain; 1) untuk mengetahui
kelemahan diri manusia supaya dia dapat memperbaikinya. Karena orang yang tidak
mengetahui kelemahan dirinya, maka ia tidak akan mau mengubah pribadinya
menjadi lebih baik, 2) sebagai petunjuk manusia untuk tetap berada di jalan
yang diridhai oleh Allah SWT karena manusia dapat berhati-hati untuk tidak
melakukan sesuatu perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT, 3) selalu menganggap
diri penuh dengan kekurangan dan kelamahan dan tidak tertipu dengan amal yang
dilakukan, 4) membuat diri seseorang tidak merasa sombong atau takabbur karena
merasa yang terbaik dari manusia lainnya, 4) seseorang akan mampu memanfaaatkan
waktu dengan sebaik-baiknya untuk dapat melakukan suatu perbuatan yang positif
dan beribadah kepada Allah SWT, dan 5) untuk mengetahui hak Allah SWT karena
orang yang tidak mengetahui hak Allah SWT atas dirinya, maka ibadahnya tidak
akan bermanfaat bagi dirinya.
Oleh karena
itu, cara kita untuk bisa berada pada zona keberuntungan hidup adalah dengan
mensyukuri nikmat umur panjang yang diberikan Allah kepada kita adalah dengan
cara mengucapkan kalimah alhamdulillah dan banyak berbuat
kebaikan, beribadah kepada Allah SWT, menjalankan semua perintah-Nya dan
berusaha menjauhi larangan-Nya serta selalu mengikuti sunnah dan syariat yang
dibawa oleh baginda Rasulullah SAW. Sesungguhnya Allah memberikan umur dan
kesempatan hidup lebih panjang dan kesehatan ini merupakan anugerah yang sangat
besar dan tidak ternilai harganya dengan apapun, baik harta, rezeki, kedudukan
dan pangkat. Akan tetapi harus kita ingat dibalik anugerah yang besar tersebut,
manusia dituntut untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah SWT, sebagaimana Allah
berfirman dalam Al-Qur`an surat Adz-Dzariyat: 56 yang artinya: Dan aku
tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
Berdasarkan
ayat di atas, jelas tidak ada tujuan lain Allah SWT menciptakan manusia di
dunia ini kecuali hanya untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah SWT semata,
kata ibadah apabila diartikan secara lebih luas tidak hanya semata-mata ritual
ibadah semata, akan tetapi memaknai manusia sebagai khalifah fil-Ard yakni
melestarikan dan menjaga alam semesta ini, mengisi hal-hal yang membawa
kemanfaatan dan kebaikan bagi orang lain. Sesungguhnya kita manusia diberikan
amanah oleh Allah SWT untuk
menjadi khalifah di muka bumi ini yang bertugas untuk mengolah, mengatur dan
menyelenggarakan sesuatu kehidupan yang damai, adil dan makmur, sejahtera,
bahagia untuk meraih kemaslahatan kehidupan yang berlandaskan agama, al-Qur`an
dan al-Hadis. Tegasnya, tugas kita sebagai manusia adalah mendapatkan kebahagiaan dan kemaslahatan di
dunia ini untuk mempersiapkan bekal kepentingan akhirat. Dua macam tujuan hidup inilah yang harus kita upayakan
di dunia dengan cara meningkatkan semangat dan etos kerja yang tinggi, dan
selalu beribadah kepada-Nya.
Memasuki tahun 2020 kita
semua berharap bisa menjadi pribadi yang lebih baik, pribadi yang berakhlakul
karimah, pribadi yang mulia di mata Allah dan manusia. Walaupun tahun demi
tahun sesungguhnya makin rusaknya akhlak manusia sebagaimana dalil : ” tidak akan datang suatu tahun, kecuali tahun sesudahnya
akan lebih jelek dari tahun sebelumnya”. (Hr. Bukhori). Bersabarlah,
sebab tidaklah kalian menjalalni suatu zaman, melainkan sesudahnya lebih buruk
daripadanya, sampai kalian menjumpai rabb kalian. Aku mendengar hadit ini dari
Nabi kalian Shallallahu'alaihiwasallam.' [HR.
Bukhari No.6541].
Bertambahnya tahun maka semakin jeleklah tahun itu (dipandang
dari sisi Agama) , jeleknya bukan dalam konteks duniawi seperti
perkembangan teknologi melainkan moral dan akhlak yang semakin rusak, kita
pun tahu orang orang zaman dulu ketika bergaul masih malu-malu apalagi bergaul
dengan yang berbeda jenis, ta’dzim seorang anak kepada orang tua juga sudah
berbeda, dan sekarang sudah banyak anak anak yang melakukan kegiatan
kedewasaan, hal tersebut menunjukkan bahwa kerusakan moral dan akhlak
telah terjadi.
Tugas kita semua adalah mengawal tahun baru menjadi awal
tahun yang memperbaiki, yang menyemangati, yang menjanjikan, yang menghadirikan
kesejukkan, kenyamanan, masa depan dan harapan yang setinggi-tingginya untuk
kebaikan semuanya. Sebagai seorang Sony juga berharap besar untuk selalu
menjadi pribadi yang banyak bersyukur, banyak berdoa dan banyak istighfar serta
banyak beramal sholeh. Karena hanya seperti inilah mata uang yang akan menjadi
alat tukar nanti di akhirat, bukan mata uang rupiah, dollar bukan pula mata
uang cripto currency, tapi mata uang
amalan, mata uang ibadah berupa mata uang amal sholeh. Oleh karena itu modal
untuk memperbaiki diri adalah :
1.
Berhenti
Berpikir Negatif
2.
Berhenti
Menjadi Pemalu dan Tunjukkan Siapa Dirimu!
3.
Berhenti
Bergosip
4.
Berhenti
Menunda Hal Penting
5.
Berhenti
Melakukan Hal-Hal yang Merugikan
6.
Berhenti
Galau-in Mantan
Sumber : telah ditulis penulis dalam buku berjudul The Stories of Move On
(((((((())))))))))))











