Powered by Blogger.

Peserta CGP Angkatan 4 Kota Surakarta

Calon Guru Penggerak Mengikuti Lokakarya 3 di Hotel Royal Herritage Solo

Mural Untuk Solo Bangkit

Tergerak, Bergerak, Menggerakkan

Pengelolaan Kelas Daring di SMK N 6 Surakarta

Selama masa pandemi pembelajaran hanya bisa secara daring guru dituntut bisa menggunakan aplikasi meeting.

Kangguru Mas Guru

Filosofi Semar pada Pewayangan Jawa yang ngemong, momong dan tut wuri handayani .

Foto Section CGP angkatan 4 Kota Surakarta

Berlangsung di Lokakarya 3 - Hotel Royal Herritage Solo.

Foto Section CGP angkatan 4 Kota Surakarta

Berlangsung di Lokakarya 3 - Hotel Royal Herritage Solo.

Showing posts with label Kisah Inspiratif. Show all posts
Showing posts with label Kisah Inspiratif. Show all posts

Saturday, March 19, 2022

Minyak Goreng yg Tergoreng

𝗞𝗮𝗹𝗶𝗮𝗻 mau minyak goreng itu 𝗺𝘂𝗱𝗮𝗵 di dapat dgn harga 𝗦𝘁𝗮𝗻𝗱𝗮𝗿 ?
Cobalah Kalian berhenti jadi org yg 𝗵𝗲𝗯𝗼𝗵 sendiri, belilah seperlunya dan berhenti lah jadi pedagang 𝗠𝗶𝗻𝘆𝗮𝗸 𝗱𝗮𝗱𝗮𝗸𝗮𝗻. 
Jangan memperparah keadaan dgn ikut dalam rantai kartel 𝗺𝗶𝗻𝘆𝗮𝗸

Loh kok gitu?...
Gini ya... 
pertama 𝗽𝗲𝗺𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗮𝗵 itu sudah membuat 𝗿𝗲𝗴𝘂𝗹𝗮𝘀𝗶 sistem minyak 1 harga. 
Kalian yg 𝗵𝗲𝗯𝗼𝗵.. 
Pedagang  bukan, pelaku usaha di bidang makan juga bukan, tapi heboh beli banyak untuk stok di rumah, padahal untuk rumah tangga 2 liter itu bisa sampai 4 atau 5 hari bahkan bisa sampai seminggu kecuali kalian minum.

Akibat heboh seperti itu muncul lah kesan nya seolah olah minyak keluar langsung habis, gitu terus. 
Lantas muncullah ide orang sakti mandraguna untuk di 𝘁𝗶𝗺𝗯𝘂𝗻 dulu minyaknya.

Ketika situasi sudah benar-benar kacau, baru lah keluar 𝗠𝗶𝗻𝘆𝗮𝗸 dengan harga lebih tinggi. Akibat permintaan banyak dan heboh, muncul pedagang dadakan jual 𝗠𝗶𝗻𝘆𝗮𝗸 𝘖𝘯𝘭𝘪𝘯𝘦, harga inbok harga bisa di setel suka suka dan bisa ambil sekali puluhan atau ratusan dus tergantung modal... 
Akibatya grosir yg biasa dapat pasokan banyak, tidak kebagian lagi, hingga akhirnya terjadi kelangkaan  𝗺𝗶𝗻𝘆𝗮𝗸.

𝗣𝗲𝘀𝗮𝗻 untuk 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗮 belilah seperlunya...
Tidak usah 𝘔𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝗽𝗲𝗺𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗮𝗵, cukup pake akal 𝗟𝗼𝗴𝗶𝗸𝗮𝗺𝘂. 
Terapkan ini selama paling tidak seminggu, mungkin minyak goreng itu biasa lagi seperti  sedia kala dan 𝗽𝗲𝗻𝗷𝘂𝗮𝗹 𝗼𝗻𝗹𝗶𝗻𝗲 pun akan hilang sendirinya.
𝗞𝗮𝗹𝗮𝘂 ada yg tersinggung berarti 𝗞𝗢𝗣𝗜 𝗠𝗨 KURANG PAHIT 🙏.

Maaf kalo tersinggung bukan maksudku untuk menyindir tapi memang itu kenyataannya bagi ku biar lah Mahal asal ada 🙏🙏🤗

#foto hanya pemanis.

Wednesday, September 8, 2021

Cerpen Fiksi

*KAKAK BERADIK 👨‍👩‍👦‍👦👩‍👩‍👧*
_Menyentuh, menginspirasi sekali__
_Cerpen Fiksi_semoga bisa diambil hikmahnya 

Drrttt ... drrttt ... drrrtttt ....
Ponselku berdering. Gegas aku meraih benda pipih kesayanganku yang tak lagi bisa berdering sempurna tersebut di atas televisi. 

Kak Nilam memanggil.
Kuusap layar yang telah buram sesaat, sebelum mengangkat panggilan dari kakak tertuaku.

"Assalamu'alaimum, Kak," sapaku terlebih dahulu. 

"Walaikumsallam, Lisa. Besok, aku sama Ferdi mau ke sana. Kangen sama rumah lama," sahut Kak Nilam langsung memberi kabar yang membuat aku termangu. 

Setelah kepergian ibu 3 tahun silam, ini kali pertama kakak dan adikku yang kehidupannya telah sukses di kota menyambangiku kembali.

Dulu memilih menetap di kampung demi menjaga ibu yang telah sepuh. Sampai akhirnya aku menikah dengan Mas Waris yang berasal dari satu kampung.

"Lisa? Kamu masih di situ, kan?" 

"Eh, i-iya Kak. Iya. Besok, aku akan masakin makanan yang pasti Kak Nilam dan Ferdi suka," sahutku berusaha ceria. 

"Makasih ya, Lis!" 

Setelah bertukar salam, aku meletakkan ponsel kembali di atas televisi. Hatiku dilanda resah. Beras untuk makan kami berempat hanya tersisa untuk besok saja. Bila Kak Nilam dan Ferdi datang sekeluarga, itu artinya akan bertambah dua kali lipat. 

Mas Waris hanya seorang pekerja serabutan. Sudah seminggu ia belum bekerja. Kadang ajakan kerja ada, tapi jarak tempuh jauh, sedangkan kendaraan yang kami miliki hanya sebuah sepeda tua. Bila sudah begini, untuk biaya hidup kami, aku tak segan menyusuri sungai kecil dan rawa-rawa. 

Mengais rejeki dengan memetik kangkung dan genjer yang tumbuh di tepi sungai dan rawa untuk diikat, lalu kutawarkan pada warga kampung adalah yang lumrah bagiku. Tak banyak memang hasilnya, tapi cukup sekedar untuk membeli beras.

"Mas, besok Kak Nilam dan Ferdi mau datang," ucapku pada Mas Waris yang sedang membolak-balik tanah pekarangan yang sempit dengan cangkul untuk menanam cabai dan tomat.

Mas Waris menatapku sesaat, lalu meletakkan cangkul. Seolah mengerti kerisauanku, dia berkata," aku akan periksa 'Bubu' di sungai.

Aku mengangguk dan menatap punggung pejuang nafkahku itu hingga kejauhan.  Untuk lauk, kami memang selalu mengandalkan hasil perangkap ikan bernama 'bubu' yang dipasang di sungai. 

Pandanganku kini beralih pada dua ekor ayam jantan kesayangan Widan-anak bungsuku yang berusia 6 tahun. Bergegas aku ke kamarnya. 

"Nak, besok Indah sama Faris mau datang. Boleh enggak, ayamnya ibu tukar sama beras dulu? Nanti kalau ada uang, ibu beli ayam yang baru?" kuusap lembut kepala anakku sambil bertanya.

Wildan menatapku sebentar, lalu mengangguk. Mendengar sepupunya yang sebaya akan datang saja, dia sudah sangat senang. 

"Terima kasih, Nak," kucium penuh haru pucuk kepala anakku. 

Tanpa pikir panjang aku langsung menangkap dua ekor ayam jago tersebut, lalu membawa ke warung sembako terdekat. 

Setelah tawar menawar sebentar,  akhirnya aku berhasil membawa pulang beras sebanyak 5 kg, bawang merah, bawang putih, minyak goreng, telur, gula, teh, dan kopi secukupnya. Tak lupa kubeli beberapa bungkus jajan untuk menyambut keponakanku besok. 

Keesokan harinya, Kak Nilam dan Ferdi benar-benar datang dengan mengendarai mobil masing-masing. Aku tersenyum bahagia dengan pencapaian dua saudaraku tersebut. Istri Ferdi seorang wanita karir, dan suami Kak Nilam seorang pengusaha sukses.

Wajar jika dulu mereka berdua langsung menyerahkan begitu saja, rumah peninggalan orang tua kami beserta seluruh isinya padaku dan Mas Waris.

Walau terbersit rasa minder, namun aku tetap menyambut kedua saudaraku yang datang tepat di jam makan siang tersebut dengan senyum lebar. Aku langsung mengajak mereka bersantap dengan menu yang sangat sederhana. 

Ikan gabus dan telur bumbu bali, tumis kangkung, kulupan jantung pisang, dan   ikan puyu bakar dilengapi cacapan mangga muda rupanya menggugah selera kedua saudaraku. Beruntung, keponakan dan ipar-iparku dari kota juga menyukai makanan ala desa yang kusuguhkan.

"Berasa makan masakan ibu," gumam Ferdi  setelah makan. 

Aku dan Kak Nilam tersenyum. Dulu menu yang kusuguhkan memang akrab dengan mereka berdua saat kami masih tinggal bersama. 

Usai makan siang, Kak Nilam dan Ferdi berjalan-jalan sambil mengenang masa kecil mereka dengan tetangga sekitar.  Anak-anak kami pun bercengkrama hingga sore hari. 

Malam hari, kami melanjutkan obrolan dengan bernostalgia mengenang saat-saat kedua orang tua kami masih lengkap. Sesekali Ferdi dan Kak Nilam bertanya tentang kegiatan Mas Waris.

***
Keesokan paginya, Kak Nilam dan Ferdi sudah siap-siap ke kembali ke kota. Malu-malu aku menyuguhkan sarapan nasi goreng putih seadanya dan telur dadar sebelum mereka pulang. 

Tapi Kak Nilam dan Ferdi begitu senang menikmati makanan, yang selalu mereka kaitkan dengan masakan ibu. Ya, dulu itu memang menu sarapan andalan kami sebelum berangkat sekolah.

Ah, aku begitu terharu. Kak Nilam dan Ferdi, membuat aku yang tak punya apa-apa ini merasa begitu dihargai. Sayangnya, tak ada  apa-apa yang bisa kuberikan pada mereka sebagai oleh-oleh layaknya orang yang baru saja pulang kampung.

Saat hendak pulang, Susan-anak Kak Nilam merengek ingin membawa satu-satunya boneka kesayangan Dila anak pertamaku. Dila langsung merelakan bonekanya dibawa oleh Susan. Aku senang, karena masih ada yang bisa kuberikan pada keponakanku yang tak kurang apapun itu. 

Aku melepas kepergian kedua saudaraku dengan air mata berlinang. Sungguh, aku masih rindu. Dulu, dengan selisih usia masing-masing 2 tahun, tak ada hari yang terlewatkan tanpa pertengkaran antara kami bertiga. Tapi itulah cara kami bertiga berbagi kasih sayang. 

Aku berbalik membawa kesedihanku ke rumah. Dila dan Wildan pun banyak diam. Aku merasa bersalah, karena mengorbankan ayam kesayangan Wildan, dan boneka Dila. Aku janji, akan mengganti  secepatnya bila ada rejeki nanti. 

Beberapa saat kemudian, pintu rumah di ketuk. Pak Zainal, pemilik warung langgananku datang menyerahkan sebuah kardus besar, lalu menurunkan dua karung beras dengan bobot masing-masing 20 kg, dari sepeda motornya.

"Buat siapa ini, Pak?" tanyaku heran.

"Ya buat Mbak Lisa, toh. Kemaren kakaknya Mbak jalan-jalan ke warung, dan beli ini semua katanya titip buat Lisa. Tapi pesannya kalau mereka sudah pulang baru boleh saya antar."

Hanya ucapan terima kasih yang mampu kuucapkan setelah mendengar jawaban dari Pak Zainal. Selanjutnya, air mata jatuh tanpa bisa kukendalikan melihat isi kardus. Sembako lengkap, cukup bahkan lebih bagiku yang terbiasa irit untuk hidup sebulan ke depan. 

Aku menelpon dan mengucapkan terima kasih pada adik dan kakakku bergantian, sambil terisak. 

Dua hari kemudian, sebuah mobil Pick Up berwarna hitam singgah di depan rumah, dan tiga orang dengan cekatan menurunkan sebuah sepeda motor bekas tapi masih sangat layak pakai, dan sebuah kardus. 

Aku tercengang saat pengantar barang mengatakan titipan dari Ferdi dan Kak Nilam. Sebuah kardus dengan tulisan untuk Dila dan Wildan langsung di serbu oleh kedua anakku.

Aku sendiri langsung meraih ponsel ingin menelpon kedua saudaraku. Tapi, terlebih dahulu pesan dari mereka berdua masuk. 

[Istriku beli motor baru, daripada yang satu tidak terpakai mungkin bisa digunakan oleh Kak Waris kerja, atau ngantar kakak kemana-mana] pesan dari Ferdi. 

Ah, adik kecilku itu, dia hanya tak mau mengakui terang-terangan bahwa kasihan padaku, kakak yang dulu sering membuatnya menangis karena  kalah saat rebutan jajan, walau akhirnya tetap lebih banyak untuk Ferdi. 

Dengan tangan gemetar kubalas pesannya. Aku lupa niatku tadi menelpon. 

[Tapi ini mahal, Fer. Apa istrimu enggak keberatan?]

[Enggak Kak. Itu engga ada apa-apanya dibanding waktu dan tenaga yang Kakak habiskan, dua tahun mengurus ibu sakit seorang diri dulu] balasan dari Ferdi yang membuatku luruh dalam tangis haru. Mas Waris pun ikut menitikkan air mata di sebelahku.

Aku menoleh pada kedua anakku di samping Kardus tersebut berisi 3 boneka baru, dan beberapa lembar baju untuk mereka berdua. Kubuka pesan dari Kak Nilam. 

[Kemaren Susan sama Rudi jalan-jalan ke Mall. Banyak barang diskonan, jadi  beli sekalian buat Dila dan Wildan. Dan anting itu, aku sudah bosan sama modelnya. Kayaknya cocok di telingamu] 

Aku tertegun. Anting? Kurogoh bagian bawah di dalam kardus, dan benar ada sebuah kotak kecil. Tanganku gemetar membuka kotak tersebut. Ini anting Kak Nilam yang dia pakai saat kesini kemaren. Aku segera menelponnya. 

"Kak, apa-apaan ini. Ini anting mahal. Yang kerja Kak Rahman bukan Kakak. Ini berlebihan. Nanti kukembalikan aja," tolakku benar-benar sungkan pada suaminya walau aku tahu, harga benda tersebut mungkin hanya senilai uang jajan anak Kak Nilam sebulan. 

"Kalau kamu mau kembalikan, berarti kamu enggak anggap aku kakakmu? Bukankah Kakak memang harus berbagi dengan adiknya? Kamu lupa, dulu aku sering mengambil jatah uang sakumu dan membuat ibu marah? Kata ibu, kakak itu harusnya memberi adiknya, bukan mengambil!" ucap Kak Nilam sambil tertawa kecil kembali mengingat masa kecil kami.

Aku tak kuasa menahan air mata. Setelah mengucapkan terima kasih, aku langsung menutup sambungan telpon dan menumpahkan tangis bahagia sambil memeluk kedua anakku. 

Terngiang kembali ucapan ibu sewaktu kami bertiga sering bertengkar dulu. "Terus saja betengkar, nanti kalau kalian sudah punya keluarga masing-masing dan saling berjauhan, baru kalian tahu apa artinya saudara."

Dan kini aku tahu, bahwa saudara kandung itu lebih berharga daripada harta dan tahta. 

Kakak beradik ....
Dilahirkan dari rahim yang sama.
Dibesarkan dengan makanan yang sama.
Tinggal di dalam rumah yang sama. 
Namun di atas nasib dan takdir yang berbeda. 

Saudara yang hidup dalam kekurangan belum tentu ujian untuk hidupnya sendiri. 
Bisa jadi kekurangannya juga ujian bagi saudaranya yang lebih mapan. 

Ujian untuk melihat, apakah yang mapan akan membentang jarak lalu melambaikan tangan dan menjauh, atau sebaliknya memangkas jarak lalu mengulurkan tangan, hingga keduanya bisa berdiri sejajar.

#Repost_dari_KBM_Old.. 
Baru sempat baca nih🙏 Harus menyiapkan tissue untuk menyapu air mata😭😭. Sangat menginspirasi sekali . Sebagai pesan pengingat untuk diri sendiri.
Semoga semakin sering menjalin silaturahmi dg saudara sendiri. Walau dengan jarak yang jauh diseberang pulau walau hanya deringan telepon yang memanggil hati menjadi senang. Masyaallah. 

 Alhamdulillah luar biasa inspirasi ini🤲 Terimakasih👍👍

Saturday, September 4, 2021

Elang dan Ular

*Mengubah pola DO'A*

Elang tidak melawan ular di tanah
Ia mengangkatnya ke langit dan mengubah medan pertempuran dan kemudian membawa terbang ular itu ke langit.
Ular itu tak lama kemudian jadi tidak memiliki stamina, tidak memiliki kekuatan dan tidak ada keseimbangan di udara, juga tidak berguna, lemah dan rentan tidak seperti di tanah dimana ia sangat kuat dan mematikan..

Jika kita umpamakan ular itu adalah persoalan hidup yang melilit kita maka bawalah persoalan kita itu ke alam spiritual (ke langit) dengan berdo'a 

Dan ketika kita berada di alam spiritual, maka Allah pun segera akan mengambil alih pertempuran tersebut..

Jangan melawan musuh di zona nyamannya ubah Medan pertempuran seperti elang dan biarkan Allah mengambil alih melalui do'a tulus kita..

Mari tetap berjuang menuju kemenangan,
Jangan pernah lelah/mengeluh

Yakini semua pasti akan baik dan indah pada akhirnya..

#JanganLupaBersyukur
Dikutip dari ; FB Wirausaha Yuk

Friday, September 3, 2021

Makanan Gosong

MAKANAN GOSONG TIDAK MENYAKITI SIAPAPUN...
Mantan presiden India, DR. Abdul Kalam berkata:
“Waktu aku masih kecil, ibuku memasak makanan untuk kami. Suatu malam dia membuat makan malam setelah seharian bekerja keras,
Ibu meletakan sepiring ‘sabzi’ dan roti gosong didepan Ayahku.

Aku menunggu untuk melihat apakah ada respon negatif dari ayah terhadap  roti gosong itu. 

Ternyata Ayahku tenang saja makan rotinya, ayah bertanya padaku bagaimana  kegiatan disekolahmu hari ini.?

Aku tidak ingat apa yang kukatakan padanya malam itu, tapi yang aku ingat aku mendengar Ibu meminta maaf kepada Ayah atas roti yang gosong itu.

Aku tak akan pernah lupa yang ayah katakan.., sambil tersenyum ayah mengatakan ;
“Sayang..., aku sesekali  suka makan roti gosong” sambil mencium kening ibu

Malamnya, sebelum tidur... aku mencium Ayah, mengucapkan selamat malam. Aku bertanya apa Ayah benar-benar menyukai rotinya yang gosong.

Ayah memelukku: 

“Ibumu melalui hari yang berat dengan pekerjaan hariannya dari bangun sampai tidur lagi,   dan tentu ibumu benar-benar lelah.

Roti gosong tidak pernah menyakiti siapapun, Kata-kata kasarlah yang akan "menyakiti” hati ibumu.

“Kau tahu nak..? hidup ini penuh dengan hal-hal yang tidak sempurna dan orang-orang yang tidak sempurna. 

Ayahpun bukan lelaki sempurna, belajarlah untuk menerima "ketidak sempurnaan itu”... supaya kamu bisa menikmati kebahagiaan bersama keluargamu nanti....

Dikutip dari FB Aneka Makanan

Tanah dan Emas

EMAS berkata pada TANAH “Coba lihat pada dirimu, suram dan lemah, apakah engkau memiliki cahaya mengkilau seperti aku.......???
Apakah engkau berharga seperti aku....... ???”
TANAH menggelengkan kepala dan menjawab, “Aku bisa menumbuhkan bunga dan buah, bisa menumbuhkan rumput dan pohon, bisa menumbuhkan tanaman dan banyak yang lain, apakah kamu bisa....... ???”

EMAS pun terdiam seribu bahasa......!!!!! Dalam hidup ini banyak orang yang seperti EMAS berharga, menyilaukan tetapi tidak bermanfaat bagi sesama.
Sukses dalam karir, rupawan dalam paras, tapi sukar membantu apalagi peduli.

Tapi ada juga yang seperti TANAH. Posisi biasa saja, bersahaja namun ringan tangan siap membantu kapanpun.
.
Makna dari kehidupan bukan terletak pada seberapa bernilainya diri kita, tetapi seberapa besar bermanfaatnya kita bagi orang lain.
Jika keberadaan kita dapat menjadi berkah bagi banyak orang, barulah kita benar- benar bernilai.
.
Apalah gunanya kesuksesan bila itu tidak membawa manfaat bagi kita, keluarga dan orang lain.
Apalah arti kemakmuran bila tidak berbagi pada yang membutuhkan.
Apalah arti kepintaran bila tidak memberi inspirasi di sekeliling kita.
Karena hidup adalah proses, ada saatnya kita memberi dan ada saatnya kita menerima.
.
.
Repost @semangatberbagi_official

Wednesday, September 1, 2021

kaya itu keniscayaan sebagai Insan Ekonomi

Membaca tulisan Bp.Mario Teguh seperti image di bawah ini :

Telah mengundang netizen dengan komentar berikut :
*Hidup bukan untuk cari kaya pak..Tapi cari bahagia.. Kaya bukan jaminan orang bahagia Tapi bagi yang bahagia itu lah orang kaya* sebenarnya. 
Namun jawaban Mario Teguh sang Motivator itu cukup telak dan mencerahkan. Seperti ini jawabannya:
Putra Marapi Yang banyak uang saja, belum tentu bahagia, apalagi yang tidak punya uang.

Sulit sekali untuk berbahagia saat tidak ada uang untuk membiayai kesehatan dan kesejahteraan orang tua, keluarga, dan diri sendiri.

Kurangi menggunakan slogan yang digunakan oleh orang yang menyepelekan nilai uang bagi kebaikan hidup.

Kita ini insan ekonomi. 

Uang memang bukan segalanya, tapi hampir segalanya butuh uang.

Sebaiknya kita lebih ikhlas menerima keharusan untuk bertangggung-jawab bagi kesejahteraan kita dan keluarga tercinta.

Kaya itu bukan berlebihan, kaya itu mampu membangun kehidupan dunia yang baik, yang memantaskan kita bagi kehidupan akhirat yang baik.

Semoga Anda dan keluarga tercinta dilimpahi dengan rezeki penuh berkah.

Aamiin ... 🙏💖🙏

Dikutip dari FB Mario Teguh.

Bagaimana menurutmu??

Sunday, August 22, 2021

Guru Abdi Siswa

 UNTUK SAUDARAKU YG TERLANJUR JADI GURU



Kenapa Sang Guru awet muda?

Karena selalu bekerja dengan penuh kebahagiaan serta ketulusan mendampingi siswa yang dinamis.


Kenapa Sang Guru selalu selamat?

Karena tiap pagi menyambut anak dan siswa mendoakan "Assalamu'alaikum".


Kenapa Sang Guru banyak amalannya?

Karena setiap saat ia dengan ikhlas menginfakkan ilmunya pada siswa.


Kenapa Sang Guru sangat berjasa?

Karena kita semua hadir bisa membaca dan menulis serta berprofesi apapun karena jasanya.


Kenapa Sang Guru kelak dijanjikan kebahagiaan oleh-Nya?

Karena meski telah wafat ia masih dapat kiriman pahala karena amal jariyah ilmunya yang diamalkan siswanya.


Maka .....

Berbahagialah wahai para guru, ibu bapak akan dapat kemuliaan di dunia dan akherat. Dengan syarat kita menjalankan tugas diniati ibadah serta dengan penuh kesabaran dan keikhlasan membimbing/mendampingi siswa yang diamanahkan pada kita.


Semoga Allah SWT memberikan kesehatan, kesabaran, ketulusan dan keikhlasan bagi kita semua wahai Sang Guru.... Aamiin yaa Robb... 🤲🤲🤲🤲...semangaaatt.

Pengemis Buta yang amanah

 Kisah inspiratif ini saya bagikan ke anda .

.....

....


Saturday, August 21, 2021

BJ HABIBIE

REALITA .....
BJ HABIBIE
Ternyata kembali ke nol .... tidak ada yang dapat  dibanggakan.... dulu bangga dengan jabatan apa itu Nakhoda apa itu KKM apa itu Direktur apa itu Bos perusahaan  besar     ... busiiiit semua 🤭🤭🤭😭😭😭😭😭😭.   

                           

Ungkapan Hati BJ Habibie soal akhirat  yang bikin merinding
8 Jan 2019

NONSTOPNEWS.ID - Pidato BJ Habibie viral. Mantan Presiden RI ini menuliskan tentang kisah hidupnya.

SAAT KEMATIAN ITU KIAN DEKAT.

KALAULAH SEMPAT ? Renungan utk kita semua !!!!
--------------------( by BJ Habibie ketika berpidato di Kairo, beliau berpesan "Saya diberikan kenikmatan oleh Allah ilmu technology sehingga saya bisa membuat pesawat terbang, tapi sekarang saya tahu bahwa ilmu agama itu lebih bermanfaat untuk umat .Kalo saya disuruh memilih antara keduanya maka saya akan memilih ilmu Agama." )

Sepi penghuni...
Istri sudah meninggal...  
Tangan menggigil karena lemah...
Penyakit menggerogoti sejak lama...
Duduk tak enak, berjalan pun tak nyaman... Untunglah seorang kerabat jauh mau tinggal bersama menemani beserta seorang pembantu...

Tiga anak, semuanya sukses... berpendidikan tinggi sampai ke luar negeri...
» Ada yang sekarang berkarir di luar negeri... »
Ada yang bekerja di perusahaan asing dengan posisi tinggi... »
Dan ada pula yang jadi pengusaha ...

Soal Ekonomi, saya angkat dua jempol » semuanya kaya raya...

Namun....
Saat tua seperti ini dia "merasa hampa", ada "pilu mendesak" disudut hatinya..

Tidur tak nyaman...
Dia berjalan memandangi foto-foto masa lalunya ketika masih perkasa & enegik yg penuh kenangan

Di rumah yang besar dia merasa kesepian, tiada suara anak, cucu, hanya detak jam dinding yang berbunyi teratur...

Punggungnya terasa sakit, sesekali air liurnya keluar dari mulutnya....
Dari sudut mata ada air yang menetes.. rindu dikunjungi anak-anak nya

Tapi semua anak nya sibuk dan tinggal jauh di kota atau negara lain...
Ingin pergi ke tempat ibadah namun badan tak mampu berjalan....

Sudah terlanjur melemah...

Begitu lama waktu ini bergerak, tatapannya hampa, jiwanya kosong, hanya gelisah yang menyeruak...
sepanjang waktu ....   

Laki-laki renta itu, barangkali adalah Saya... atau barangkali adalah Anda yang membaca tulisan ini suatu saat nanti_
Hanya menunggu sesuatu yg tak pasti...
yang pasti hanyalah KEMATIAN.
Rumah besar tak mampu lagi menyenangkan hatinya..._
Anak sukses tak mampu lagi menyejukkan rumah mewahnya yang ber AC...
Cucu-cucu yang hanya seperti orang asing bila datang..._
Asset-asset produktif yang terus menghasilkan, entah untuk siapa .?

Kira-kira jika malaikat "datang menjemput", akan seperti apakah kematian nya nanti.

Siapa yang akan memandikan ?

Dimana akan dikuburkan ??

Sempatkah anak kesayangan dan menjadi kebanggaannya datang mengurus jenazah dan menguburkan?

Apa amal yang akan dibawa ke akhirat nanti?
Rumah akan di tinggal, asset juga akan di tinggal pula...
Anak-anak entah apakah akan ingat berdoa untuk kita atau tidak ???
Sedang ibadah mereka sendiri saja belum tentu dikerjakan ???
Apa lagi jika anak tak sempat dididik sesuai tuntunan agama???  Ilmu agama hanya sebagai sisipan saja..._

"Kalau lah sempat" menyumbang yang cukup berarti di tempat ibadah, Rumah Yatim, Panti Asuhan atau ke tempat-tempat di jalan Allah yang lainnya...

"Kalau lah sempat" dahulu membeli sayur dan melebihkan uang pada nenek tua yang selalu datang......  

"Kalau lah sempat" memberikan sandal untuk disumbangkan ke tempat ibadah agar dipakai oleh orang yang memerlukan.....  

"Kalau lah sempat" membelikan buah buat tetangga, kenalan, kerabat, dan handai taulan... 

Kalau lah kita tidak kikir kepada sesama, mungkin itu semua akan menjadi "Amal Penolong" nya ...

Kalaulah dahulu anak disiapkan menjadi 'Orang yang shaleh', dan 'Ilmu Agama' nya lebih diutamakan

Ibadah sedekahnya di bimbing/diajarkan & diperhatikan, maka mungkin senantiasa akan 'Terbangun Malam', 'meneteskan air mata' mendoakan orang tuanya.

Kalaulah sempat membagi ilmu dengan ikhlas pada orang sehingga bermanfaat bagi sesama...

"KALAULAH SEMPAT"

Mengapa kalau sempat ?
Mengapa itu semua tidak jadi perhatian utama kita ?  Sungguh kita tidak adil pada diri sendiri.  Kenapa kita tidak lebih serius? 
Menyiapkan 'bekal' untuk menghadap-Nya dan 'Mempertanggung Jawabkan kepadaNya?
Jangan terbuai dengan 'Kehidupan Dunia' yang  bisa  melalaikan.....

Kita boleh saja giat berusaha di dunia....tapi jadikan itu untuk bekal kita pada perjalanan panjang & kekal di akhir hidup kita.

( bagi yang  menyebarkan catatan ini semoga menjadi sodaqoh ilmu & ladang amal Shaleh)_

Teruslah menjadi  "si penabur  kebajikan" selama hayat masih dikandung badan meski hanya sepotong pesan.

Semoga Bermanfaat...🙏

Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie

#fhotohanyapemanissaja😍🙏🎉🎉🎉

Saturday, August 14, 2021

Terpuruk itu Bukan Terburuk

 

TERPURUK ITU BUKAN TERBURUK

Oleh : P.Son 

 


Malam itu Amar kedatangan kawan senior di ruang kerjanya, warung internet (warnet), namanya Anto,. Say Hallo dan mereka ngobrol tentang keseriusan bisnis warnet saat itu yang naik daun di tahun itu (2002). Dari awal Amar sudah curiga mengapa Anto datang malam-malam begini, pasti ada hal yang penting. Kalau tidak kenapa datang, ini tidak biasanya ! Pikirnya. Benar saja, belum genap 30 menit ngobrol Anto sudah mulai utik-utik warnet, dia katakan kalau warnet ini juga ada perannya, ada partisipasinya saat itu. Makanya dia berpesan kalau warnet ini dijaga yang benar agak kepercayaan yang didapati Amar tidak luntur. Menurutnya,

“ Ada yang bilang kalau kamu sudah mulai tidak dipercaya atasan!” Katanya menghardik.  Kontan saja Amar langsung bertanya

 “Kata siapa Tok? Siapa yang bilang?” Tanya Amar.

“Ada deh, makanya kamu bisa tanya atasanmu saja “. Jawab Anto.

“Baik, besok saya datang ke bu Tini”. Tegas Amar.

Sepulang dari obrolan itu, Amar tidak bisa tidur memikirkan  keluhan dari atasan yang menurut Anto, Amar mulai dicurigai kurang amanah, mulai disangka korupsi itu gosip yang tengah berkembang. Wajar saja karena Warnetnya mulai ramai sampai malam hingga dini hari membuat berita buruk yang menyertainya. Warnet yang dulu sepi, pelanggannya hanya murid saja sekarang bisa ramai dan pelanggannya dari orang umum 24 jam lagi. Siapapun akan berprasangka buruk kalau tidak mengetahui cerita sesungguhnya.



Keesokan harinya Amar ceritakan oborolan tadi malam dengan istri tercinta, namun istrinya tidak emosi, hanya menyarankan agar hati-hati dan tidak buru-buru membela diri dengan membabi buta. Sesampainya di kantor Amar mengira jika saatnya sudah tepat untuk masuk ke ruang Bu Tini mengutarakan masalah yang dirasa mengganjal hatinya. Amar ceritakan kalau tadi malam didatangi seorang kawan senior orang dekat Bu Tini, orang kepercayaan ibu yang mengeluh kalau Amar mulai tidak jujur, mulai korupsi, mulai diprasangkai buruk dan berita ini sudah menyebar ke beberapa kawan lain yang seprofesi. Ibu Tini yang dilapori Amar seperti ini langsung membantah bila informasi itu tidak benar, tidak ada sama sekali pikiran buruk seperti itu, tidak ada omongan seperti itu pada Amar. Ibu Tini menyarankan agar tidak mempercayai berita tersebut dan tetap fokus pada tugasnya menjadi manager Warnet yang sudah dirintisnya sehingga mulai menghasilkan.

Amar yang dijelaskan bu Tini itu tidak percaya dan menangis di hadapan bu Tini karena merasa disalahkan, difitnah dan di”paido” pekerjaannya. Tidak disemangati, tidak dimotivasi, tidak diarahkan tapi malah digosip yang tidak benar pada berita bohong itu. Dalam hati kecil ini Amar ini mungkin ujian baginya untuk meraih yang lebih baik dari ini. Hatinya juga mulai berpikir untuk mengakhiri bisnis warnet karena dari tahun ke tahun juga mulai meredup.

Amar kembali beraktivitas seperti sediakala bertugas sebagai manajer warnet mengelola bisnis lengkap dengan resiko kerusakan komputer, komplain pelanggan, pembayaran internet ke ISP (Server Provider) yang tinggi, pembayaran gaji operator yang harus tepat waktu menjadi tugas harian dan bulanan Amar. Pengeluaran biaya operasional warnet saat itu cukup besar, untuk ISP saja bisa mencapai Rp.6 juta sebulan, untuk gaji mencapai Rp.4,5 jt untuk 3 orang, biaya jastel Rp.1-2 jt sebulan, untuk kerusakan dan lain-lain bisa kisaran Rp.2-3 jt sebulan. Masih ada selisih memang, walaupun tipis antara Rp.3-5 juta sebulan sebagai keuntungan tetapi sekali ada kerusakan dana yang disisihkan bisa ludes, sebab biaya kerusakan alat juga cukup tinggi seperti mouse, mainboard, VGA, LAN Card, Headshet dan lain-lain.

Suatu ketika Amar melaporkan kondisi kerusakan komputer pada pihak manajemen, dilaporkan bahwa komputer warnet sudah banyak yang rusak, jika diservis dari dana pemasukan kemungkinan tidak bisa membiayai gaji dan jasa internet, namun pihak manajemen tidak berkenan malah mengajukan rapat istimewa dengan menghadirkan Amar selaku pengelola dan beberapa manajer senior yang ada di dalamnya. Rapat membahas masalah penting terkait ketidaksiapkan warnet merecover peralatan internet yang semakin parah rusaknya. Hasil rapat menyimpulkan warnet akan di-lego (dipindah-alihkan) kepada orang yang siap mendanai kerusakan alat, dan amar menyatakan atau malah diminta secara halus mundur dari manager warnet.

Bagi Amar pindah alih dan ganti manajemen warnet tidak masalah, tetapi apakah itu menyelesaikan masalah, sedang masalah yang sesungguhnya ada pada pembiayaan alat yang kurang karena penghasilan menurun dan alat banyak yang rusak, secara manajerial tim masih solid, masih siap bekerja dan berusaha. Namun apa bisa dikata jika pihak manajemen memutuskan warnet ganti manajemen baru dan Amar dilengserkan tanpa solusi yang adil pada inti masalah sebenarnya. Inilah awal terpuruk Amar dimulai. Benar saja, warnet diganti manajemen orang lain semua alat komputer dimake over, diservis, direkondisi lagi benahi manajemennya. Semua pegawai/operator diganti oleh manajer baru itu, Pak Yoyok namanya bersama timnya mengambil alih warnet yang Amar rintis dari kecil menjadi warnet yang ramai.

Sejak saat itu Amar kehilangan pekerjaan, kehilangan pendapatan tambahan. Gaji yang biasanya bisa digunakan mengangsur kredit rumah barunya sekarang nihil, tidak ada pemasukan dari warnet. Angsuran rumah lewat BMT sedianya 950.000 per bulan pun nyaris tidak bisa dibayar. Waktu itu Amar sedih luar biasa apa yang digadang-gadang, diharap-harap, dirintisnya sirna semua tanpa bekas tidak ada penghargaan sedikit pun terucap dari manajemen telah merintis warnet menjadi layak jual, tidak ada yang mensupport keterpurukan Amar agar bisa bangkit, tidak ada yang memberi semangat memberi nasehat untuk bisa menerima masalah besar ini. Sampai pada suatu saat Amar berdoa di tengah malam tepatnya pukul 03.00, meminta Allah agar melunasi hutang kredit rumah, meminta Allah agar semua bisa dihadapinya dengan lancar karena semua masalah pasti ada sebab ada akibat dan semua kesulitan pasti ada kemudahan.

Tidak butuh waktu yang lama Amar vakum pada pekerjaan warnet, Amar dapat info dari kawan ada lowongan operator warnet di daerah Balapan Solo. Amar langsung telisik informasi itu dan benar saja jika warnet Mas Rony (Pemilik) Zero Spot membutuhkan seorang operator yang punya pengalaman pada bidang warnet. Amar diterima kerja sebagai operator dan diminta langsung masuk kerja untuk shift malam. Warnet buka mulai pagi jam 08.00 – 05.00 WIB dibagi dua shift. Amar dapat jatah jaga warnet pukul 18.00 – 03.00 pagi WIB. Bersyukur pada Allah walaupun jauh dari rumah masih dikasih solusi bisa bekerja lagi di warnet sehingga bisa mengangsur kredit rumah yang kurang beberapa bulan lagi. Bersyukur juga jika masalahnya bisa cepat diatasi walaupun berat dilalui. Malam-malam bekerja di warnet orang, jauh dari rumah hingga dini hari, pukul 02.00 kadang pukul 03.00 baru pulang dari kerjaan membuat tubuh Amar kurus, capek, kelelahan dan sedih luar biasa. Kerja ikut orang berbeda dengan kerja di lingkungan sendiri, ditempat sendiri. Kerja jadi manajer sangat berbeda kerja jadi operator itulah yang Amar hadapi sekarang kerja ikut orang tentu waktu, durasi, disiplin, pemasukan warnet dihitung benar tidak ada kompromi kalau ada yang geser apalagi kurang setoran, harus tepat.

Hari demi hari Amar jalani pekerjaan sebagai operator warnet kadang suka kadang duka, suka karena bisa membayar cicilan kredit rumah dan bisa bertahan hidup, duka karena berat sekali pekerjaan ini, nyaris tiap sore-malam hingga dini hari tidak ketemu anak istri di rumah, ketemunya sudah tidur semua, sudah lelah semua di jam-jam 02.00 – 05.00 WIB. Tiap hari Amar menelusuri jalanan pulang bersama motor bebek Yamaha 75 dengan tangisan, dengan peluh air mata sedih dan berat sekali hidup ini, kerja hasil tak seberapa tapi dikerjakan karena terpaksa agar bisa bertahan. Tangisan Amar selalu saja menetes sendiri di dalam hatinya memikirkan kapan hidup ini bisa lebih baik, kapan bisa bekerja yang tidak menyita waktu yang berat seperti ini, itu pula yang diungkap dalam doa Amar di tiap malam-malamnya.

 “Allah, Engkaulah penggenggam rejeki seluruh makhluh di bumi, angkatlah hidup ku dari hidup dan bekerja seperti ini, hidup yang lebih baik, jangan biarkan waktu ku dan waktu anak istri ku terpisah dari pekerjaan ini. Jangan biarkan malam ku ada di tempat orang lain sedangkan orang lain pun tidak bisa membayar selayak yang ku minta”. Seperti itu doa dan pinta Amar pada Tuhannya.

“Ya Allah, nasib ku ini sedang berat sedang di bawah, abot (berat) ya Allah abot (berat). Entaskan saya dari keterpurukan ini jangan berlama-lama engkau beri ujian yang saya tidak sanggup aku hadapi.” Amar bermohon.

Di mata kawan-kawan Amar nampak biasa saja, pekerjaan sebagai pengajar di salah satu sekolah favorit tentu membuatnya lebih tenang. Karena bekerja di warnet sebenarnya adalah pekerjaan tambahan (sampingan). Walaupun pekerjaan sampingan, tetapi penghasilannya sangat diharapkan bagi kebutuhan keluarga, sedangkan pekerjaan pertamanya di sekolah penghasilannya sudah sangat minim terpotong-potong untuk angsuran bank, kredit motor, koperasi dan lain-lain. Kawan-kawan Amar yang tahu jika dia bekerja di Warnet pada sore hingga malam hari sudah diketahuinya, mereka pun sebagian ikut mendukung ada juga yang menyayangkan nasibnya. Namun Amar menyakini jika ini hanya loncatan sementara sebagai solusi dari Allah agar dia bisa bertahan untuk beberapa bulan ke depan.

Lebih dari 8 bulan Amar bekerja di Zeronet Balapan Solo, seperti biasanya menyiapkan meja komputer bersih, komputer server dan komputer billing berjalan lancar, menyapu lantai dan memberi pengharum ruangan secara rutin. Suatu malam, seorang kawan dari Jakarta mengabari Amar lewat Yahoo Messenger jika ada lowongan sebagai relawan Korban Gempa Tsunami di Aceh. Entah apa yang merasuki pikiran Amar saat itu, dia menyatakan setuju bergabung dengan lembaga Depdikbud dan UNICEF menjadi relawan pendataan sekolah korban gempa tsunami di Aceh waktu itu. Amar diminta melengkapi persyaratan, perijinan dari pihak warnet dan dari pihak sekolah. Amar mengundurkan diri dari pekerjaan warnet keesokan harinya dan meminta ijin ke sekolah pada hari berikutnya.

Sungguh perjuangan yang berat untuk mendapatkan ijin dari sekolah waktu itu, padahal Amar mendapatkan rekomendasi langsung di Direktor Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta waktu itu bernama Dikmenjur (Direktorat Menengah Kejuruan), Bapak Gatot HP. Pihak sekolah tidak meloloskan ijin karena alasan tugas sebagai pengajar terbengkalai dan itu bukan pekerjaan utamanya. Amar berdalih negara lain saja ikut membantu orang yang sedang kesulitan, kota yang sedang kena bencana alam dibantu, kita yang punya saudara sebangsa se tanah air tidak membantu, ironis debat Amar waktu itu. Negara lain memberi bantuan apa saja untuk Aceh agar bisa rekonsiliasi, agar bisa kembali hidup normal sedangkan kita ditawari menjadi relawan untuk membantu mereka tidak bersedia, padahal relawannya juga resmi, hasil kerjasama Depdikbud dengan UNICEF menamai programnya dengan “EMIS (Education Management Information System). Itulah dasar logika debat Amar saat ditanya pihak sekolah agar surat ijin bisa diterbitkan.

Kawan-kawan tentu bertanya mengapa begitu beraninya Amar mau berangkat ke Banda Aceh, jelas-jelas daerah itu masih belum aman, masih ada pemberontakan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) mungkin juga ada gempa dan tsunami susulan. Amar menjawab, “ Daripada hidupnya hanya bisa meratapi nasib sendiri, sedangkan nasib kita sendiri masih belum bagus/ layak, saya mencoba bersedekah lewat tangan, tenaga, pikiran dan waktu saya untuk saudara saya yang kena dampak bencana alam”. Tegasnya.

Meratapi perkara mengeluh pada nasib yang dialami adalah sebuah kewajaran setiap manusia, tetapi ketika nasib kita, rejeki kita sulit bukan berati urusan kita dengan Tuhan kita selesai. Mungkin saja urusan kita dengan manusia belum selesai hingga akhirnya Amar tergerak untuk membantu di Aceh, mensedekahkan dirinya pada pembelaan di penanganan gempa tsunami Aceh. Alasannya hanya itu, yakni membantu warga Aceh keluar dari krisis utamanya pada sekolah rusak korban gempa. Nawaitunya berbuat baik pada anak bangsa, seperti NGO lain negara lain saja membantu bahu membahu mengentaskan warga Aceh.

Anak, istri, ibu mertua yang sudah renta Amar tinggalkan pergi ke Nanggro Aceh Darussalam (NAD), padahal waktu itu harta benda, gaji untuk biaya hidup sehari-hari saja mungkin sangat-sangat tipis. Amar hanya berpesan pada istrinya, “Biarlah saya relakan diri untuk diambil tenaga, pikiran dan keahliannya jika memang diperlukan di sana”. Sambutnya. “Tidak ingin dapat pamrih, pangkat, gaji, harta dari mereka, yang ku pikirkan bisa sama-sama bekerja membantu mengentaskan korban”. Pungkasnya.

Dari Solo naik pesawat ke Jakarta turun di Bandara Sukarno Hatta naik taksi ke kantor Depdikbud Jakarta. Di sana telah berkumpul sejumlah calon-calon relawan dari berbagai daerah. Amar diterima staff khusus Posko Gempa Tsunami Aceh dan langsung mengadakan rapat kecil untuk persiapan diklat operator EMIS selama 2 hari 2 malam. Amar menginap di kos-kosan staff Dikmenjur malam itu, keesokan harinya mengikuti diklat EMIS bersama tim relawan EMIS. Segala perlengkapan, bekal, biaya, surat jalan telah siap, tim relawan berangkat ke masing-masing daerah tujuan. Ada yang ke Banda Aceh, Aceh Besar, Takengon, Loksumawe, Langsa, Aceh Timur, Aceh Tengah, Bener Meriah dan lain-lain. Amar ditugaskan di Aceh Timur bersama 10 orang tim relawan di lokasi.

Sesampainya di Aceh Timur langsung menggelar rapat maraton untuk pendataan, bagi tugas, bagi pos dan koordinasi ke antar instansi dengan jaringan internet. Pembelian peralatan internet, pasang jaringan dan lain-lain dikerjakan secara bertahap.

Tanpa berasa lama sudah 1,5 tahun berlalu di Aceh Timur data selesai lebih cepat, tugas hampir selesai tinggal ada sesuatu yang mengganjal yakni adakah honor ? ternyata relawan di sana juga mendapatkan honor yang cukup besar. Gaji relawan seperti Amar sebagai konsultan saat itu sudah Rp.4,5 juta, sedangkan operator Rp.1,5 jt dan itu berlangsung 1,5 tahun, nampaknya inilah jawaban dari semua doa-doa Amar yang merintih tiap malam saat pulang dari warnet itu, mungkin jalan raya Tirtonadi – Nusukan- Joglo menjadi saksi atas tangisanku tiap pagi itu. Apa yang tidak dipikirkan oleh saat itu akhirnya terjawab yakni bisa melunasi hutang kredit rumah secara tunai. Pada akhirnya badai itu pun berlalu dengan membantu orang lain, membantu orang yang sedang kesulitan sedang terkena bencana kita juga dibantu oleh Allah.

Karena hidup harus terus berjalan tiada henti sepanjang nafas masih dikandung badan maka masalah selalu ada dan solusi pun selalu mengitarinya. Inilah hidup selalu hadapi masalah dan selesaikan masalah. Jika tidak ingin hidup, mati saja lebih baik. Maka ada pameo mengatakan mati lebih mulia dari pada hidup berkubang nista/sengsara. Mendapatkan amanah itu baik jika dijalankan dengan ikhlas, jika tidak ikhlas lebih baik lepaskan amanah itu. Karena amanah yang tidak dijalankan berat tanggung jawabnya.

Sepulang dari Aceh, Amar juga mendapatkan tugas ke Papua Barat untuk program yang sama, namun tugas yang pertama tidak disetujui atasan karena baru saja pulang dari Aceh. Dan tugas kedua datang lagi agar Amar membantu di Papua Barat, karena Amar sudah tercatat sebagai relawan nasional di Dikmenjur dan menyatakan siap membantu bila dibutuhkan Dikmenjur, saat itu Amar harus berangkat apapun resikonya. Dan tugas kedua dijalankannya selama 2 bulan saja, karena medan tugasnya sangatlah berat, membutuhkan biaya transportasi yang sangat mahal sedangkan biaya operasionalnya terbatas.

Berlanjut dari Papua ada lagi program keliling Jawa Tengah untuk EMIS-2 yakni pendataan presensi online yang diterapkan diseluruh SMK se Indonesia. Namun program berjalan hanya 6 bulan karena saat itu transisisi dari kurikulum KTSP ke kurikulum 2013 sehingga program EMIS-2 kandas ditengah jalan.

Tidak lama bersalang waktu Amar dipercaya membuka program keahlian baru namanya Broadcasting (BC) dan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), Amar ikuti dari awal mulai proposal ganti-ganti selalu 1-2 tahun terhenti dan dilanjutkan kembali hingga direalisasi. Jadilah dua program BC dan RPL menjadi jurusan baru Amar menjadi Ketua Program Keahlian BC, belum genap 1 tahun BC berjalan karena sesuatu hal yang diluar pengetahuan Amar, dia diganti secara sepihak oleh manajemen. Tanpa tahu sebab musababnya diganti begitu saja. Mungkin jika ditelusuri ada benang merahnya karena Amar menjadi Instruktur Nasional (IN) salah satu jurusan di Makasar beberapa minggu, Amar menjadi instruktur pada program keahlian ganda yang membuat jabatan Ketua Jurusan diganti sepihak.

Tugas-tugas terkait penggunaan alat, pengelola lab studio pun dicopot semua juga langsung diganti oleh orang lain yang dipercayanya. Akhirnya program website, CBT web, youtube Channel Viska TV Solo pun ikut terpuruk tidak ada contentnya, tidak ada yang mengisi konten, sampai berjalan 1-3 tahun terakhir. Di saat seperti ini yang harus dirasa adalah legowo saja, apa yang ditarik adalah bukan miliki kita, yang penting Amar tidak melakukan hal-hal yang dituduhkan atau yang dicurigai. Dari awal pihak sekolah sudah bilang apa tidak ada serah terima jabatan atau alat saat tugas kapro ke kapro berikutnya. Amar bilang tidak ada, karena semua berjalan begitu cepat, alat juga kita dapatkan dan gunakan bersama-sama, dipakai bersama-sama data juga semua tahu semua paham. Serah terima secara seremonial mungkin tidak dilakukan tetapi serah terima kewenangan, data itu sudah dilakukan walaupun tidak resmi.

Namun seperti jawaban itu tidak memuaskan manajemen, pantas saja Amar langsung tidak dianggap, tidak didata sedikitpun dalam beberapa kesempatan penugasan. Amar tetap tenang, sabar berdoa dan ikhtiar. Dalam hatinya inilah lakon berikutnya, alur cerita lanjutan dari sekian banyak alur cerita yang sudah dilalui Amar. Dan ini kesempatan menengok kembali perjalanan hidup yang belum pudar di dalam sejarah masa lalu, mungkin ada hal yang terlewati, mungkin ada sesuatu hal yang terabaikan dalam perjalanan Amar.

Tepat sekali kasus keterpurukan ini berhikmah manis, adalah keluarga yang selama ini diabaikan Amar, tidak dianggap hadir oleh Amar sekarang mau tidak mau harus dianggap, harus diprioritaskan. Keluarga adalah sejarah awal dari karier seseorang, perhatiannya, atensinya, pengorbanannya adalah benang yang mengikat pada orang yang dicintai. Amar bisa kuliah dari Sarjana ke Pasca Sarjana, berprestasi hingga ke propinsi dan nasional bukan karena kemampuan dirinya, bukan pula prestasinya tetapi karena doa keluarganya.

Amar sekarang bisa merasakan betapa keluarga hadir pada saat-saat kritis kita membutuhkan. Betapa rumah tangga ikut berperan pada saat kita mengeluh dan layu karena masalah yang berat. Betapa kita tidak sadari kalau semua perjalanan hidup manusia berangkat dari keluarga, dari anak istri, ibu dan bapak. Tanpa keluarga hidup mungkin tidak bermakna. Sekarang Amar bisa hidup lebih lepas, lebih legowo, lebih ikhlas menghadapi berbagai badai derita, karena terpuruk dalam hidup bukan berakhir kiamat dalam berbuat, tetapi terpuruk adalah pelajaran berharga dalam menapaki kehidupan yang lebih baik, terpuruk bukan buruk tetapi obat sekaligus sapu untuk membersihkan sisa dendam dalam hati.

Sekarang kehidupan karier Amar siap menunggu tantangan jaman lagi, menunggui karomah dari Allah, keajaiban berkah dari Allah untuk dicurahkan pada keluarga Amar. Kadang Amar sering bercanda dengan istri Ya Allah, kasihlah saya masalah yang “agak berat” karena di “agak berat” nya masalah itu Engkau kasih lebih pada ku. Engkau kasih bonus yang luar biasa pada hidupku “. Gitu candanya.

Memang ada benarnya, beberapa kali masalah datang beberap kali pula solusi datang dan penyelesaiannya pun sangat luar biasa. Disadari atau tidak ibarat obat, masalah itu lengkap dengan penyelesaiannya.

Sumber : telah ditulis penulis dalam buku berjudul The Stories of Move On

 

 

(((((((((((((((((((())))))))))))))))))

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hidayah, Tiada Tanding Tiada Banding

 

Hidayah, Tiada Tanding Tiada Banding

Oleh Darsono – SMK Negeri 6 Surakarta

 


Di masa jayanya dunia warung internet (warnet) Sony dipercaya mengembangkan usaha warnet di sekolahnya. Pelanggan warnet adalah para siswa di sekitar lingkungan sekolah dan berkembang pesat ke masyakarat umum, hingga warnet yang sebelumnya tutup jam pulang sekolah (sore) lama-lama dibuka 24 jam.  Makin rame saja warnet yang diberi nama VISKANET itu sampai memiliki pelanggan setia yang selalu datang tiap malam hingga pagi hari dengan omzet yang cukup besar bisa membayar operasional, gaji karyawan dan perawatan sendiri.

Sampai pada akhirnya warnet mulai sepi karena alat semakin banyak yang rusak tidak terawat karena kerusakannya cukup parah, hingga warnet sekolah dikontrak oleh pihak luar. Inilah awal Sony terpuruk, pendapatan kedua (second salary) dari warnet hilang, baya cicilan rumah baru pun mulai “megap-megap” karena tidak ada pemasukan.  Mulailah Sony mencari tambahan penghasilan di luar dan benar saja, mendapatkan pekerjaan sebagai penjaga warnet di Solo Balapan. Berangkat jam 17.00 hingga malam dan dini hari dilaluinya dengan letih lelah agar dapat mencukupi dan menutup angsuran rumah.  Sambil tetap memohon pada Allah agar diberikan jalan keluar dari masalah yang berat ini. Masalah yang belum pernah dihadapinya selama hidup yakni terpuruk dalam hidup yang besar pasak daripada tiang.



Suatu hari Sony mendapatkan Chat/messenger dari Direktorat Menengah Kejuruan (Dikmenjur) Jakarta untuk menjadi tenaga relawan penanganan korban Gempa Tsunami khusus pendataan Gedung dan sekolah rusak, Sony langsung mengiyakan saja. Segala resiko dipikir belakang, semua surat ijin dan prosedur birokrat dilalui walaupun berat dan berliku. Sony berangkat ke Jakarta dan sesampainya di Jakarta keesokan harinya langsung berangkat lagi ke Aceh. Sony mendapatkan tugas penting yakni menjadi konsultan dan koordinator penanganan pendataan sekolah rusak di seluruh wilayah Kab.Aceh Timur. Penugasan luar pulau ini berjalan hampir 1,5 tahun lamanya, penugasan yang berat meninggalkan anak, istri, mertua yang sudah tua renta. Namun Sony tetap berprinsip agar penugasan ini lancar dan cepat selesai tanpa masalah yang berat. Sony tetap ingin pulang dan berkumpul dengan keluaganya seperti keluarga yang lain.

Selepas pulang tugas dari Kemendikbud kerjasama UNICEF dlm program penanganan pasca gempa tsunami Aceh th 2006 Sony ingin berevolusi menjadi orang baik, ingin ibadah yg lbh khusuk dari biasanya, ingin ngaji, ikut pengajian yg istiqomah hanya urusan ibadah dg tujuan masuk surga selamat dari neraka. Fenomena alam Aceh yg dilanda bencana gempa dan tsunami sungguh membuat bulu kuduk berdiri, ngeri, dahsyat dan luar biasa kekuasaan Allah. Hanya beberapa menit bumi Aceh diterpa, dihantam gempa tsunami dampaknya luar biasa. Tiada makhluk bumi yang bisa melawan dan menghindari kejadian ini.

Pikiran Sony hanya satu, ingin ikut ngaji yg benar, spt bukunya RA Kartini " Habis Gelap Terbitlah Terang" di situ Kartini muda berdebat dengan gurunya kalau dia ingin membaca Al Quran juga tahu artinya, tahu maknanya, tahu keterangannya, dan tahu cara prakteknya. Maka Al Quran nya Kartini muda saat itu dicoret-coret, diberi arti dan ditegur gurunya, kalau Al Quran itu tdk boleh diberi tanda, tulisan, coretan.

Singkat cerita Sony dikenalkan istri seorang kyai di desanya dan dijanjikan bertemu di Masjid Baitul Rohman. Ketemulah keduanya, saat itu sedang ada pengajian umum remaja desa, mubaligh yang tampil anak remaja yang fasih membaca Al Quran dan memaknainya.

Malu-malu Sony mendatangi kyai yang sedang duduk-duduk di serambi masjid bersama beberapa jamaahnya sekaligus menunggui para remaja yang sedang mengaji.

"Assalamu Alaikum"......ucap salam Sony.

"Wa alaikum salam" ...sambut kyai Minto

"Pak Kyai, Saya mau ikut ngaji di sini?" Pinta Sony.

"Emangnya bapak dari mana?" tanya kyai Minto.

Saat itu memang wajah Sony berpenampilan beda mirip orang Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang sekarang berevolusi menjadi Partai lokal GAM. sony berambut cepak militer, badan kekar, kulit agak hitam seperti orang baru pulang perang. Jadi tidak kaget jika bapak kyai Minto bertanya seperti itu.

"Saya orang Kadipiro. (Solo). Baru pulang dari tugas dinas di Aceh. Dijelaskan baru pulang dari Aceh mendapatkan tugas melakukan pendataan gedung sekolah korban gempa Tsunami. Lalu pak Minto berjanji mengirim ustadz/mubaligh ke rumah untuk dibimbing, belajar agama mulai dari nol banget, belajar mulai membaca Al-Qur’an dan membaca hadist dan dali-dalil penting.

Sejak saat itulah Sony memulai lembaran baru belajar ilmu agama yang benar-benar murni dari awal mulai hadist tentang bersuci, berwudhu, sholat dalam hadist Kitabussholah, kitab Adab, kitab Adillah, kitab Shaum dan lain-lain, tentunya pengajian Al-Quran juga diperdalam secara maknawiyah (diartikan, dideres, dijelaskan, diterangkan, dipraktekkan).

Apa ini artinya hidayah, hidup Sony seperti mendapatkan perubahan baru yang positif, perubahan yang pernah diimpikannya selama hidup, memiliki istri yang sholehah, anak yang paham agama, tafidz Al-Quran dan mendapatkan rejeki di negeri sendiri. Dan benar saja yang dirasakan selama ini sudah terjawab dengan jalan cerita Allah secara sempurna. Sungguh sebuah jalan cerita yang luar biasa, tanpa disadari semuanya berjalan seperti air mengalir.

Hidayah berarti perkara yang paling penting dan kebutuhan yang paling besar mendasar dalam kehidupan manusia. Betapa tidak, hidayah adalah sebab utama keselamatan dan kebaikan hidup manusia di dunia dan akhirat. Sehingga barangsiapa yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala untuk meraihnya, maka sungguh dia telah meraih keberuntungan yang besar dan tidak akan ada seorangpun yang mampu mencelakakannya.

Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi (dunia dan akhirat)” (QS al-A’raaf:178).

Hidayah itu sebuah anugrah yang tidak ada yang jual dan tidak ada yang bisa membelinya. Hidayah datang dan pergi seperti tercabutnya helai rambut yang diambil dari adunan tepung. Harga hidayah benar-benar tidak ada harga yang pantas kecuali mendapatkan ganjaran surga jauh dari neraka.  Bahwasannya tujuan hidup dunia hanyalah mengharapkan masuk surga dan selamat dari neraka, itulah satu-satunya tujuan yang paling mulia diantara tujuan kesuksesan manusia di dunia.

Hidayah datang bukan sendirian, tetapi melalui perantara seseorang, bisa sengaja ataupun tanpa kesengajaan. Seperti Sony ini yang mendapatkan hidayah dengan tanpa sengaja, yang berkeinginan membaca Al-Qur’an dengan sedikit banyak langsung mengerti maksudnya, mengerti artinya, setidaknya paham apa yang dibacanya. Tanpa sengaja hadir saudara yang bertamu dengan tujuan mengenalkan produk kosmetik dan kesehatan pada keluarga Sony. Obrolan bisnis sampai obrolan bab ibadah dan mengaji sampailah pada suatu hari lain ibu itu datang lagi dengan membawa dalil-dalil hadist yang sudah dicoret-coret (dimaknai dg bahasa Indonesia dan Jawa) lengkap dan bisa menjelaskan secara baik dari tulisan tersebut seperti menjelaskan kitab Kuning saja. Dari situlah sedikit demi sedikit keluarga Sony mampu membuka diri untuk menerima hidayah dari ibu itu.

Tahun demi tahun, bulan demi bulan berjalan hari demi hari berlalu hingga saat ini keluarga Sony berada pada jalan yang lurus jalan menuju keluaga islami yang dirahmati Allah diridhoi Allah masuk surga selamat dari neraka. Tugas membina keluarga beribadah dengan tertib dan benar ibarat orang berjalan yang penting selamat, orang ibadah yang penting benar. Ibarat orang berkasus hukum yang penting bisa menang, ibarat orang yang salah atau disalahkan yang penting bisa diringankan dan diampuni. Sony memastikan anak-anaknya rajin ibadah, bisa “diramut” dalam naungan masjid, bisa mengerjakan sholat lima waktu dengan tertib, biasakan diri menghafal Al-Quran dan Alhamdulillah satu per satu anak telah mampu menyelesaikan beberapa juz dalam Al-Quran walaupun belum 100 % katam. Namun perjalanan menuju hafal Al-Quran masih panjang dan berliku.

Memastikan anak-anak menjalankan enam tabiat luhur yakni selalu jujur, amanah, rukun, kompak, kerja sama yang baik dan hidup sederhana / hidup hemat. Keluarga Sony memastikan anak-anak bergaul pada lingkungan yang benar, memiliki kawan teman yang baik, bergaul dengan keluarga yang baik-baik agar tertular virus kebaikan pada diri anak dan diri mereka pula. Saling mengingatkan, saling menasehati dalam kebaikan dan berlomba dalam kebaikan, dan tolong menolog dalam kebaikan.

Sony selalu menyakinkan pada anak-anak jika hidup di masyarakat harus bisa berbudi luhur, bicara yang baik, sopan dalam tindakan dan santun dalam  tutur kata, bicara “pahit madu”, tata krama, selalu “takdim” pada orang tua dan mengagungkan pada apa saja yang layak diagungkan seperti Al-Quran, Hadist, kitab-kitab, buku-buku dan mengagungkan orang tua. Selalu berucap syukur Alhamdulillah pada Allah, syukur pada orang-orang yang wajib disyukuri serta berjalan dalam kebaikan dan selalu berdoa untuk kebaikan semuanya.

Sekarang hampir 15 tahun sudah berlalu peristiwa gempa tsunami yang melatarbelakangi Sony pergi ke Daerah Istimewa Aceh untuk membantu sahabat, saudara se tanah air untuk rekonsiliasi korban dan bangkit dari keterpurukan bencana yang dahsyat, telah mengantarkan Sony dan keluarganya bangkit dari “keterbelakangan aqidah” menuju kepahaman pada agama yang lurus, agama yang benar sesuai Qu’an Hadist. Gempa tsunami telah memberikan hikmah yang besar kepada diri Sony. Sony ketemu banyak orang di Aceh yang memberikan nasehat salah satunya adalah hidup di dunia yang akan dicari apa kalau sudah seperti ini (gempa), semua berantakan, semua luluh lantak dalam hitungan menit dan detik tidak berbekas, apa yang dikumpulkan bertahun-tahun tidak ada artinya kecuali ibadah pada Allah, kecuali mengabdi mencari kebaikan sebanyak-banyaknya untuk menuju keabadian. Sampai seorang ibu rumah tangga istri seorang PNS di Aceh mengatakan bahwa sudah tidak ingin lagi banyak keinginan duniawi (harta, benda, jabatan) dia hanya ingin mohon ampun, diampuni Allah dan dapat diselamatkan oleh Allah dari azab dan siksaan.

Pada saat ini Kita telah berada di penghujung tahun 2019 dan beberapa hari lagi akan memasuki tahun baru 2020 Masehi. Tentu setiap akhir dan pergantian tahun memiliki makna yang sangat dalam bagi kehidupan manusia.  Kedalaman makna itu dapat dirasakan oleh setiap manusia itu sendiri, dimana pada satu sisi di awal tahun baru sebagai tempat harapan untuk mencapai kesuksesan ke depannya, pada sisi lain kegagalan yang terjadi di tahun sebelumnya janganlah terjadi di tahun yang akan dijalani serta ada sisi lain yang pasti terjadi yaitu karena hidup manusia pasti akan berkurang sesuai dengan jatah usia yang diberikan oleh Allah SWT. Oleh karena itulah, manusia sangat perlu melakukan perenungan (tafakur) terhadap diri sendiri. Di samping itu juga sebaiknya manusia melakukan muhasabah yaitu melakukan evaluasi diri terhadap kebaikan dan keburukan yang telah dilakukan dalam segala hal baik yang ada hubungannya dengan ibadah kepada Allah SWT (hubungan vertikal) maupun ada sangkut pautnya dengan hubungan antara makhluk terhadap perjalanan hidupnya (hubungan horizontal).

Tentu dengan berakhirnya tahun 2019 ini sebagai  momentum untuk Kita gunakan sebagai bahan muhasabah terhadap diri Kita masing-masing apakah di tahun yang akan Kita tinggalkan ini lebih banyak nilai-nilai kebaikan dan ibadah kepada Allah SWT ataukah sebaliknya lebih banyak nilai kejelekannya? Maka jawabannya ada pada diri kita masing-masing untuk menilainya. Jika posisi Kita berada pada zona lebih baik dari tahun sebelumnya maka Kita berada pada zona keberuntungan. Jikalau sama dengan tahun lalu maka nilainya berada pada zona tertipu, tetapi sebaliknya jika lebih jelek dari tahun sebelumnya maka Kita telah berada pada zona kerugian. Apabila lebih banyak nilai kebaikan dan ibadahnya maka kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung, pun-demikian sebaliknya apabila banyak nilai kesalahan dan dosa-dosanya, maka Kita termasuk dalam golongan orang yang merugi.

Maka, beruntunglah Kita yang oleh Allah SWT diberi umur yang panjang banyak melakukan amal kebaikan, sebagaimana Rasulullah SAW menyampaikan dalam hadis yang artinya: “Sebaik-baik manusia ialah yang diberi umur panjang dan dia gunakan untuk melakukan kebaikan, dan sejelek-jelak manusia apabila diberi umur yang panjang tetapi dia gunakan untuk perbuatan kejelekan”. (HR: Ahmad). Pada hadis yang lain Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Barang siapa keadaan hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka dia beruntung dan barangsiapa keadaan hari ini sama dengan hari hari kemarin dia tertipu dan barangsiapa keadaan hari ini lebih jelek dari hari kemarin, berarti dia terlaknat” (HR. Baihaqi)

Berdasarkan hadis Rasulullah SAW di atas, manusia yang beruntung adalah manusia yang tahu diri, tahu kemampuan yang ada padanya, tahu perhitungannya, mengetahui posisi pribadinya dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh karena itu, kesadaran akan pengawasan Allah SWT mendorong seseorang mukmin untuk dapat melakukan muhasabah atau evaluasi diri terhadap amal perbuatan, tingkah laku, sikap dan hatinya dalam hal ini adalah muraqabah yaitu upaya diri untuk senantiasa merasa terawasi oleh Allah SWT dengan jalan mewaspadai dan mengawasi diri sendiri.

Muhasabah dapat dilakukan sebelum dan sesudah melakukan amal perbuatan. Sebelum melakukan sesuatu seseorang harus mempertimbangkan terlebih dahulu, baik-buruknya, manfaat-mudharatnya serta menilai kembali motivasinya dalam melakukan suatu amalan. Adapun muhasabah sesudah melakukan amal perbuatan ada tiga macam, yaitu; 1) muhasabah hak Allah SWT yaitu tentang keikhlasannya dalam beramal karena Allah SWT, kesesuaian amalannya dengan petunjuk Rasulullah SAW, sikap ikhsannya dalam beramal, 2) muhasabah pada amalan yang akan lebih baik tidak dilakukan daripada melakukannya, dan 3) muhasabah terhadap amalan mubah atau kebiasaannya. Kenapa dilakukan? Apakah dilakukannya untuk mendapatkan ridha Allah SWT dan kehidupan akhirat? Jika memang mencari ridha Allah SWT tentunya orang yang beramal akan beruntung, namun jika tidak maka dia akan merugi.

Di antara beberapa manfaat muhasabah antara lain; 1) untuk mengetahui kelemahan diri manusia supaya dia dapat memperbaikinya. Karena orang yang tidak mengetahui kelemahan dirinya, maka ia tidak akan mau mengubah pribadinya menjadi lebih baik, 2) sebagai petunjuk manusia untuk tetap berada di jalan yang diridhai oleh Allah SWT karena manusia dapat berhati-hati untuk tidak melakukan sesuatu perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT, 3) selalu menganggap diri penuh dengan kekurangan dan kelamahan dan tidak tertipu dengan amal yang dilakukan, 4) membuat diri seseorang tidak merasa sombong atau takabbur karena merasa yang terbaik dari manusia lainnya, 4) seseorang akan mampu memanfaaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk dapat melakukan suatu perbuatan yang positif dan beribadah kepada Allah SWT, dan 5) untuk mengetahui hak Allah SWT karena orang yang tidak mengetahui hak Allah SWT atas dirinya, maka ibadahnya tidak akan bermanfaat bagi dirinya.

Oleh karena itu, cara kita untuk bisa berada pada zona keberuntungan hidup adalah dengan mensyukuri nikmat umur panjang yang diberikan Allah kepada kita adalah dengan cara mengucapkan kalimah alhamdulillah dan banyak berbuat kebaikan, beribadah kepada Allah SWT, menjalankan semua perintah-Nya dan berusaha menjauhi larangan-Nya serta selalu mengikuti sunnah dan syariat yang dibawa oleh baginda Rasulullah SAW. Sesungguhnya Allah memberikan umur dan kesempatan hidup lebih panjang dan kesehatan ini merupakan anugerah yang sangat besar dan tidak ternilai harganya dengan apapun, baik harta, rezeki, kedudukan dan pangkat. Akan tetapi harus kita ingat dibalik anugerah yang besar tersebut, manusia dituntut untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah SWT, sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur`an surat Adz-Dzariyat: 56 yang artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Berdasarkan ayat di atas, jelas tidak ada tujuan lain Allah SWT menciptakan manusia di dunia ini kecuali hanya untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah SWT semata, kata ibadah apabila diartikan secara lebih luas tidak hanya semata-mata ritual ibadah semata, akan tetapi memaknai manusia sebagai khalifah fil-Ard yakni melestarikan dan menjaga alam semesta ini, mengisi hal-hal yang membawa kemanfaatan dan kebaikan bagi orang lain. Sesungguhnya kita manusia diberikan amanah  oleh Allah SWT untuk menjadi khalifah di muka bumi ini yang bertugas untuk mengolah, mengatur dan menyelenggarakan sesuatu kehidupan yang damai, adil dan makmur, sejahtera, bahagia untuk meraih kemaslahatan kehidupan yang berlandaskan agama, al-Qur`an dan al-Hadis. Tegasnya, tugas kita sebagai manusia adalah mendapatkan  kebahagiaan dan kemaslahatan di dunia ini untuk mempersiapkan bekal kepentingan akhirat. Dua macam tujuan hidup  inilah yang harus kita upayakan di dunia dengan cara meningkatkan semangat dan etos kerja yang tinggi, dan selalu beribadah kepada-Nya.

Memasuki tahun 2020 kita semua berharap bisa menjadi pribadi yang lebih baik, pribadi yang berakhlakul karimah, pribadi yang mulia di mata Allah dan manusia. Walaupun tahun demi tahun sesungguhnya makin rusaknya akhlak manusia sebagaimana dalil : ” tidak akan datang suatu tahun, kecuali tahun sesudahnya akan lebih jelek dari tahun sebelumnya”. (Hr. Bukhori).  Bersabarlah, sebab tidaklah kalian menjalalni suatu zaman, melainkan sesudahnya lebih buruk daripadanya, sampai kalian menjumpai rabb kalian. Aku mendengar hadit ini dari Nabi kalian Shallallahu'alaihiwasallam.' [HR. Bukhari No.6541].

Bertambahnya tahun maka semakin jeleklah tahun itu (dipandang dari sisi Agama) , jeleknya bukan dalam konteks duniawi seperti perkembangan teknologi melainkan moral dan akhlak yang semakin rusak, kita pun tahu orang orang zaman dulu ketika bergaul masih malu-malu apalagi bergaul dengan yang berbeda jenis, ta’dzim seorang anak kepada orang tua juga sudah berbeda, dan sekarang sudah banyak anak anak yang melakukan kegiatan kedewasaan, hal tersebut menunjukkan bahwa kerusakan moral dan akhlak telah terjadi.

Tugas kita semua adalah mengawal tahun baru menjadi awal tahun yang memperbaiki, yang menyemangati, yang menjanjikan, yang menghadirikan kesejukkan, kenyamanan, masa depan dan harapan yang setinggi-tingginya untuk kebaikan semuanya. Sebagai seorang Sony juga berharap besar untuk selalu menjadi pribadi yang banyak bersyukur, banyak berdoa dan banyak istighfar serta banyak beramal sholeh. Karena hanya seperti inilah mata uang yang akan menjadi alat tukar nanti di akhirat, bukan mata uang rupiah, dollar bukan pula mata uang cripto currency, tapi mata uang amalan, mata uang ibadah berupa mata uang amal sholeh. Oleh karena itu modal untuk memperbaiki diri adalah :

1.          Berhenti Berpikir Negatif

2.          Berhenti Menjadi Pemalu dan Tunjukkan Siapa Dirimu!

3.          Berhenti Bergosip

4.          Berhenti Menunda Hal Penting

5.          Berhenti Melakukan Hal-Hal yang Merugikan

6.          Berhenti Galau-in Mantan


Sumber : telah ditulis penulis dalam buku berjudul The Stories of Move On

 

(((((((())))))))))))