Powered by Blogger.

Peserta CGP Angkatan 4 Kota Surakarta

Calon Guru Penggerak Mengikuti Lokakarya 3 di Hotel Royal Herritage Solo

Mural Untuk Solo Bangkit

Tergerak, Bergerak, Menggerakkan

Pengelolaan Kelas Daring di SMK N 6 Surakarta

Selama masa pandemi pembelajaran hanya bisa secara daring guru dituntut bisa menggunakan aplikasi meeting.

Kangguru Mas Guru

Filosofi Semar pada Pewayangan Jawa yang ngemong, momong dan tut wuri handayani .

Foto Section CGP angkatan 4 Kota Surakarta

Berlangsung di Lokakarya 3 - Hotel Royal Herritage Solo.

Foto Section CGP angkatan 4 Kota Surakarta

Berlangsung di Lokakarya 3 - Hotel Royal Herritage Solo.

Showing posts with label Kemanusiaan. Show all posts
Showing posts with label Kemanusiaan. Show all posts

Saturday, August 28, 2021

SORGA BUKAN CERITA DI INDONESIA*

*Luar biasa opini dr. Ratna R. Hendardji berikut ini...*

(dr. Ratna Rosita Hendardji, MPHM) eks Sekjen Kementerian Kesehatan RI dan istri dari Mayjen TNI (Purn). DR. dr. H. Hendardji Soepandji SH.
Musim Dingin, ketika salju turun di Eropa atau Amerika Utara, suhu bisa mencapai minus 40 derajat Celsius artinya kulkasmu masih lebih hangat.

Itulah saat semua tetumbuhan "mati" kecuali pohon Cemara. Itulah saatnya darahmu bisa berhenti menjadi es ketika kamu keluar rumah tanpa pakaian khusus. 

Musim Salju adalah ketika manusia bertahan hidup dan beraktivitas yang mungkin, tanpa bisa  berjalan jika tak ada bantuan peralatan dan teknologi. Tanpa itu mati kedinginan. Dan ada satu periode di mana salju berbentuk badai. Badai salju, terbayang apa yang bisa dilakukan selain bertahan hidup di ruangan berpemanas. 

Padang Pasir, begitu keringnya sampai sampai manusia yang berdiam di sana membayangkan sungai² yang mengalir bagai surga.

Hanya ada beberapa jenis pohon yang bisa hidup dalam suhu bisa diatas 40 derajat Celcius. Keringatmu bisa langsung menguap bersama cairan tubuhmu. Dan keberadaan air adalah persoalan hidup mati, sungguh bukan soal minyak.

Saya sungguh tidak mengerti ketika ada orang yang masih belum percaya bahwa Indonesia itu serpihan sorga. 

Cobalah kamu bercelana pendek, pakai kaos dan sandal jepit jalan² di Kanada ketika Musim Dingin. Atau jalan² di Padang Pasir... Dijamin mati !!! 

Di sini di negaramu, kapan saja, mau siang mau malam kamu bisa jalan² dgn kaosan tanpa alas kaki. Mau hujan mau panas. Tetap selamat. 

Di Eropa dan Amerika paling banter kamu akan ketemu buah-buahan yang sering kamu pamer-pamerin. Apel, Anggur, Sunkist, Pear (Pir) dan semacamnya. 

Di Timur Tengah, paling kamu ketemu Kurma, Kismis, Kacang Arab, Zaitun dan Tin.

Di Indonesia, kamu tak akan sanggup menyebut semua jenis buah dan sayuran, umbi²an, kacang²an, bunga² dan rempah² saking banyaknya. 

Di Amerika dan Eropa, kamu akan ketemu makanan lagi² Sandwich, Hot Dog, Hamburger. Itu² saja yang divariasi. Paling banter Steak, Es Krim dan Keju. 

Di Timur Tengah? Roti, daging dan daging lagi. 

Di Indonesia? Dari Sabang sampai Merauke, mungkin ada ratusan ribu varian makanan. Ada puluhan jenis Soto, varian Sambal, olahan Daging, Ikan dan Ayam tak terhitung macamnya. Setiap wilayah ada jenisnya. Kue Basah dan Kue Kering ada ribuan jenis. Varian Bakso saja sudah sedemikian banyak. Belum lagi Singkong, Ketan, Gula, Kelapa bisa menjadi puluhan jenis nama makanan.

Dan tepian jalan dari Sabang sampai Merauke adalah garis penjual makanan terpanjang di dunia. Saya tidak berhasil menghitung penjual makanan bahkan hanya dari Kemayoran ke Cempaka Putih. 

Di Indonesia, kamu bebas mendengar Pengajian, Sholawatan, Dangdut Koplo, Konser Rock, Jazz, Gamelan dan ecrek² orang ngamen. Di Eropa, Amerika dan Timur Tengah, belum tentu kamu bisa menikmati kecuali pakai headset. 

Saya ingin menulis betapa surganya Indonesia dari segala sisi. Hasil buminya, cuacanya, orang²nya yang cerdas², kreatif dan bersahabat, budayanya, toleransinya, guyonannya, keindahan tempat² wisatanya dan seterusnya. Saya tidak mungkin mampu menulis itu semua meskipun jika air laut menjadi tintanya.

Saking tak terhingganya kenikmatan anugerah ALLAH SWT pada bangsa Indonesia. Indonesia ini negara kesayangan Sang Pencipta. 

Jika kamu tidak bisa mensyukuri itu semua? Jiwamu sudah mati. 

Pesan: 
*_Janganlah sorga kita ini kita hancurkan hanya karena syahwat berkuasa, keserakahan dan ketamakan tiada batas._*

*_Janganlah  kehangatan persaudaraan yang dicontohkan oleh Embah, Eyang, Kakek, Opung kita dihancurkan hanya karena kita merasa paling benar dan paling pintar._*

*_Allah hanya mensyaratkan kamu semua bersyukur agar sorga ini tidak jadi neraka, bahkan andai kamu sering bersyukur maka nikmat² itu akan ditambah._*

*_Bersyukur itu diantaranya, tidak merusak apa² yang sudah berjalan dengan baik. Baik dalam kita menunaikan ibadah agama kita, memelihara alam dan lingkungan, sistem nilai, budaya asli dan semacamnya._*

*_Jika kita merusak alam, alam akan berproses membuat keseimbangan/ keadilan._*

*Politik yang hanya berjangka pendek jangan sampai merubah sorga ini jadi neraka. Jangan berkelahi!*

*_Pandai²lah menahan diri seperti orang berpuasa, jangan jadi pengikut orang² yang haus kekuasaan dan ketamakan luar biasa._*

_*Hormati IBU PERTIWI dengan seluruh jiwaragamu_*
*Dirgahayu Indonesiaku 76th*
🇮🇩🇮🇩🇮🇩❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️🇲🇨🇲🇨🇲🇨
Makanya indonesia jadi rebutan !!!
Apa mau dijajah lagi jadi jongos ???


Dikutip dari WAG Viska

https://www.cyber88.co.id/berita/21822/dr-ratna-rosita-hendardji-surga-bukan-cerita-di-indonesia-hormati-ibu-pertiwi-dengan-seluruh-jiwa-ragamu.html

Saturday, August 14, 2021

Men-Tracing Warga Covid 19

Giat kemanusiaan dari Polri yang diberikan kepada ormas Senkom Mitra Polri yakni menjadi tim penanganan covid 19 pada tugas Tracer.

Sebagaimana dikenal dalam penanganan Covid 19 ada 3T (Test, Tracing dan Treatment.) maka dalam hal ini Senkom MP kota Surakarta bekerjasama dengan Kelurahan, Babinsa, Babinkantimbas, Linmas dan Puskesmas turut kiprah dalam mendampingi, memantau kegiatan swap, edukasi dan tracing..
Cara kerjanya anggota Senkom sejumlah 40 orang dibagi 17 puskesmas se Kota Surakarta, merapat di Puskesmas sebagaimana lokasi penugasan yang telah dibagi bekerjasana dg perwira Polisi untuk mendapatkan data positif covid 19, lalu menanyai pasien yang kontak erat dgnya..lalu mendatangi kontal erat, memintanya bersedia ditest/swap.
Hasilnya positif ato negatif. Jika negatif diminta pulang namun tetep isoman dan prokes. Jika positif pasien diedukasi untuk bisa dibawa ke lokasi layanan terpusat ( isoter).
Suatu kendala tersendiri membawa pasien covid 19 dibawa ke Isoter sangat tidak mudah, hampir banuak pasien pinginnya isolasi mandiri dengan berbagai alasan. 
Di lapangan kita haeus bijaksana sekiranya rumah luas layak isoman maka diberikan ijin.

Gambar saat penjemputan pasien
Saat edukasi warga kontak erat dg pasien positif
Pemantauan giat swab di puskesmas Sumber

*Koordinator Tracer Kecamatan :*
1. Banjarsari : Bp. Sucipto
2. Laweyan : Bp. Triyono
3. Serengan : Bp. Wagirin Hidayat
4. Ps. Kliwon : Bp. Sumidi
5. Jebres : Bp. Haryanto Sugiyono


Berikut nama2 anggota Senkom yang bertugas

*Tim Tracer Senkom SURAKARTA*

*A. Puskesmas Penumping*
1. Fajar Safi'i
2. Fultoni Arifin.

*B. Puskesmas Purwosari*
1. Fajar Arif Y.
2. Jarot triyanto

*C. Puskesmas Pajang*
1. Jonet Subagiyo
2. Joko Aris

*D. Puskesmas Setabelan*
1. Putra Sayekti
2. Mochlis Budiawan
3. Katmin

*E. Puskesmas Manahan*
1. Joko Mulyono
2. Sucipto 
3. Maulana Yafis

*F. Puskesmas Banyuanyar*
1. Abdul Rozak 
2. Echwanta 
3. Darsono 

*G. Puskesmas Gambirsari*
1. Indra Giri
2. Dimas Ananda B
3. Kevin Fabiano

*H. Puskesmas Nusukan*
1. S.Wiyono
2. Kistomo

*I. Puskesmas Gilingan*
1. Saptono Raharjo
2. Joko Sutrisno

*J. Puskesmas Jayengan*
1. Wagirin
2. Triyono

*K. Puskesmas Sibela*
1. Hariyanto Sugiyono
2. Ihsanudin Irsyad A

*L. Puskesmas Kratonan*
1. Langgeng Wiyono
2. Margono Dwinanto

*M. Puskesmas Ngoresan*
1. Ramdani Syaif
2. Ghoni Iman

*N. Puskesmas Purwodiningratan*
1. Budiono
2. Anwar Giyatmoko

*O. Puskesmas Pucangsawit*
1. Mustono
2. Yusuf Erwansyah
3. Wiyoto

*P. Puskesmas Gajahan*
1. Ari Wibowo
2. Mujiyono

*Q. Puskesmas Sangkrah*
1. Suwarno 
2. Layla Tsalsa R 
3. Saebani


*Tambahan*
1. Didik.
2. Agus Purwanto
3. Maryono.
4. Echwanta
5. Anang
6. Sutarso
7. Rochmad fajar
Giat ini merupakan giat kemanusiaan, tanpa ukro, tidak digaji, tidak dibayar hanya ingin berkiprah sebagai sesama anak bangsa yang dicoba sakit lalu Senkom peduli memberi layanan, penanganan, pendampingan dan edukasi..

Monday, May 31, 2021

Vaksin Nusantara dan Dokter Langka, dr.Terawan

 DOKTER LANGKA DOKTER TERAWAN

.

Bila waktu adalah uang, terminologi yang sama atas kondisi pandemi kita dan dunia saat ini pada satu sisi adalah derita namun pada sisi yang lain adalah hadirnya peluang itu sendiri. Rentang waktu yang panjang atas derita rakyat atas pandemi ini adalah kesempatan bagi kita terlibat di dalamnya.

Bukan melulu selalu menjadi penerima, kita diajak untuk memberi. Bukan hanya membeli produk vaksin buatan negara-negara yang lebih dahulu maju, namun membuatnya. Lebih bagus lagi bila mampu menjualnya bukan? 

Sesekali, sebagai bangsa, layak kiranya bila ikhtiar kita bersama mampu membawa bangsa ini maju selangkah. Menjadi inisiator bagi hadirnya teknologi kedokteran meski kemarin itu terlalu jauh dan muluk-muluk.

Kita didorong paksa karena keadaan untuk segera mengambil celah yang kini terbuka sangat lebar. Membuat vaksin untuk 270 juta rakyatnya adalah celah itu sendiri. Itu belum tentu akan terjadi pada kurun waktu 10 atau 100 tahun lagi.

"Bukankah kita telah membeli jutaan vaksin? Kenapa harus pusing buat lagi?"

Varian Delta yang konon kabarnya bermutasi di India ternyata telah meruntuhkan pendapat banyak ahli bahwa dua kali vaksinasi cukup. Booster atau vaksin ke 3 kita dengar harus diberikan pada nakes. Vaksin berbasis mRNA seperti Pfizer atau Moderna kabarnya adalah vaksin yang akan diberikan.

Dari kondisi itu, sebagai awam kita hanya dapat bertanya kenapa tanpa jawab jelas dan pasti. Jawaban sederhananya adalah mutasi virus telah berkembang menjadi lebih kuat. Dan paparan yang terus menerus pada para nakes misalnya, adalah sisi lain kenapa fakta vaksin ke 3 harus diberikan.



Itu bukan kegagalan. Seperti trial dan error, pandemi global yang terjadi dalam waktu sangat singkat dan tiba-tiba meluas dalam skala yang massif menuntut kita mencari jawab yang cepat. Dan jawaban yang cepat biasanya ada tertinggal akurasi.

"Kenapa harus vaksin berbasis mRNA?"

Ketika kita demikian memuji sosok Sarah Gilbert penemu Vaksin AstraZeneca yang menolak hak paten penuh dan sehingga harga vaksin buatannya menjadi murah, di dalam negeri banyak dari kita justru terlihat ingin memojokkan dr Terawan dengan vaksin Nusantaranya. 

Vaksin Nusantara ini adalah produk buatan dalam negeri dan ini adalah tentang celah kita untuk masuk pada wilayah sempit teknologi kedokteran maupun kesehatan. Kita semua tahu bahwa nama Indonesia tak terlihat punya banyak jejak pada wilayah itu. Seharusnya, ini adalah kesempatan.

Rumit peristiwa pro dan kontra atas hasil karyanya jauh lebih sering kita dengar dibanding esensi sebenarnya dari apa vaksin Nusantara itu. Kita lebih sibuk berdebat pada gaung dibanding core atau makna tersembunyi dan hebat dari vaksin buatannya.

Uji coba pada fase pertamanya di Rumah Sakit dr. Karyadi Semarang sukses. Tiga puluh orang sebagai relawan telah divaksin dan tidak menimbulkan efek negatif. 

Pada uji coba fase kedua, dari 220 orang yang berpartisipasi dalam uji klinis vaksin corona tersebut, 139 menyelesaikan penelitian. Dan sebanyak 136 orang dinyatakan aman usai mendapatkan vaksin Nusantara..

Itu sesuai dengan kesaksian peneliti utama vaksin nusantara Kolonel Jonny, dalam  rapat dengar pendapat di DPR RI Komisi VII, Rabu 16/6-2021 yang lalu. Bahkan karena hasil tersebut, anggota komisi VII DPR RI pun menyatakan ingin terlibat.

Uji coba fase ketiga kini mendapat halangan cukup berarti. Dalam sengkarutnya, BPOM dikabarkan tak memiliki wewenang karena itu adalah wilayah milik Kemenkes. Di sisi lain, entah kenapa hingga hari ini uji coba fase ketiga yakni fase penting bagi penentuan oke atau tidaknya vaksin itu beredar secara massal, belum juga mendapat lampu hijau.

"Apa hebatnya sih vaksin Nusantara?"

Bukan cara mana yang lebih baik, namun esensi bahwa anak kita harus menjadi pintar maka sekolah bagi anak adalah wajib. Anda bisa memilih untuk sekolahkan anak anda di luar rumah atau justru mengundang guru masuk dalam rumah anda. Itu hanya soal pilihan.

Teori vaksinasi pada umumnya adalah seperti anda mengundang guru atau biasa kita kenal dengan homeschooling. Sama pada proses home schooling, Vaksin dalam rupa antigen atau virus yang telah dilemahkan maupun virus tiruan (mRNA) itu dimasukkan dalam tubuh.  

Pada vaksin Nusantara, vaksinansi yang digagas oleh dokter Terawan, proses belajar itu terjadi sebaliknya. Anak andalah yang kini justru dikirim belajar di luar. Sel tubuh andalah yang harus sekolah diluar tubuh anda demi belajar.

Ini jenius. Ini ide yang bukan kaleng-kaleng. Bukan memasukkan virus ke dalam tubuh melainkan sel tubuh dalam rupa sel dendritik itulah yang kini harus keluar dari tubuh dan belajar apa itu antibodi.

Sel dendritik diperoleh dengan cara mengambil darah orang yang akan akan diberi antigen atau di vaksin dinluar tubuh. Sel dendritik adalah sel imun yang nantinya setelah dia menjadi pintar akan mengajarkan sel-sel lain untuk memproduksi antibodi.

Di dalam darah manusia diketahui ada tiga macam sel, yakni sel darah merah, sel darah putih, dan sel prekursor dendritik. Sel prekursor dendritik ini belum menjadi sel dendritik.

Sel dendritik bisa tumbuh hanya setelah sel prekursor dendritik ditumbuhkan di cawan laboratorium. Masa sekolah di luar atau masa inkubasi dari sel prekursor dendritik menjadi sel dendritik di dalam cawan ini membutuhkan waktu beberapa hari. Pada masa ini, antigen akan diberikan ke sel dendritik.

Setelah sel dendritik terpapar antigen, sel itu disuntikkan kembali pada orang yang diambil darahnya. 

Sel dendritik yang sudah terpapar antigen itu dan kemarin diambil dari darah Paijo tidak bisa diberikan pada Paimo atau Tarigan. Itu harus disuntikkan kembali pada Paijo. Ini seperti dia yang sekolah di luar dan setelah pintar harus pulang kerumahnya masing-masing dan kemudian menularkan kepintarannya pada saudara-saudaranya.

"Lebih mahal dong harganya?"

Dari paparan anggota Tim Peneliti Vaksin Nusantara FK Undip/RSUP dr Kariadi, Yetty Movieta Nency, vaksin itu dijamin tidak akan lebih mahal.

Paling tidak, Vaksin ini dibuat di dalam negeri, kit dirakit dan didistribusikan oleh perusahaan lokal. Dan ingat lebih dari 90 persen komponen kit dibuat perusahaan lokal.

Paling tidak, produksinya tidak membutuhkan biaya peningkatan skala, karena bisa dibuat tanpa memerlukan pabrik, cukup di buat di tempat pelayanan, misalnya rumah sakit, klinik, atau laboratorium skala kecil.

Paling tidak, tidak ada vaksin cadangan yang harus terbuang, karena dibuat dari sel darah seseorang yang akan kembali diterima oleh orang yang sama ketika sudah menjadi vaksin.

Paling tidak, biaya pengiriman menjadi lebih rendah, karena tidak membutuhkan alat penyimpanan dengan suhu -80 C misalnya.

Paling tidak, vaksin ini akan cocok untuk kondisi medis dimana vaksin yang lain tidak bisa mencakupnya. Ini berasal dari darahnya sendiri.

Paling tidak, vaksin ini mudah diadaptasikan untuk patogen yang baru. Virus itu mengalami mutasi misalnya.

Sekali lagi, menurut Yetti Movieta, harga vaksin ini diperkirakan hanya sekitar 10 dollar AS atau sekitar Rp 140.000 saja. Bandingkan dengan vaksin import yang lain.

"Kenapa tidak direkomendasikan untuk booster atau vaksinasi yang ke 3 saja misalnya?"

Disrupsi seringkali menutupi hal esensial. Kita sering dibuat tak lagi memiliki pegangan pasti manakala gaung sengaja dibuat oleh pihak tertentu menjadi lebih berisik dibanding suara aslinya. Itu adalah salah satu efek negatif dari banyak hal baik atas massifnya informasi yang mampu didatangkan dalam seketika pada era Internet of Things. Namun, kita tak harus kalah bukan?

Bila teknologi kekinian yang dipakai dr Terawan adalah hal baik bagi bangsa ini dan kemudian mampu mengangkat martabat bangsa ini, bukankah seharusnya kita dukung?

Bila di luar sana ada sosok Sarah Gilbert penemu Vaksin AstraZeneca yang menolak hak paten penuh dan kita berterima kasih padanya, tak pantaskah sosok dr Terawan yang berjibaku demi lahir vaksin Nusantara mendapat penghormatan yang sama?

Bukan soal vaksin Nusantara ini pantas atau tidak untuk segera kita gunakan kita harus berdebat, fase ke 3 uji cobanya pun masih mendapat halangan. Ijinkan saja dulu, apapun hasilnya, itulah yang harus menjadi acuan pantas tidaknya vaksin Nusantara ini diproduksi.

Ini seperti Jokowi ingin membangun negara tapi prasangka buruk kita sematkan padanya dan kemudian sebagian dari kita terprovokasi dengan justru sibuk ingin menggulingkannya.

Dengan memberi tempat yang pantas pada ide seorang Terawan, kita seperti memberi ruang bagi inovasi dalam iptek anak negeri ini lahir. Sudah waktunya kita bangun dari tidur panjang. Sudah saatnya kita berbincang tentang science dalam keseharian kita. Dan vaksin Nusantara adalah tentang cara bangsa ini ingin mencapai keunggulannya pada bidang science.

Bukan tentang vaksin ini harus diterima dan maka negara ini akan menempati posisi pantas, debat sehat dengan argumen berdasar science adalah wasit paling tepat. Di sana, mafia alkes tak harus menjadi rujukan atau bahkan tuduhan agar debat ini berlangsung dengan sehat. 

Di sana like and dislike pada sosok dan pribadi bukan pula menjadi acuan. Membudayakan debat berdasar logis dan data, di sana budaya seperti itu akan membimbing bangsa ini menempati posisinya. 

Terawan pantas kita hormati bukan karena sebab vaksin Nusantaranya diproduksi massal, budaya science yang dia geluti adalah kunci bagi cara bangsa ini bangun.

.

Sumber : RAHAYU - Karto Bugel