Powered by Blogger.

Saturday, August 14, 2021

Hidayah, Tiada Tanding Tiada Banding

 

Hidayah, Tiada Tanding Tiada Banding

Oleh Darsono – SMK Negeri 6 Surakarta

 


Di masa jayanya dunia warung internet (warnet) Sony dipercaya mengembangkan usaha warnet di sekolahnya. Pelanggan warnet adalah para siswa di sekitar lingkungan sekolah dan berkembang pesat ke masyakarat umum, hingga warnet yang sebelumnya tutup jam pulang sekolah (sore) lama-lama dibuka 24 jam.  Makin rame saja warnet yang diberi nama VISKANET itu sampai memiliki pelanggan setia yang selalu datang tiap malam hingga pagi hari dengan omzet yang cukup besar bisa membayar operasional, gaji karyawan dan perawatan sendiri.

Sampai pada akhirnya warnet mulai sepi karena alat semakin banyak yang rusak tidak terawat karena kerusakannya cukup parah, hingga warnet sekolah dikontrak oleh pihak luar. Inilah awal Sony terpuruk, pendapatan kedua (second salary) dari warnet hilang, baya cicilan rumah baru pun mulai “megap-megap” karena tidak ada pemasukan.  Mulailah Sony mencari tambahan penghasilan di luar dan benar saja, mendapatkan pekerjaan sebagai penjaga warnet di Solo Balapan. Berangkat jam 17.00 hingga malam dan dini hari dilaluinya dengan letih lelah agar dapat mencukupi dan menutup angsuran rumah.  Sambil tetap memohon pada Allah agar diberikan jalan keluar dari masalah yang berat ini. Masalah yang belum pernah dihadapinya selama hidup yakni terpuruk dalam hidup yang besar pasak daripada tiang.



Suatu hari Sony mendapatkan Chat/messenger dari Direktorat Menengah Kejuruan (Dikmenjur) Jakarta untuk menjadi tenaga relawan penanganan korban Gempa Tsunami khusus pendataan Gedung dan sekolah rusak, Sony langsung mengiyakan saja. Segala resiko dipikir belakang, semua surat ijin dan prosedur birokrat dilalui walaupun berat dan berliku. Sony berangkat ke Jakarta dan sesampainya di Jakarta keesokan harinya langsung berangkat lagi ke Aceh. Sony mendapatkan tugas penting yakni menjadi konsultan dan koordinator penanganan pendataan sekolah rusak di seluruh wilayah Kab.Aceh Timur. Penugasan luar pulau ini berjalan hampir 1,5 tahun lamanya, penugasan yang berat meninggalkan anak, istri, mertua yang sudah tua renta. Namun Sony tetap berprinsip agar penugasan ini lancar dan cepat selesai tanpa masalah yang berat. Sony tetap ingin pulang dan berkumpul dengan keluaganya seperti keluarga yang lain.

Selepas pulang tugas dari Kemendikbud kerjasama UNICEF dlm program penanganan pasca gempa tsunami Aceh th 2006 Sony ingin berevolusi menjadi orang baik, ingin ibadah yg lbh khusuk dari biasanya, ingin ngaji, ikut pengajian yg istiqomah hanya urusan ibadah dg tujuan masuk surga selamat dari neraka. Fenomena alam Aceh yg dilanda bencana gempa dan tsunami sungguh membuat bulu kuduk berdiri, ngeri, dahsyat dan luar biasa kekuasaan Allah. Hanya beberapa menit bumi Aceh diterpa, dihantam gempa tsunami dampaknya luar biasa. Tiada makhluk bumi yang bisa melawan dan menghindari kejadian ini.

Pikiran Sony hanya satu, ingin ikut ngaji yg benar, spt bukunya RA Kartini " Habis Gelap Terbitlah Terang" di situ Kartini muda berdebat dengan gurunya kalau dia ingin membaca Al Quran juga tahu artinya, tahu maknanya, tahu keterangannya, dan tahu cara prakteknya. Maka Al Quran nya Kartini muda saat itu dicoret-coret, diberi arti dan ditegur gurunya, kalau Al Quran itu tdk boleh diberi tanda, tulisan, coretan.

Singkat cerita Sony dikenalkan istri seorang kyai di desanya dan dijanjikan bertemu di Masjid Baitul Rohman. Ketemulah keduanya, saat itu sedang ada pengajian umum remaja desa, mubaligh yang tampil anak remaja yang fasih membaca Al Quran dan memaknainya.

Malu-malu Sony mendatangi kyai yang sedang duduk-duduk di serambi masjid bersama beberapa jamaahnya sekaligus menunggui para remaja yang sedang mengaji.

"Assalamu Alaikum"......ucap salam Sony.

"Wa alaikum salam" ...sambut kyai Minto

"Pak Kyai, Saya mau ikut ngaji di sini?" Pinta Sony.

"Emangnya bapak dari mana?" tanya kyai Minto.

Saat itu memang wajah Sony berpenampilan beda mirip orang Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang sekarang berevolusi menjadi Partai lokal GAM. sony berambut cepak militer, badan kekar, kulit agak hitam seperti orang baru pulang perang. Jadi tidak kaget jika bapak kyai Minto bertanya seperti itu.

"Saya orang Kadipiro. (Solo). Baru pulang dari tugas dinas di Aceh. Dijelaskan baru pulang dari Aceh mendapatkan tugas melakukan pendataan gedung sekolah korban gempa Tsunami. Lalu pak Minto berjanji mengirim ustadz/mubaligh ke rumah untuk dibimbing, belajar agama mulai dari nol banget, belajar mulai membaca Al-Qur’an dan membaca hadist dan dali-dalil penting.

Sejak saat itulah Sony memulai lembaran baru belajar ilmu agama yang benar-benar murni dari awal mulai hadist tentang bersuci, berwudhu, sholat dalam hadist Kitabussholah, kitab Adab, kitab Adillah, kitab Shaum dan lain-lain, tentunya pengajian Al-Quran juga diperdalam secara maknawiyah (diartikan, dideres, dijelaskan, diterangkan, dipraktekkan).

Apa ini artinya hidayah, hidup Sony seperti mendapatkan perubahan baru yang positif, perubahan yang pernah diimpikannya selama hidup, memiliki istri yang sholehah, anak yang paham agama, tafidz Al-Quran dan mendapatkan rejeki di negeri sendiri. Dan benar saja yang dirasakan selama ini sudah terjawab dengan jalan cerita Allah secara sempurna. Sungguh sebuah jalan cerita yang luar biasa, tanpa disadari semuanya berjalan seperti air mengalir.

Hidayah berarti perkara yang paling penting dan kebutuhan yang paling besar mendasar dalam kehidupan manusia. Betapa tidak, hidayah adalah sebab utama keselamatan dan kebaikan hidup manusia di dunia dan akhirat. Sehingga barangsiapa yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala untuk meraihnya, maka sungguh dia telah meraih keberuntungan yang besar dan tidak akan ada seorangpun yang mampu mencelakakannya.

Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi (dunia dan akhirat)” (QS al-A’raaf:178).

Hidayah itu sebuah anugrah yang tidak ada yang jual dan tidak ada yang bisa membelinya. Hidayah datang dan pergi seperti tercabutnya helai rambut yang diambil dari adunan tepung. Harga hidayah benar-benar tidak ada harga yang pantas kecuali mendapatkan ganjaran surga jauh dari neraka.  Bahwasannya tujuan hidup dunia hanyalah mengharapkan masuk surga dan selamat dari neraka, itulah satu-satunya tujuan yang paling mulia diantara tujuan kesuksesan manusia di dunia.

Hidayah datang bukan sendirian, tetapi melalui perantara seseorang, bisa sengaja ataupun tanpa kesengajaan. Seperti Sony ini yang mendapatkan hidayah dengan tanpa sengaja, yang berkeinginan membaca Al-Qur’an dengan sedikit banyak langsung mengerti maksudnya, mengerti artinya, setidaknya paham apa yang dibacanya. Tanpa sengaja hadir saudara yang bertamu dengan tujuan mengenalkan produk kosmetik dan kesehatan pada keluarga Sony. Obrolan bisnis sampai obrolan bab ibadah dan mengaji sampailah pada suatu hari lain ibu itu datang lagi dengan membawa dalil-dalil hadist yang sudah dicoret-coret (dimaknai dg bahasa Indonesia dan Jawa) lengkap dan bisa menjelaskan secara baik dari tulisan tersebut seperti menjelaskan kitab Kuning saja. Dari situlah sedikit demi sedikit keluarga Sony mampu membuka diri untuk menerima hidayah dari ibu itu.

Tahun demi tahun, bulan demi bulan berjalan hari demi hari berlalu hingga saat ini keluarga Sony berada pada jalan yang lurus jalan menuju keluaga islami yang dirahmati Allah diridhoi Allah masuk surga selamat dari neraka. Tugas membina keluarga beribadah dengan tertib dan benar ibarat orang berjalan yang penting selamat, orang ibadah yang penting benar. Ibarat orang berkasus hukum yang penting bisa menang, ibarat orang yang salah atau disalahkan yang penting bisa diringankan dan diampuni. Sony memastikan anak-anaknya rajin ibadah, bisa “diramut” dalam naungan masjid, bisa mengerjakan sholat lima waktu dengan tertib, biasakan diri menghafal Al-Quran dan Alhamdulillah satu per satu anak telah mampu menyelesaikan beberapa juz dalam Al-Quran walaupun belum 100 % katam. Namun perjalanan menuju hafal Al-Quran masih panjang dan berliku.

Memastikan anak-anak menjalankan enam tabiat luhur yakni selalu jujur, amanah, rukun, kompak, kerja sama yang baik dan hidup sederhana / hidup hemat. Keluarga Sony memastikan anak-anak bergaul pada lingkungan yang benar, memiliki kawan teman yang baik, bergaul dengan keluarga yang baik-baik agar tertular virus kebaikan pada diri anak dan diri mereka pula. Saling mengingatkan, saling menasehati dalam kebaikan dan berlomba dalam kebaikan, dan tolong menolog dalam kebaikan.

Sony selalu menyakinkan pada anak-anak jika hidup di masyarakat harus bisa berbudi luhur, bicara yang baik, sopan dalam tindakan dan santun dalam  tutur kata, bicara “pahit madu”, tata krama, selalu “takdim” pada orang tua dan mengagungkan pada apa saja yang layak diagungkan seperti Al-Quran, Hadist, kitab-kitab, buku-buku dan mengagungkan orang tua. Selalu berucap syukur Alhamdulillah pada Allah, syukur pada orang-orang yang wajib disyukuri serta berjalan dalam kebaikan dan selalu berdoa untuk kebaikan semuanya.

Sekarang hampir 15 tahun sudah berlalu peristiwa gempa tsunami yang melatarbelakangi Sony pergi ke Daerah Istimewa Aceh untuk membantu sahabat, saudara se tanah air untuk rekonsiliasi korban dan bangkit dari keterpurukan bencana yang dahsyat, telah mengantarkan Sony dan keluarganya bangkit dari “keterbelakangan aqidah” menuju kepahaman pada agama yang lurus, agama yang benar sesuai Qu’an Hadist. Gempa tsunami telah memberikan hikmah yang besar kepada diri Sony. Sony ketemu banyak orang di Aceh yang memberikan nasehat salah satunya adalah hidup di dunia yang akan dicari apa kalau sudah seperti ini (gempa), semua berantakan, semua luluh lantak dalam hitungan menit dan detik tidak berbekas, apa yang dikumpulkan bertahun-tahun tidak ada artinya kecuali ibadah pada Allah, kecuali mengabdi mencari kebaikan sebanyak-banyaknya untuk menuju keabadian. Sampai seorang ibu rumah tangga istri seorang PNS di Aceh mengatakan bahwa sudah tidak ingin lagi banyak keinginan duniawi (harta, benda, jabatan) dia hanya ingin mohon ampun, diampuni Allah dan dapat diselamatkan oleh Allah dari azab dan siksaan.

Pada saat ini Kita telah berada di penghujung tahun 2019 dan beberapa hari lagi akan memasuki tahun baru 2020 Masehi. Tentu setiap akhir dan pergantian tahun memiliki makna yang sangat dalam bagi kehidupan manusia.  Kedalaman makna itu dapat dirasakan oleh setiap manusia itu sendiri, dimana pada satu sisi di awal tahun baru sebagai tempat harapan untuk mencapai kesuksesan ke depannya, pada sisi lain kegagalan yang terjadi di tahun sebelumnya janganlah terjadi di tahun yang akan dijalani serta ada sisi lain yang pasti terjadi yaitu karena hidup manusia pasti akan berkurang sesuai dengan jatah usia yang diberikan oleh Allah SWT. Oleh karena itulah, manusia sangat perlu melakukan perenungan (tafakur) terhadap diri sendiri. Di samping itu juga sebaiknya manusia melakukan muhasabah yaitu melakukan evaluasi diri terhadap kebaikan dan keburukan yang telah dilakukan dalam segala hal baik yang ada hubungannya dengan ibadah kepada Allah SWT (hubungan vertikal) maupun ada sangkut pautnya dengan hubungan antara makhluk terhadap perjalanan hidupnya (hubungan horizontal).

Tentu dengan berakhirnya tahun 2019 ini sebagai  momentum untuk Kita gunakan sebagai bahan muhasabah terhadap diri Kita masing-masing apakah di tahun yang akan Kita tinggalkan ini lebih banyak nilai-nilai kebaikan dan ibadah kepada Allah SWT ataukah sebaliknya lebih banyak nilai kejelekannya? Maka jawabannya ada pada diri kita masing-masing untuk menilainya. Jika posisi Kita berada pada zona lebih baik dari tahun sebelumnya maka Kita berada pada zona keberuntungan. Jikalau sama dengan tahun lalu maka nilainya berada pada zona tertipu, tetapi sebaliknya jika lebih jelek dari tahun sebelumnya maka Kita telah berada pada zona kerugian. Apabila lebih banyak nilai kebaikan dan ibadahnya maka kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung, pun-demikian sebaliknya apabila banyak nilai kesalahan dan dosa-dosanya, maka Kita termasuk dalam golongan orang yang merugi.

Maka, beruntunglah Kita yang oleh Allah SWT diberi umur yang panjang banyak melakukan amal kebaikan, sebagaimana Rasulullah SAW menyampaikan dalam hadis yang artinya: “Sebaik-baik manusia ialah yang diberi umur panjang dan dia gunakan untuk melakukan kebaikan, dan sejelek-jelak manusia apabila diberi umur yang panjang tetapi dia gunakan untuk perbuatan kejelekan”. (HR: Ahmad). Pada hadis yang lain Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Barang siapa keadaan hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka dia beruntung dan barangsiapa keadaan hari ini sama dengan hari hari kemarin dia tertipu dan barangsiapa keadaan hari ini lebih jelek dari hari kemarin, berarti dia terlaknat” (HR. Baihaqi)

Berdasarkan hadis Rasulullah SAW di atas, manusia yang beruntung adalah manusia yang tahu diri, tahu kemampuan yang ada padanya, tahu perhitungannya, mengetahui posisi pribadinya dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh karena itu, kesadaran akan pengawasan Allah SWT mendorong seseorang mukmin untuk dapat melakukan muhasabah atau evaluasi diri terhadap amal perbuatan, tingkah laku, sikap dan hatinya dalam hal ini adalah muraqabah yaitu upaya diri untuk senantiasa merasa terawasi oleh Allah SWT dengan jalan mewaspadai dan mengawasi diri sendiri.

Muhasabah dapat dilakukan sebelum dan sesudah melakukan amal perbuatan. Sebelum melakukan sesuatu seseorang harus mempertimbangkan terlebih dahulu, baik-buruknya, manfaat-mudharatnya serta menilai kembali motivasinya dalam melakukan suatu amalan. Adapun muhasabah sesudah melakukan amal perbuatan ada tiga macam, yaitu; 1) muhasabah hak Allah SWT yaitu tentang keikhlasannya dalam beramal karena Allah SWT, kesesuaian amalannya dengan petunjuk Rasulullah SAW, sikap ikhsannya dalam beramal, 2) muhasabah pada amalan yang akan lebih baik tidak dilakukan daripada melakukannya, dan 3) muhasabah terhadap amalan mubah atau kebiasaannya. Kenapa dilakukan? Apakah dilakukannya untuk mendapatkan ridha Allah SWT dan kehidupan akhirat? Jika memang mencari ridha Allah SWT tentunya orang yang beramal akan beruntung, namun jika tidak maka dia akan merugi.

Di antara beberapa manfaat muhasabah antara lain; 1) untuk mengetahui kelemahan diri manusia supaya dia dapat memperbaikinya. Karena orang yang tidak mengetahui kelemahan dirinya, maka ia tidak akan mau mengubah pribadinya menjadi lebih baik, 2) sebagai petunjuk manusia untuk tetap berada di jalan yang diridhai oleh Allah SWT karena manusia dapat berhati-hati untuk tidak melakukan sesuatu perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT, 3) selalu menganggap diri penuh dengan kekurangan dan kelamahan dan tidak tertipu dengan amal yang dilakukan, 4) membuat diri seseorang tidak merasa sombong atau takabbur karena merasa yang terbaik dari manusia lainnya, 4) seseorang akan mampu memanfaaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk dapat melakukan suatu perbuatan yang positif dan beribadah kepada Allah SWT, dan 5) untuk mengetahui hak Allah SWT karena orang yang tidak mengetahui hak Allah SWT atas dirinya, maka ibadahnya tidak akan bermanfaat bagi dirinya.

Oleh karena itu, cara kita untuk bisa berada pada zona keberuntungan hidup adalah dengan mensyukuri nikmat umur panjang yang diberikan Allah kepada kita adalah dengan cara mengucapkan kalimah alhamdulillah dan banyak berbuat kebaikan, beribadah kepada Allah SWT, menjalankan semua perintah-Nya dan berusaha menjauhi larangan-Nya serta selalu mengikuti sunnah dan syariat yang dibawa oleh baginda Rasulullah SAW. Sesungguhnya Allah memberikan umur dan kesempatan hidup lebih panjang dan kesehatan ini merupakan anugerah yang sangat besar dan tidak ternilai harganya dengan apapun, baik harta, rezeki, kedudukan dan pangkat. Akan tetapi harus kita ingat dibalik anugerah yang besar tersebut, manusia dituntut untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah SWT, sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur`an surat Adz-Dzariyat: 56 yang artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Berdasarkan ayat di atas, jelas tidak ada tujuan lain Allah SWT menciptakan manusia di dunia ini kecuali hanya untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah SWT semata, kata ibadah apabila diartikan secara lebih luas tidak hanya semata-mata ritual ibadah semata, akan tetapi memaknai manusia sebagai khalifah fil-Ard yakni melestarikan dan menjaga alam semesta ini, mengisi hal-hal yang membawa kemanfaatan dan kebaikan bagi orang lain. Sesungguhnya kita manusia diberikan amanah  oleh Allah SWT untuk menjadi khalifah di muka bumi ini yang bertugas untuk mengolah, mengatur dan menyelenggarakan sesuatu kehidupan yang damai, adil dan makmur, sejahtera, bahagia untuk meraih kemaslahatan kehidupan yang berlandaskan agama, al-Qur`an dan al-Hadis. Tegasnya, tugas kita sebagai manusia adalah mendapatkan  kebahagiaan dan kemaslahatan di dunia ini untuk mempersiapkan bekal kepentingan akhirat. Dua macam tujuan hidup  inilah yang harus kita upayakan di dunia dengan cara meningkatkan semangat dan etos kerja yang tinggi, dan selalu beribadah kepada-Nya.

Memasuki tahun 2020 kita semua berharap bisa menjadi pribadi yang lebih baik, pribadi yang berakhlakul karimah, pribadi yang mulia di mata Allah dan manusia. Walaupun tahun demi tahun sesungguhnya makin rusaknya akhlak manusia sebagaimana dalil : ” tidak akan datang suatu tahun, kecuali tahun sesudahnya akan lebih jelek dari tahun sebelumnya”. (Hr. Bukhori).  Bersabarlah, sebab tidaklah kalian menjalalni suatu zaman, melainkan sesudahnya lebih buruk daripadanya, sampai kalian menjumpai rabb kalian. Aku mendengar hadit ini dari Nabi kalian Shallallahu'alaihiwasallam.' [HR. Bukhari No.6541].

Bertambahnya tahun maka semakin jeleklah tahun itu (dipandang dari sisi Agama) , jeleknya bukan dalam konteks duniawi seperti perkembangan teknologi melainkan moral dan akhlak yang semakin rusak, kita pun tahu orang orang zaman dulu ketika bergaul masih malu-malu apalagi bergaul dengan yang berbeda jenis, ta’dzim seorang anak kepada orang tua juga sudah berbeda, dan sekarang sudah banyak anak anak yang melakukan kegiatan kedewasaan, hal tersebut menunjukkan bahwa kerusakan moral dan akhlak telah terjadi.

Tugas kita semua adalah mengawal tahun baru menjadi awal tahun yang memperbaiki, yang menyemangati, yang menjanjikan, yang menghadirikan kesejukkan, kenyamanan, masa depan dan harapan yang setinggi-tingginya untuk kebaikan semuanya. Sebagai seorang Sony juga berharap besar untuk selalu menjadi pribadi yang banyak bersyukur, banyak berdoa dan banyak istighfar serta banyak beramal sholeh. Karena hanya seperti inilah mata uang yang akan menjadi alat tukar nanti di akhirat, bukan mata uang rupiah, dollar bukan pula mata uang cripto currency, tapi mata uang amalan, mata uang ibadah berupa mata uang amal sholeh. Oleh karena itu modal untuk memperbaiki diri adalah :

1.          Berhenti Berpikir Negatif

2.          Berhenti Menjadi Pemalu dan Tunjukkan Siapa Dirimu!

3.          Berhenti Bergosip

4.          Berhenti Menunda Hal Penting

5.          Berhenti Melakukan Hal-Hal yang Merugikan

6.          Berhenti Galau-in Mantan


Sumber : telah ditulis penulis dalam buku berjudul The Stories of Move On

 

(((((((())))))))))))