Hidayah, Tiada Tanding Tiada Banding
Oleh Darsono – SMK Negeri 6 Surakarta
Di masa jayanya
dunia warung internet (warnet) Sony dipercaya mengembangkan usaha warnet di
sekolahnya. Pelanggan warnet adalah para siswa di sekitar lingkungan sekolah
dan berkembang pesat ke masyakarat umum, hingga warnet yang sebelumnya tutup
jam pulang sekolah (sore) lama-lama dibuka 24 jam. Makin rame saja warnet yang diberi nama
VISKANET itu sampai memiliki pelanggan setia yang selalu datang tiap malam
hingga pagi hari dengan omzet yang cukup besar bisa membayar operasional, gaji
karyawan dan perawatan sendiri.
Sampai pada
akhirnya warnet mulai sepi karena alat semakin banyak yang rusak tidak terawat
karena kerusakannya cukup parah, hingga warnet sekolah dikontrak oleh pihak
luar. Inilah awal Sony terpuruk, pendapatan kedua (second salary) dari warnet hilang, baya cicilan rumah baru pun
mulai “megap-megap” karena tidak ada pemasukan. Mulailah Sony mencari tambahan penghasilan di
luar dan benar saja, mendapatkan pekerjaan sebagai penjaga warnet di Solo
Balapan. Berangkat jam 17.00 hingga malam dan dini hari dilaluinya dengan letih
lelah agar dapat mencukupi dan menutup angsuran rumah. Sambil tetap memohon pada Allah agar
diberikan jalan keluar dari masalah yang berat ini. Masalah yang belum pernah
dihadapinya selama hidup yakni terpuruk dalam hidup yang besar pasak daripada
tiang.
Suatu hari Sony
mendapatkan Chat/messenger dari Direktorat Menengah Kejuruan (Dikmenjur)
Jakarta untuk menjadi tenaga relawan penanganan korban Gempa Tsunami khusus
pendataan Gedung dan sekolah rusak, Sony langsung mengiyakan saja. Segala
resiko dipikir belakang, semua surat ijin dan prosedur birokrat dilalui
walaupun berat dan berliku. Sony berangkat ke Jakarta dan sesampainya di
Jakarta keesokan harinya langsung berangkat lagi ke Aceh. Sony mendapatkan
tugas penting yakni menjadi konsultan dan koordinator penanganan pendataan
sekolah rusak di seluruh wilayah Kab.Aceh Timur. Penugasan luar pulau ini
berjalan hampir 1,5 tahun lamanya, penugasan yang berat meninggalkan anak,
istri, mertua yang sudah tua renta. Namun Sony tetap berprinsip agar penugasan
ini lancar dan cepat selesai tanpa masalah yang berat. Sony tetap ingin pulang
dan berkumpul dengan keluaganya seperti keluarga yang lain.
Selepas pulang
tugas dari Kemendikbud kerjasama UNICEF dlm program penanganan pasca gempa tsunami
Aceh th 2006 Sony ingin berevolusi menjadi orang baik, ingin ibadah yg lbh
khusuk dari biasanya, ingin ngaji, ikut pengajian yg istiqomah hanya urusan
ibadah dg tujuan masuk surga selamat dari neraka. Fenomena alam Aceh yg dilanda
bencana gempa dan tsunami sungguh membuat bulu kuduk berdiri, ngeri, dahsyat
dan luar biasa kekuasaan Allah. Hanya beberapa menit bumi Aceh diterpa,
dihantam gempa tsunami dampaknya luar biasa. Tiada makhluk bumi yang bisa
melawan dan menghindari kejadian ini.
Pikiran Sony
hanya satu, ingin ikut ngaji yg benar, spt bukunya RA Kartini " Habis
Gelap Terbitlah Terang" di situ Kartini muda berdebat dengan gurunya kalau
dia ingin membaca Al Quran juga tahu artinya, tahu maknanya, tahu
keterangannya, dan tahu cara prakteknya. Maka Al Quran nya Kartini muda saat
itu dicoret-coret, diberi arti dan ditegur gurunya, kalau Al Quran itu tdk
boleh diberi tanda, tulisan, coretan.
Singkat cerita
Sony dikenalkan istri seorang kyai di desanya dan dijanjikan bertemu di Masjid
Baitul Rohman. Ketemulah keduanya, saat itu sedang ada pengajian umum remaja
desa, mubaligh yang tampil anak remaja yang fasih membaca Al Quran dan
memaknainya.
Malu-malu Sony
mendatangi kyai yang sedang duduk-duduk di serambi masjid bersama beberapa
jamaahnya sekaligus menunggui para remaja yang sedang mengaji.
"Assalamu Alaikum"......ucap salam
Sony.
"Wa alaikum salam" ...sambut kyai
Minto
"Pak Kyai,
Saya mau ikut ngaji di sini?" Pinta Sony.
"Emangnya
bapak dari mana?" tanya kyai Minto.
Saat itu memang
wajah Sony berpenampilan beda mirip orang Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang
sekarang berevolusi menjadi Partai lokal
GAM. sony berambut cepak militer, badan kekar, kulit agak hitam seperti
orang baru pulang perang. Jadi tidak kaget jika bapak kyai Minto bertanya
seperti itu.
"Saya
orang Kadipiro. (Solo). Baru pulang dari tugas dinas di Aceh. Dijelaskan baru
pulang dari Aceh mendapatkan tugas melakukan pendataan gedung sekolah korban
gempa Tsunami. Lalu pak Minto berjanji mengirim ustadz/mubaligh ke rumah untuk
dibimbing, belajar agama mulai dari nol banget, belajar mulai membaca Al-Qur’an
dan membaca hadist dan dali-dalil penting.
Sejak saat
itulah Sony memulai lembaran baru belajar ilmu agama yang benar-benar murni
dari awal mulai hadist tentang bersuci, berwudhu, sholat dalam hadist
Kitabussholah, kitab Adab, kitab Adillah, kitab Shaum dan lain-lain, tentunya
pengajian Al-Quran juga diperdalam secara maknawiyah (diartikan, dideres,
dijelaskan, diterangkan, dipraktekkan).
Apa ini artinya
hidayah, hidup Sony seperti mendapatkan perubahan baru yang positif, perubahan
yang pernah diimpikannya selama hidup, memiliki istri yang sholehah, anak yang
paham agama, tafidz Al-Quran dan mendapatkan rejeki di negeri sendiri. Dan
benar saja yang dirasakan selama ini sudah terjawab dengan jalan cerita Allah
secara sempurna. Sungguh sebuah jalan cerita yang luar biasa, tanpa disadari
semuanya berjalan seperti air mengalir.
Hidayah berarti perkara yang
paling penting dan kebutuhan yang paling besar mendasar dalam kehidupan
manusia. Betapa tidak, hidayah adalah sebab utama keselamatan dan kebaikan
hidup manusia di dunia dan akhirat. Sehingga barangsiapa yang dimudahkan oleh
Allah Ta’ala untuk meraihnya, maka sungguh dia telah meraih
keberuntungan yang besar dan tidak akan ada seorangpun yang mampu
mencelakakannya.
“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah,
maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat);
dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi
(dunia dan akhirat)” (QS al-A’raaf:178).
Hidayah itu sebuah
anugrah yang tidak ada yang jual dan tidak ada yang bisa membelinya. Hidayah
datang dan pergi seperti tercabutnya helai rambut yang diambil dari adunan
tepung. Harga hidayah benar-benar tidak ada harga yang pantas kecuali
mendapatkan ganjaran surga jauh dari neraka.
Bahwasannya tujuan hidup dunia hanyalah mengharapkan masuk surga dan
selamat dari neraka, itulah satu-satunya tujuan yang paling mulia diantara
tujuan kesuksesan manusia di dunia.
Hidayah datang
bukan sendirian, tetapi melalui perantara seseorang, bisa sengaja ataupun tanpa
kesengajaan. Seperti Sony ini yang mendapatkan hidayah dengan tanpa sengaja,
yang berkeinginan membaca Al-Qur’an dengan sedikit banyak langsung mengerti
maksudnya, mengerti artinya, setidaknya paham apa yang dibacanya. Tanpa sengaja
hadir saudara yang bertamu dengan tujuan mengenalkan produk kosmetik dan
kesehatan pada keluarga Sony. Obrolan bisnis sampai obrolan bab ibadah dan
mengaji sampailah pada suatu hari lain ibu itu datang lagi dengan membawa
dalil-dalil hadist yang sudah dicoret-coret (dimaknai dg bahasa Indonesia dan
Jawa) lengkap dan bisa menjelaskan secara baik dari tulisan tersebut seperti
menjelaskan kitab Kuning saja. Dari situlah sedikit demi sedikit keluarga Sony
mampu membuka diri untuk menerima hidayah dari ibu itu.
Tahun demi
tahun, bulan demi bulan berjalan hari demi hari berlalu hingga saat ini
keluarga Sony berada pada jalan yang lurus jalan menuju keluaga islami yang
dirahmati Allah diridhoi Allah masuk surga selamat dari neraka. Tugas membina
keluarga beribadah dengan tertib dan benar ibarat orang berjalan yang penting
selamat, orang ibadah yang penting benar. Ibarat orang berkasus hukum yang
penting bisa menang, ibarat orang yang salah atau disalahkan yang penting bisa
diringankan dan diampuni. Sony memastikan anak-anaknya rajin ibadah, bisa
“diramut” dalam naungan masjid, bisa mengerjakan sholat lima waktu dengan
tertib, biasakan diri menghafal Al-Quran dan Alhamdulillah satu per satu anak telah
mampu menyelesaikan beberapa juz dalam Al-Quran walaupun belum 100 % katam.
Namun perjalanan menuju hafal Al-Quran masih panjang dan berliku.
Memastikan
anak-anak menjalankan enam tabiat luhur yakni selalu jujur, amanah, rukun,
kompak, kerja sama yang baik dan hidup sederhana / hidup hemat. Keluarga Sony
memastikan anak-anak bergaul pada lingkungan yang benar, memiliki kawan teman
yang baik, bergaul dengan keluarga yang baik-baik agar tertular virus kebaikan
pada diri anak dan diri mereka pula. Saling mengingatkan, saling menasehati
dalam kebaikan dan berlomba dalam kebaikan, dan tolong menolog dalam kebaikan.
Sony selalu
menyakinkan pada anak-anak jika hidup di masyarakat harus bisa berbudi luhur,
bicara yang baik, sopan dalam tindakan dan santun dalam tutur kata, bicara “pahit madu”, tata krama,
selalu “takdim” pada orang tua dan
mengagungkan pada apa saja yang layak diagungkan seperti Al-Quran, Hadist,
kitab-kitab, buku-buku dan mengagungkan orang tua. Selalu berucap syukur
Alhamdulillah pada Allah, syukur pada orang-orang yang wajib disyukuri serta
berjalan dalam kebaikan dan selalu berdoa untuk kebaikan semuanya.
Sekarang hampir
15 tahun sudah berlalu peristiwa gempa tsunami yang melatarbelakangi Sony pergi
ke Daerah Istimewa Aceh untuk membantu sahabat, saudara se tanah air untuk
rekonsiliasi korban dan bangkit dari keterpurukan bencana yang dahsyat, telah
mengantarkan Sony dan keluarganya bangkit dari “keterbelakangan aqidah” menuju
kepahaman pada agama yang lurus, agama yang benar sesuai Qu’an Hadist. Gempa
tsunami telah memberikan hikmah yang besar kepada diri Sony. Sony ketemu banyak
orang di Aceh yang memberikan nasehat salah satunya adalah hidup di dunia yang
akan dicari apa kalau sudah seperti ini (gempa), semua berantakan, semua luluh
lantak dalam hitungan menit dan detik tidak berbekas, apa yang dikumpulkan
bertahun-tahun tidak ada artinya kecuali ibadah pada Allah, kecuali mengabdi
mencari kebaikan sebanyak-banyaknya untuk menuju keabadian. Sampai seorang ibu
rumah tangga istri seorang PNS di Aceh mengatakan bahwa sudah tidak ingin lagi
banyak keinginan duniawi (harta, benda, jabatan) dia hanya ingin mohon ampun,
diampuni Allah dan dapat diselamatkan oleh Allah dari azab dan siksaan.
Pada saat ini Kita telah berada di penghujung tahun 2019 dan
beberapa hari lagi akan memasuki tahun baru 2020 Masehi. Tentu setiap akhir dan
pergantian tahun memiliki makna yang sangat dalam bagi kehidupan manusia. Kedalaman makna itu dapat
dirasakan oleh setiap manusia itu sendiri, dimana pada satu sisi di awal tahun
baru sebagai tempat harapan untuk mencapai kesuksesan ke depannya, pada sisi
lain kegagalan yang terjadi di tahun sebelumnya janganlah terjadi di tahun yang
akan dijalani serta ada sisi lain yang pasti terjadi yaitu karena hidup manusia
pasti akan berkurang sesuai dengan jatah usia yang diberikan oleh Allah SWT.
Oleh karena itulah, manusia sangat perlu melakukan perenungan (tafakur)
terhadap diri sendiri. Di samping itu juga sebaiknya manusia melakukan muhasabah yaitu
melakukan evaluasi diri terhadap kebaikan dan keburukan yang telah dilakukan
dalam segala hal baik yang ada hubungannya dengan ibadah kepada Allah SWT
(hubungan vertikal) maupun ada sangkut pautnya dengan hubungan antara makhluk
terhadap perjalanan hidupnya (hubungan horizontal).
Tentu
dengan berakhirnya tahun 2019 ini sebagai momentum
untuk Kita gunakan sebagai bahan muhasabah terhadap diri Kita
masing-masing apakah di tahun yang akan Kita tinggalkan ini lebih banyak
nilai-nilai kebaikan dan ibadah kepada Allah SWT ataukah sebaliknya lebih
banyak nilai kejelekannya? Maka jawabannya ada pada diri kita masing-masing untuk
menilainya. Jika posisi Kita berada pada zona lebih baik dari tahun sebelumnya
maka Kita berada pada zona keberuntungan. Jikalau sama dengan tahun lalu maka
nilainya berada pada zona tertipu, tetapi sebaliknya jika lebih jelek dari
tahun sebelumnya maka Kita telah berada pada zona kerugian. Apabila lebih
banyak nilai kebaikan dan ibadahnya maka kita termasuk golongan orang-orang
yang beruntung, pun-demikian sebaliknya apabila banyak nilai kesalahan dan
dosa-dosanya, maka Kita termasuk dalam golongan orang yang merugi.
Maka,
beruntunglah Kita yang oleh Allah SWT diberi umur yang panjang banyak melakukan
amal kebaikan, sebagaimana Rasulullah SAW menyampaikan dalam hadis yang
artinya: “Sebaik-baik manusia ialah yang diberi umur panjang dan dia gunakan
untuk melakukan kebaikan, dan sejelek-jelak manusia apabila diberi umur yang
panjang tetapi dia gunakan untuk perbuatan kejelekan”. (HR: Ahmad).
Pada hadis yang lain Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Barang siapa
keadaan hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka dia beruntung dan
barangsiapa keadaan hari ini sama dengan hari hari kemarin dia tertipu dan
barangsiapa keadaan hari ini lebih jelek dari hari kemarin, berarti dia
terlaknat” (HR. Baihaqi)
Berdasarkan
hadis Rasulullah SAW di atas, manusia yang beruntung adalah manusia yang tahu
diri, tahu kemampuan yang ada padanya, tahu perhitungannya, mengetahui posisi
pribadinya dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh karena itu, kesadaran
akan pengawasan Allah SWT mendorong seseorang mukmin untuk dapat
melakukan muhasabah atau evaluasi diri terhadap amal
perbuatan, tingkah laku, sikap dan hatinya dalam hal ini adalah muraqabah yaitu
upaya diri untuk senantiasa merasa terawasi oleh Allah SWT dengan jalan
mewaspadai dan mengawasi diri sendiri.
Muhasabah dapat dilakukan sebelum dan sesudah melakukan amal perbuatan.
Sebelum melakukan sesuatu seseorang harus mempertimbangkan terlebih dahulu,
baik-buruknya, manfaat-mudharatnya serta menilai kembali motivasinya dalam
melakukan suatu amalan. Adapun muhasabah sesudah melakukan
amal perbuatan ada tiga macam, yaitu; 1) muhasabah hak Allah
SWT yaitu tentang keikhlasannya dalam beramal karena Allah SWT, kesesuaian
amalannya dengan petunjuk Rasulullah SAW, sikap ikhsannya dalam
beramal, 2) muhasabah pada amalan yang akan lebih baik tidak
dilakukan daripada melakukannya, dan 3) muhasabah terhadap
amalan mubah atau kebiasaannya. Kenapa dilakukan? Apakah dilakukannya untuk
mendapatkan ridha Allah SWT dan kehidupan akhirat? Jika memang mencari ridha
Allah SWT tentunya orang yang beramal akan beruntung, namun jika tidak maka dia
akan merugi.
Di antara
beberapa manfaat muhasabah antara lain; 1) untuk mengetahui
kelemahan diri manusia supaya dia dapat memperbaikinya. Karena orang yang tidak
mengetahui kelemahan dirinya, maka ia tidak akan mau mengubah pribadinya
menjadi lebih baik, 2) sebagai petunjuk manusia untuk tetap berada di jalan
yang diridhai oleh Allah SWT karena manusia dapat berhati-hati untuk tidak
melakukan sesuatu perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT, 3) selalu menganggap
diri penuh dengan kekurangan dan kelamahan dan tidak tertipu dengan amal yang
dilakukan, 4) membuat diri seseorang tidak merasa sombong atau takabbur karena
merasa yang terbaik dari manusia lainnya, 4) seseorang akan mampu memanfaaatkan
waktu dengan sebaik-baiknya untuk dapat melakukan suatu perbuatan yang positif
dan beribadah kepada Allah SWT, dan 5) untuk mengetahui hak Allah SWT karena
orang yang tidak mengetahui hak Allah SWT atas dirinya, maka ibadahnya tidak
akan bermanfaat bagi dirinya.
Oleh karena
itu, cara kita untuk bisa berada pada zona keberuntungan hidup adalah dengan
mensyukuri nikmat umur panjang yang diberikan Allah kepada kita adalah dengan
cara mengucapkan kalimah alhamdulillah dan banyak berbuat
kebaikan, beribadah kepada Allah SWT, menjalankan semua perintah-Nya dan
berusaha menjauhi larangan-Nya serta selalu mengikuti sunnah dan syariat yang
dibawa oleh baginda Rasulullah SAW. Sesungguhnya Allah memberikan umur dan
kesempatan hidup lebih panjang dan kesehatan ini merupakan anugerah yang sangat
besar dan tidak ternilai harganya dengan apapun, baik harta, rezeki, kedudukan
dan pangkat. Akan tetapi harus kita ingat dibalik anugerah yang besar tersebut,
manusia dituntut untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah SWT, sebagaimana Allah
berfirman dalam Al-Qur`an surat Adz-Dzariyat: 56 yang artinya: Dan aku
tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
Berdasarkan
ayat di atas, jelas tidak ada tujuan lain Allah SWT menciptakan manusia di
dunia ini kecuali hanya untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah SWT semata,
kata ibadah apabila diartikan secara lebih luas tidak hanya semata-mata ritual
ibadah semata, akan tetapi memaknai manusia sebagai khalifah fil-Ard yakni
melestarikan dan menjaga alam semesta ini, mengisi hal-hal yang membawa
kemanfaatan dan kebaikan bagi orang lain. Sesungguhnya kita manusia diberikan
amanah oleh Allah SWT untuk
menjadi khalifah di muka bumi ini yang bertugas untuk mengolah, mengatur dan
menyelenggarakan sesuatu kehidupan yang damai, adil dan makmur, sejahtera,
bahagia untuk meraih kemaslahatan kehidupan yang berlandaskan agama, al-Qur`an
dan al-Hadis. Tegasnya, tugas kita sebagai manusia adalah mendapatkan kebahagiaan dan kemaslahatan di
dunia ini untuk mempersiapkan bekal kepentingan akhirat. Dua macam tujuan hidup inilah yang harus kita upayakan
di dunia dengan cara meningkatkan semangat dan etos kerja yang tinggi, dan
selalu beribadah kepada-Nya.
Memasuki tahun 2020 kita
semua berharap bisa menjadi pribadi yang lebih baik, pribadi yang berakhlakul
karimah, pribadi yang mulia di mata Allah dan manusia. Walaupun tahun demi
tahun sesungguhnya makin rusaknya akhlak manusia sebagaimana dalil : ” tidak akan datang suatu tahun, kecuali tahun sesudahnya
akan lebih jelek dari tahun sebelumnya”. (Hr. Bukhori). Bersabarlah,
sebab tidaklah kalian menjalalni suatu zaman, melainkan sesudahnya lebih buruk
daripadanya, sampai kalian menjumpai rabb kalian. Aku mendengar hadit ini dari
Nabi kalian Shallallahu'alaihiwasallam.' [HR.
Bukhari No.6541].
Bertambahnya tahun maka semakin jeleklah tahun itu (dipandang
dari sisi Agama) , jeleknya bukan dalam konteks duniawi seperti
perkembangan teknologi melainkan moral dan akhlak yang semakin rusak, kita
pun tahu orang orang zaman dulu ketika bergaul masih malu-malu apalagi bergaul
dengan yang berbeda jenis, ta’dzim seorang anak kepada orang tua juga sudah
berbeda, dan sekarang sudah banyak anak anak yang melakukan kegiatan
kedewasaan, hal tersebut menunjukkan bahwa kerusakan moral dan akhlak
telah terjadi.
Tugas kita semua adalah mengawal tahun baru menjadi awal
tahun yang memperbaiki, yang menyemangati, yang menjanjikan, yang menghadirikan
kesejukkan, kenyamanan, masa depan dan harapan yang setinggi-tingginya untuk
kebaikan semuanya. Sebagai seorang Sony juga berharap besar untuk selalu
menjadi pribadi yang banyak bersyukur, banyak berdoa dan banyak istighfar serta
banyak beramal sholeh. Karena hanya seperti inilah mata uang yang akan menjadi
alat tukar nanti di akhirat, bukan mata uang rupiah, dollar bukan pula mata
uang cripto currency, tapi mata uang
amalan, mata uang ibadah berupa mata uang amal sholeh. Oleh karena itu modal
untuk memperbaiki diri adalah :
1.
Berhenti
Berpikir Negatif
2.
Berhenti
Menjadi Pemalu dan Tunjukkan Siapa Dirimu!
3.
Berhenti
Bergosip
4.
Berhenti
Menunda Hal Penting
5.
Berhenti
Melakukan Hal-Hal yang Merugikan
6.
Berhenti
Galau-in Mantan
Sumber : telah ditulis penulis dalam buku berjudul The Stories of Move On
(((((((())))))))))))