Budaya Positif di
Ekosistem Baru
SMK Negeri 6 Surakarta
Oleh Darsono-CGP 04
Kota Surakarta
1. Koneksi antar Materi dengan Budaya Positif
KHD
menjelaskan bahwa tujuan pendidikan pada dasarnya adalah menuntun segala kodrat
yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan
yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Oleh karena itu, pendidikan itu hanya dapat “menuntun tumbuh kembangnya
kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki laku nya (bukan
dasarnya).
Dalam
menuntun laku kodrat anak, KHD mengibaratkan peran pendidik seperti seorang
petani atau tukang kebun yang menyemai dan menyirami tanaman tiap hari hingga
tumbuh daun buah-buahan yang indah dan enak. Anak bagaikan biji yang disemai di
tempat yang subur dengan iklim yang cocok hingga tumbuh dan berbuah dengan baik
karena perhatian dan perawatan dari pak tani. Demikian sebaliknya, meskipun
biji jagung itu disemai adalah bibit berkualitas baik namun tumbuh di lahan
yang gersang dan tidak mendapatkan pengairan dan cahaya matahari serta ‘tangan
dingin’ pak tani, maka biji jagung itu mungkin tumbuh namun tidak akan optimal.
Proses
“menuntun” anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai “pamong” dalam memberi
tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya.
Seorang “pamong” dapat memberikan tuntunan agar anak dapat menemukan
kemerdekaannya dalam belajar KHD juga mengingatkan para pendidik untuk tetap
terbuka namun tetap waspada terhadap perubahan-perubahan yang terjadi.
Mengemas filosofi KHD yang demikian luhur dalam mendidik anak yakni “Ing ngarso sun tulodho, ing madya mangun karso dan tut wuri handayani” membutuhkan peran guru yang tidak ringan. Dibutuhkan guru yang tergerak, bergerak dan menggerakkan ekosistem sebagai kurikulum berubah saja tidak cukup, gurulah yang harus berperan. Oleh karena itu diperlukan peran guru penggerak untuk pencapaian paradigma baru ini yakni guru yang memiliki 5 peran penting meliputi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, mendorong kolaborasi antar guru, menjadi coach bagi guru lain, dan mewujudkan kepemimpinan murid. Guru penggerak berfokus pada peran kepemimpinan pembelajaran agar mampu mendorong tumbuh kembang peserta didik secara holistik, aktif dan pro aktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik; serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila. Dalam memerankan perannya tetap berpijak pada 5 (lima) nilai guru penggerak yakni berpihak pada murid, mandiri, kolaboratif, reflektif dan inovatif. Dalam menjalankan nilai dan peran guru penggerak berfilosofi KHD inilah guru mengelaborasi menggunakan pendekatan BAGJA (Inquiry Apresiatif) yakni membuat daftar pertanyaan yang mengajak peserta didik memberikan sumbangsih ide untuk menjalankan roda belajar yang menarik dan berkesan serta memudahkan mereka berkembang dengan baik.
Transformasi pendidikan melalui peran dan nilai guru penggerak melakukan perubahan paradigma mengembangkan budaya positif di sekolah sebagai ekosistem belajar yang ramah, sehat dan menyenangkan dimulai dari pembentukan budaya positif berbasis karakter profil Pelajar Pancasila. Dalam alur relasi budaya positif digambarkan sebagai berikut :
Gambar Olahan
Penulis dari Berbagai Sumber
2. Refleksi mengenai keseluruhan budaya positif
Setelah mempelajari mengenai budaya positif orang yang
meliputi konsep disiplin positif dan motivasi, keyakinan kelas, pemenuhan
kebutuhan dasar, lima posisi control, dan yang terakhir adalah segitiga
restitusi menurut saya materi ini sangat penting sebagai pendidik, ini adalah
materi psikologi pendidikan yang lama tidak tersentuh karena pendekatan
pendidikan SMK yang cenderung industrialis kapitalis bukan menghidupkan
karakter yang diamanatkan KHD yakni membumikan kodrat murid layaknya
menumbuhkan semangat yang lahir dari diri sendiri, lebih kuat ke arah hardskill
daripada ke arah softskill, lebih mendewakan prestasi daripada pencapaian
kodrati. Dalam sekolah sebagai ladang hijau tempat ditanam benih-benih anak
bangsa yang akan menjadi generasi penerus perjuangan bangsa diperlukan
ekosistem belajar yang nyaman, senang, damai serta kondusif membuat tebaran
asupan gizi dan vitamin inovasi, kreatif, gotong royong dan tetep memegang
teguh keyakinannya sebagai insan beragama.
Budaya positif di ekosistem sekolah dihidupkan bersama-sama
peserta didik dilibatkan dalam banyak hal, memberi masukan, memberi keyakinan
kelas, menciptakan kesepakatan kelas yang produktif bukan dari guru atau
sekolah tetapi dari siswa secara mandiri. Menghidupkan kegiatan berbasis
kekaryaan dan kreativitas dalam program P5BK
(Program Penguatan Profil Pelajar
Pancasila dan Budaya Kerja) dengan menggabungkan kegiatan exschool secara kolaboratif sehingga
efisien dan efektif untuk diukur pencapaiannya.
Di sekolah kami (SMKN 6 Surakarta) selalu mengadakan
literasi pagi yakni kegiatan di jam pertama membaca Al-Qur’an, menyanyikan lagu
Indonesia Raya (3 Stanza), sedikit
motivasi disertai doa kebaikan. Kemudian setiap Jumat ada kegiatan yang
dinamakan Jumat sehat, Jumat bersih, Jumat motivasi dan Jumat Religi telah
berjalan dengan baik walaupun perlu pengembangan dan perbaikan.
Sebelum menjadi Calon Guru Penggerak dulu saya guru idealis
selalu menerapkan standar tinggi dalam penugasan sesuai dengan standar industri
yakni Just in Time (JIS) dan JOS (Just On Time) serta kerja dibawah
tekanan seperti tidak sepenuhnya dibenarkan dalam pendekatan belajar Merdeka
yang sedang saya pelajari. Tetapi di pikiran saya juga terjadi dilema tingkat
tinggi yakni industri tempat peserta didik akan memasuki lapangan kerja sangat
menerapkan budaya kerja seperti itu (budaya disiplin dengan aturan sangat
ketat, budaya makan dan antri, budaya kerja datang tepat waktu dan
menyelesaikan pekerjaan dengan kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas dan
kerja ikhlas). Jika pendekatan belajar merdeka seperti memerdekakan murid
dengan among bisa saja disalahartikan dengan kerja santai, kerja asal siswa
senang, kerja yang penting digarap pasti bukan seperti ini adanya.
Harapan saya sebenarnya konsistensi budaya positif yang
diterapkan sekolah sama dan sinkron dengan budaya kerja yang diterapkan di
industri, sehingga peserta didik bisa bekerja sesuai standar yang diterapkan
industri atau setidaknya bisa mandiri sesuai kinerja berbudaya disiplin tinggi
yakni tekun, rajin, hemat, taat, taqwa, komitmen, integritas, jujur, kerjasama,
rukun kompak, amanat sehingga visi guru penggerak tercapai murid/peserta
didiknya belajar dengan etos belajar yang tinggi.
Penerapan disiplin di sekolah selama ini diasosiasikan dengan pendekatan peraturan, tata tertib, pelanggaran, hukuman dan sanksi pada satu sisi siswa seperti obyek penderita yang harus nuruti, patuti, taati, tertibkan, amankan tanpa ada keberpihakan siswa untuk mengungkapkan keinginan, keyakinan, kepercayaan dan masukan sebagai tempat bermain dan belajarnya. Gambar di bawah ini saya ambil dari www.sriwidiyastuti.com yang menjelaskan penerapan disiplin yang salah bisa mengakibatkan siswa murung, minder, tidak percaya diri dan cenderung menutup diri karena perasaan bersalah yang berlebihan tanpa pembelaan dari pihak ekosistem belajar.
Sumber : www.sriwidiyastuti.com
Kita wajib memahami kebutuhan dasar manusia selain kebutuhan
dasar meliputi Bertahan
hidup Cinta Kasih sayang, Penguasaan, Kesenangan dan Kebebasan, kebutuhan
pangan, sandang, papan, latihan, jaminan, kesehatan,istirahat dan kebutuhan
biologis. Gambar di bawah menunjukkan sebaran kebutuhan dasar manusia (diambil
dari referansi internet)
Sumber : https://peacegen.id/
Sebagai manusia kita tidak bisa mengontrol orang lain, yang bisa kita lakukan adalah membangun komunikasi yang sejajar guna menumbuhkan kesadaran internal bukan kontrol dari luar itulah belajar disiplin positif dari postcast.
Kita
hanya bisa menjadi teman, pemantau, manager dan penghukum serta pembuat orang
merasa bersalah. Jadi bila ada kasus yang muncul di tengah-tengah ekosistem
belajar bukanlah kasusnya saja yang terselesaikan tetapi dibalik itu ada
“gunung es” yang melatarbelakangi” masalah tersebut muncul ke permukaan.
Sumber : https://peacegen.id/
Kita sebagai orang dewasa yang mengamong peserta didik hanya bisa menggunakan cara-cara elegan cara-cara dewasa dengan kendalikan diri bukan kontrol orang lain sebagaimana gambar di bawah ini. Bermain adalah naluri anak-anak dari PAUD, TK hingga SMA bahwa Mahasiswa dan orang tua, hanya dalam perspektif yang berbeda saja mereka bisa belajar sambil bermain atau bermain dengan belajar, pendekatan seperti ini yang sebaiknya dikembangkan.
Jika
di SMK kita mengenal belajar itu diawali dari minat-bakat bukan dari niat dan
nekat. Belajar dilandasi kesukaan, kegemaran, hobby dan membangun citra diri
(passion). Yang orang dewasa lakukan adalah memahami bukan menghakimi karena
tahu kalau yang terjadi adalah kemunculan gunung es masalah yang nampak di
permukaan, masalah sesungguhnya ada di dasar laut (badannya gunung es) yang
sebenarnya lebih perlu dibahas dicarikan solusi.
Sumber : Keluarga Kita
Gambar saya ambil dari internet keluarga kita tentang
pujian, tak jarang kita menerapkan disiplin dengan cara menangani kesalahan
yang dilakukan anak, padahal pencegahan jauh lebih efektif dalam hal ini pujian
lebih efektif menjadi alat “disiplin positif” yang bisa diterapkan di sekolah
kita karena memberikan pembelajaran bagi kita.
Tabel 3 Rancangan Tindakan Aksi Nyata
Judul
Modul : Budaya Positif
Nama
Peserta : Darsono
Latar
Belakang: Sering saya jumpai siswa yang tidak
memiliki komputer/alat atau laptop menjadi alasan molornya tugas-tugas siswa
sebagai alasan klasik yang menaun dan membuat guru repot saat mereka harus
menerima raport dengan nilai prestasi yang baik. Oleh karena itu saya
merencanakan mengadakan pendampingan/tutoring coaching pada siswa yang
terlambat menyelesaikan pekerjaan, melalui pendekatan personal/individual
sebagaimana siswa telah membuat keyakinan kelas sendiri beberapa hari yang
lalu melalui media Google Form disimpulkan
bahwa siswa menginginkan pendampingan guru secara personal karena kemampuan
mereka berbeda-beda. Artinya ini adalah tindak lanjut dari “keyakinan kelas”
yang telah dibuat di hari lalu dan akan direalisasikan. |
Lini masa: 1.
Cara berdiskusi dengan kapro Multimedia/DKV dan teman sejawat 2.
Berdiskusi dengan kepala lab untuk peminjaman alat/komputer dalam waktu
tertentu. 3.
Meminta dukungan wali kelas dan guru BK supaya diberi kelancaran 4.
Pemberitahuan orang tua/wali siswa supaya diberi ijin pulang agak terlambat
karena mengerjakan tugas di sekolah. 5.
Meminta ijin kepala sekolah dan jajaran atas penggunaan fasilitas sampai
melebihi jam KBM agar pekerjaan siswa terselesaikan. |
Tujuan:
|
Dukungan yang dibutuhkan:
|
Tolak Ukur:
|
Lain-lain : Rancangan ini dapat berubah mengingat situasi dan kondisi di lapangan.
|
Daftar Pustaka :
https://www.imrantululi.net/berita/detail/refleksi-filosofis-pendidikan-nasional-ki-hadjar-dewantara
/ tgl 18 Desember
2021
Belajar budaya
positif : https://peacegen.id/podcast-disiplin-positif-prinsip-5-memahami-bukan-menghakimi/