- Pada sesi pembelajaran kali
ini, Anda diberikan tantangan untuk membuat kesimpulan dan juga
koneksi antara semua materi yang telah diberikan dalam modul ini
dengan materi lainnya selama mengikut proses Pelatihan Guru Penggerak.
Pada Modul 1.1 Kita
dikenalkan secara mendalam filosofi pendidikan dari Ki Hajar Dewantara yakni
pendidikan diarahkan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada diri anak
manusia agar mencapai keselamatan dan kebahgiaan dunia dan akhirat
setinggi-tingginya sebagai manusia secara individu maupun sebagai anggota
masyarakat. Paradigma baru pendidikan nasional ini adalah kuncinya adalah
keberpihakan pada murid sebagai aset yang menjadi tanggung jawab kita sebagai
pendidik untuk menuntunnya menjadi aset bangsa yang berkarakter Profil Pelajar
Pancasila sebagai jati diri bangsa dan mengawalnya sesuai karakter, sesuai
kodrat alam dan kodrat jamannya.
Adapun penerapan Modul 1.1 pada modul 3.2 unsur abiotik (manusia) dan
abiotik (benda) dikelola sebesar-besarnya untuk menemukan potensi positif pada
diri siswa dan guru memberikan pembelajaran yang berpihak pada kodrat murid
dalam pembelajaran yang berpihak pada murid.
Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak di dalam diri seorang guru memiliki
nilai penting yakni menjadi pemimpin
pembelajaran yang bertanggung jawab menggerakkan komunitas praktisi, menjadi
coach bagai guru lain serta mendorong kolaborasi antar guru sejawat serta
mewujudkan kepemimpinann murid. Dan peran guru penggerak adalah mandiri,
reflektif, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada murid diyakini merupakan
aset penting untuk menuntun tumbuhkembangnya kodrat anak sesuai dengan potensi
yang dimiliki mereka.
Penerapan 5 peran dan
nilai Calon Guru Penggerak di dalam komunitas aset yakni dengan berkolaboratif
dengan semua warga sekolah untuk mewujudkan guru yang berfungsi menggerakkan
komunitas praktisi dan menciptakan lingkungan kelas / sekolah yang kondusif,
nyaman, menyenangkan, membuat betah belajar dan tumbuhnya kreativitas.
Melakukan pemetaan aset peran dan nilai calon guru penggerak memperhatikan 7
ast penting dalam pengelolaan berbasis aset hingga menemukan potensi keunggulan
pada diri siswa yang bisa dikembangkan.
Modul 1.3 bertajuk Visi
Guru Penggerak ini yang dijadikan pedoman impian semua guru dan siswa dengan
memanfaatkan seluruh aset yang ada agar terwujud cita-cita bersama. Adapun visi
misi Guru Penggerak adalah tercapainya siswa berkarakter enterpreneur
(siswaprenuer) dan VISKANESIA (Visioner Inovatif, Sinergi, Kreatif, Adaptif,
Berkarakter Indonesia).
Penerapan di dalam
komunitas sekolah adalah guru membuat pertanyaan menggunakan rumus BAGJA untuk
menghasilkan visi misi Guru Penggerak agar aset bersedia digerakkan bersama
untuk tujuan yang mulia. Cita-cita murid, impian guru, impian dan harapan semua
warga sekolah terungkap pada Visi Misi Guru Penggerak melalui pendekatan BAGJA
(Inquiry Apresiatif) dengan memperhatikan 7 aset penting dalam pengelolaan
berbasis aset (berbasis keunggulan bukan kelemahan), menemukan potensi bukan
menemukan masalah.
Mereka adalah murid-murid
yang kita didik sebagai aset utama di sekolah, pada Modul 1.4 Budaya Positif
kita memetakan mereka untuk menumbuhkan budaya positif di lingkungan masyarakat
sekolah yang mendurung terwujudnya lingkungan belajar yang nyaman dan kondusif.
Pemimpin Pengelolaan Sumber Daya aset memahami hal ini untuk menerapkan budaya
positif di sekolah agar kelak menjadi anggota masyarakat yang berkarakter baik.
Penerapan Modul 1.4
dengan Modul 3.2 adalah mengelola sumber daya aset sekolah untuk mengkondisikan
budaya positif, mewujudkan budaya baru yang bisa berguna kelak untuk masa depan
mereka. Budaya positif meliputi 5 S (Sopan, Santun, Senyum Sapa Salam) dan
menerapkan budaya Industri (Just in Time), 4-As Gembrot (Kerja Keras, Cerdas,
Tuntas, Ikhlas) dan Gembira berbobot merupakan budaya yang dibangun sekolah.
Dalam mengelola sumber daya sebagaai aset penting biotik maupun abiotik maka
seluruh warga sekolah menjalankan fungsinya sebagai guru dengan datang tepat
waktu, mengajar penuh suka cita dan gembira serta mampu memetakan potensi baik
dari dalam maupun dari luar sekolah untuk menemukenali siswa dan mengambil
strategi pemanfaatan dalam meningkatkan prestasi belajar.
Kodrat (Modul 2.1
Memenuhi Kebutuhan Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi): Menyadari
setiap anak dilahirkan dalam kodrat yang berbeda-beda, dan perbedaan itu
sendiri adalah aset yang memperkaya keragaman, maka pembelajaran
berdiferensiasi menjadi solusi terbaik untuk memfasilitasi dan menyatukan
keragaman dalam bingkai merdeka belajar. Pembelajaran yang menyenangkan siswa
dan guru melalui ice breaking, teknik STOP, serta KBM berdiferensiasi dan
pembelajaran sosial emosional dapat diterapkan sebagai selingan KBM di kelas
agar siswa tidak bosan dan bisa lebih fokus dalam belajar. Ice breaking juga
bermanfaat untuk meningkatkan kolaborasi, kerjasama antar teman dan
sportivitas. Dalam konteks Modul 3.2 Mengelola aset guru menemukan aset siswa
yang berpotensi berkembang baik seni, kreativitas, kecerdasan, minat bakat,
kebutuhannya serta profilnya yang dipetakan sedemikian rupa sehingga dapat
diambil strategi peningkatan pemanfaatan yang tepat untuk dieksekusi seorang
pengambil keputusan.
Keselamatan (2.2
Pembelajaran Sosial Emosional): Pembelajaran sosial emosional diperlukan agar
semua warga sekolah memiliki kemampuan untuk berempati, memiliki kesadaran
diri, dan pengelolaan diri yang baik untuk mengantarkan murid, guru, dan semua
warga sekolah mencapai keselamatan dan kebahagiaan (wellbeing) dapat tercapai dengan pembelajaran Sosial Emosional.
Pembelajan sosial dan emosional bertujuan untuk memberikan pemahaman,
penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi (kesadaran diri), Pengelolaan
diri, kesadaran sosial, keterampilan membangun relasi dan pengembilan keputusan
yang bertanggung jawab.
Dalam penerapan KSE
(Kompetensi Sosial Emosional) secara
spesifik dan eksplisit meliputi mengajar dengan mengintegrasikan KSE ke dalam
praktik mengajar guru dan gaya interaksi dengan murid. Mengubah kebijakan dan
ekspektasi sekolah terhadap murid. Mengubah kebijakan dan ekspektasi terhadap
murid. Mempengaruhi pola pikir murid tentang persepsi diri, orang lain dan
lingkungan. Adapun pendekatan KSE yang digunakan bermacam-macam, seperti
pendekatan SEL (Sequential/ berurutan, active / aktif, focuced/ fokus, Explicit.
Kaitan KSE dengan Modul
3.2 adalah bahwa fokus belajar pada kompetensi sosial emosional dan Modul 3.2
memantapkan lagi dengan pemetaan, pengelolaan aset (7 Modal) salah satunya
adalah modal Sosial. Modal Sosial ini yang dikelola pemimpin pengelola aset
berupa budaya, toleransi, kondisi sosial ekonomi masyarakat. Potensi yang ada
di sekitaran sekolah seperti potensi kelurahan, kecamatan dan kota/kab
merupakan kekuatan tambahan untuk sekolah yang patut diperhitungkan guna
meningkatkan kemajuan sekolah. Melalui pendekatan, kolaborasi baik di tingkat
kelurahan, kecamatan atau kota/kab dengan kerjasama di berbagai bidang dalam
wadah komunitas praktisi seperti rapat tahunan, rapat komite, rapat antar
lintas sektoral untuk membicarakan sesuatu hal yang berhubungan dengan guru dan
siswa menjadi sangat berguna bagi sekolah. Kegiatan bisa berupa menjaga
kebersihan lingkungan sekolah, edukasi buang sampah yang pada tempatnya pun
berkenaan dengan kegiatan budaya, seni dan keagamaan yang bisa disinkronkan
dengan kegiatan sekolah.
Menuntun (2.3 Coaching):
Praktek coaching dilakukan untuk menuntun kekuatan kodrat agar murid, guru, dan
semua warga sekolah dapat meningkatkan potensinya. Kegiatan coaching akan mampu
menemukan jalan keluar dari permasalahan yang mereka hadapi, mereka juga akan
dapat menentukan tujuan yang diharapkan. Mereka didampingi, dituntun untuk
menemukan solusi masalah sendiri secara tepat sehingga potensi diri siswa pada problem
solving dapat ditumbuhkembangkan. Melalui pendekatan TIRTA coaching bisa
diterapkan pada guru, siswa, orang tua dan stockholder sekolah sehingga
hambatan-hambatan komunikasi dapat diatasi yakni :
a.
Menjadi pendengar yang baik
b.
Menjadi pembicara yang efektif
c.
Menjadi pembaca yang baik
d.
Menjadi pembelajar yang baik dan
e.
Menjadi pembimbing yang baik.
Adalah cara cerdas
memberikan solusi agar pemimpin pengelolaan aset mengatasi hambatan komunikasi
(Husei Usman (2009-428-429)
Modul 2.3 berkaitan
dengan modul 3.2 adalah siswa sebagai aset sekolah yang patut dijaga dan
dikembangkan potensinya memiliki kemerdekaan untuk menentukan sikap dan
tindakan lewat pikirannya sendiri, lewat cara-cara sendiri yang konstruktif.
Melalui pemetaan aset siswa dapat dikenali masalah yang dihadapi dan dapat
didampingi untuk memperoleh solusi. Inilah pentingnya pengelolaan aset/modal
manusia dimana keberpihakan sekolah dengan pengakuan bahwa diri siswa adalah
pribadi yang merdeka tetap perlu bimbingan, pendampingan, penuntunan agar
selamat hingga berhasil sebagaimana yang dicita-citakan.
Maksud Pendidikan (3.1
Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran): Kemampuan seorang
pemimpin pembelajaran dalam pengambilan keputusan akan mempengaruhi pencapaian
tujuan maksud pendidikan. Sebab dalam perjalanannya akan berhadapan
dengan situasi dilema etika maupun bujukan moral. Dengan pengetahuan
pengambilan keputusan yang baik, maka seorang pemimpin pembelajaran akan mampu
menyelesaikan masalah dengan menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9
langkah-langkah pengambilan keputusan. Dengan demikian pemimpin dapat melakukan
pemetaan aset dengan tepat dan dapat diberdayakan secara optimal.
Kaitan dengan modul 3.2
adalah fenomena yang menarik bahwa pengambilan keputusan sebagai pemimpin
pembelajaran didasari atas pemetaan aset/modal sekolah (7 Modal) yang mengunakan
pendekatan konstruktif melalui pendekatan komunitas berbasis aset (PKBA) artinya
melihat aset/modal dari sudut pandang positif bukan sudut pandang negatif, sehingga
seorang pemimpin dalam mengambil keputusan bukan hanya menemukan masalah lalu
mengatasinya tetapi menggali potensi untuk dikembangkan lebih dalam. Pola
membuat pertanyaan pun dikelola yang biasanya ada masalah apa ? kenapa masalah
ini terjadi ? Bagaimana sebelum kasus ini terjadi ? dan seterusnya. Pertanyaan
pengelolaan aset berbasis PKBA berubah menjadi “ Apa yang sudah dikerjakan ?
seberapa besar potensinya ? bagaimana mengembangkan lebih jauh lagi ? Bagaimana
bila ditambah personil sehingga bisa semakin kuat dan daya dorongnya tinggi ?
dan seterusnya.
Kekuatan (3.2 Pemimpin
dalam Pengelolaan Sumber Daya): Kemampuan seorang pemimpin pembelajaran dalam
mengelola 7 aset/ modal utama di daerah/ sekolahnya adalah sebuah kekuatan
untuk pencapaian tujuan pendidikan yakni mencapai keselamatan dan kebahagiaan
yang setinggi-tingginya (wellbeing). Aset
itu meliputi modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan alam,
modal politik, modal finansial dan modal agama dan budaya. Ketujuh modal ini
dilakukan pemetaan aset menggunakan pendekatan komunitas berbasis aset (PKBA)
secara tepat sehingga dapat memiliki daya dukung untuk meningkatkan potensi
sekolah dengan dikerjakan penuh konsisten dan tanggung jawab memetakan 7 aset
itu dapat diyakini mampu menopang peningkatan pembelajaran siswa yang menyenangkan,
terbimbing, terpetakan dan berpihak sehingga tujuan mulai Profil Pelajar
Pancasila bisa tercapai, Visi misi sekolah tercapai, siswa berhasil, bahagia,
selamat dunia akhirat.
Koneksi antar materi
Modul 3.2 Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya dengan
modul-modul sebelumnya sangat terkait, keterkaitan itu saya rangkum dalam
Jurnal Koneksi Antar Materi berikut :
B. Buatlah kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan ‘Pemimpin
Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya’ dan bagaimana Anda bisa mengimplementasikannya di
dalam kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah.
Dalam mengelola aset yang ada di
sekolah dan di lingkungan luar sekolah seorang pemimpin pembelajaran harus
mampu memetakan 7 aset sumber daya yang ada yang terdiri atas modal manusia,
sosial, fisik, finansial, politik, lingkungan alam dan agama serta budaya.
Melalui pemetaan ini kita bisa memaksimalkan potensi aset yang ada dengan
berpedoman pada prinsis asset based
thinking atau berpikir berbasis aset bukan problem based thinking atau
berpikir berbasis masalah sehingga bisa menghasilkan potensi optimal. Alat
manajemen perubahan yang tepat dapat menggunakan pendekatan inkuiri apresiatif
(IA) atau model BAGJA atau 5 D untuk menginisiasi sebuah perubahan positif
berdasarkan aset yang ada. Melalui pertanyaan dalam BAGJA diketahui keinginan,
harapan, kemauan siswa dan stokholder bagaimana sekolah impian, kelas impian
dan lingkungan yang dicita-citakan dapat terwujud.
Seorang pemimpin bisa menggerakkan siswanya bertanya harapan dan keinginannya agar mereka gemar membaca, betah membaca sehingga perputakaan semakin ramai. Mungkin melalui Google Form pertanyaan-pertanyaan yang dibuat bisa disebarkan para siswa dan diisi lalu dipetakan dan disimpulkan. Selanjutnya berkoordinasi dengan teman guru dan kepala sekolah.
C. Jelaskan dan berikan contoh bagaimana hubungannya pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas.
Belajar adalah membangun dan
mengelola makna. Pada saat seseorang melakukan kegiatan belajar, pada
hakikatnya ia menangkap, membangun dan mengelola makna dari apa yang
diamatinya. Hal ini sejalan dengan pembelajaran kontekstual bahwa otak secara
alamiah mencari makna, memetakan makna dari suatu permasalahan yang berkaitan
dengan lingkungan dimana seseorang berinteraksi. Oleh karena itu hal-hal yang
harus diperhatikan dalam pelaksanaan pembelajaran PAKEM menurut Dasim
Budimansyah, dkk (2013 :74-76) yaitu :
1. Memahami sifat yang dimiliki anak.
Pada dasarnya anak memiliki sifat: rasa ingin tahu dan berimajinasi. Anak desa,
anak kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak Indonesia, atau anak bukan
Indonesia selama mereka normal terlahir memiliki kedua sifat itu. Kedua sifat
tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap/berpikir kritis dan
kreatif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu lahan yang harus kita olah
sehingga subur bagi berkembangnya kedua sifat, anugerah Tuhan, tersebut.
Suasana pembelajaran dimana guru memuji anak karena hasil karyanya, guru mengajukan
pertanyaan yang menantang, dan guru yang mendorong anak untuk melakukan
percobaan, misalnya, merupakan pembelajaran yang subur seperti yang dimaksud.
2. Mengenal anak secara perorangan.
Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki
kemampuan yang berbeda. Dalam PAKEM (Pembelajaran Aktif, Menyenangkan, dan
Efektif) perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam
kegiatan pembelajaran. Semua anak dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan
yang sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Anak-anak yang
memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah
(tutor sebaya). Dengan mengenal kemampuan anak, kita dapat membantunya bila
mendapat kesulitan sehingga belajar anak tersebut menjadi optimal.
3. Memanfaatkan perilaku anak dalam
pengorganisasian belajar. Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami
bermain berpasangan atau berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat
dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau
membahas sesuatu, anak dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok.
Berdasarkan pengalaman, anak akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka
duduk berkelompok. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar
pikiran. Namun demikian, anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan
agar bakat individunya berkembang.
4. Mengembangkan kemampuan berpikir
kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah. Pada dasarnya hidup ini
adalah memecahkan masalah. Hal ini memerlukan kemampuan berpikir kritis dan
kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah; dan kreatif untuk melahirkan
alternative pemecahan masalah. Kedua jenis berpikir tersebut, kritis dan
kreatif, berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri
anak sejak lahir. Oleh karena itu, tugas guru adalah mengembangkannya, antara
lain dengan sering-sering memberikan tugas atau mengajukan pertanyaan yang
terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata “Apa yang terjadi jika…”
lebih baik daripada yang dimulai dengan kata-kata “Apa, berapa, kapan”, yang
umumnya tertutup (jawaban betul hanya satu).
5. Mengembangkan ruang kelas sebagai
lingkungan belajar yang menarik. Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang
sangat disarankan dalam PAKEM. Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan
untuk memenuhi ruang kelas seperti itu. Selain itu, hasil pekerjaan yang
dipajangkan diharapkan memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan
menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Yang dipajangkan dapat berupa hasil
kerja perorangan, berpasangan, atau kelompok. Pajangan dapat berupa gambar,
peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan sebagainya. Ruang kelas
yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa, dan ditata dengan baik, dapat
membantu guru dalam pembelajaran karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas
suatu masalah.
6. Memanfaatkan lingkungan sebagai
sumber belajar. Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) merupakan sumber yang
sangat kaya untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat berperan sebagai media
belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Penggunaan
lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat anak merasa senang dalam
belajar. Belajar dengan menggunakan lingkungan tidak selalu harus keluar kelas.
Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan
waktu. Pemanfaatan lingkungan dapat men-gembangkan sejumlah keterampilan
seperti mengamati (dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan,
berhipotesis, mengklasifikasi, membuat tulisan, dan membuat gambar/diagram.
7. Memberikan umpan balik yang baik
untuk meningkatkan kegiatan belajar. Mutu hasil belajar akan meningkat bila
terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa
merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik
hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara
memberikan umpan balik pun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa
lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus
konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan.
Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan
diri siswa daripada hanya sekedar angka.
8. Membedakan antara aktif fisikal dan
aktif mental. Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa
kelihatan sibuk bekerja dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diatur
berkelompok siswa duduk duduk saling berhadapan. Keadaan tersebut bukanlah
cirri dari PAKEM. Aktif mental lebih diinginkan dari pada aktif fisikal. Sering
bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan
merupakan tanda-tanda aktif mental.
Di sini dapat dilakukan pemetaan sekolah (school mapping) terhadap 7 aset yang telah dipelajari pada modul 3.2 bahwa sekolah sebagai organisasi kompleks sangat bergantung pada peran pemimpin pengelolaan aset.
C. Berikan beberapa contoh bagaimana materi ini juga berhubungan dengan materi lain yang Anda dapatkan sebelumnya selama mengikuti proses Pelatihan Guru Penggerak.
Semua guru pasti ingin semua siswa
aktif dan kreatif karena pada hakikatnya pendidikan itu tidak hanya mengenai
angka-angka. Belajar adalah suatu proses aktif siswa dalam membangun
pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya mendengarkan ceramah guru saja.
Jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan pada siswa untuk berperan aktif,
maka pembelajaran tersebut dapat dikatakan bertentangan dengan hakikat belajar.
Pemimpin pengelolaan aset tidak
ingin kelas bersuasana sepi, siswa pasit saat pembelajaran berlangsung
mengindikasikan salah satunya bahwa murid tersebut tidak tertarik pada
pelajaran. Jika ini terjadi tandanya strategi pembelajaran harus ditinjau
kembali, harus dilakukan pemetaan siswa, dilakukan pembelajaran sosial
emosional dan pembelajaran berdiferensasi. Melalui BAGJA siswa bisa ditarik
mengisi pertanyaan apresiatif yang dibuat guru untuk memberi masukan pada guru
dan sekolah untuk melakukan perubahan. Setelah mendapatkan masukan BAGJA guru
meneruskan untuk dipetakan dan diambil kesimpulan sehingga guru atau pemimpin
pembelajar bisa menggunakannya untuk memetakan dan menentukan strategi
mengambil keputusan media atau strategi mana yang pas untuk diterapkan,
mengelola aset untuk kemajuan kelas dan sekolah.
- Ceritakan pula bagaimana
hubungan antara sebelum dan sesudah Anda mengikuti pelatihan terkait
modul ini, serta pemikiran apa yang sudah berubah di diri Anda setelah
Anda mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini.
Sebelum pelatihan |
Setelah pelatihan |
Pola berpikir mencari masalah mencari solusi atas
masalah |
Pola berpikir menggali potensi, meningkatkan
potensi. |
Paradigma siswa adalah obyek belajar dan subyek
belajar |
Paradigma baru siswa adalah aset sekolah yang penting
(bagian dari 7 aset/modal sekolah) |
Pola penggalian gaya belajar inisiatif dari guru dan
kepala sekolah |
Pola penggalian gaya belajar melalui BAGJA dari siswa
dan diolah sebagai masukan, melibatkan siswa sebagai aset. |
Dalam pembimbingan menggunakan pola mentoring dan
konseling |
Dalam pembimbingan belajar menggunakan pola
pendampingan coaching. |
Ref :
https://www.imrantululi.net/berita/detail/pembelajaran-sosial-dan-emosional
(https://casel.org/what-is-sel/approaches/)
https://akupintar.id/info-pintar/-/blogs/ingin-siswa-aktif-dan-kreatif-lakukan-5-cara-berikut-ini