Powered by Blogger.

Peserta CGP Angkatan 4 Kota Surakarta

Calon Guru Penggerak Mengikuti Lokakarya 3 di Hotel Royal Herritage Solo

Mural Untuk Solo Bangkit

Tergerak, Bergerak, Menggerakkan

Pengelolaan Kelas Daring di SMK N 6 Surakarta

Selama masa pandemi pembelajaran hanya bisa secara daring guru dituntut bisa menggunakan aplikasi meeting.

Kangguru Mas Guru

Filosofi Semar pada Pewayangan Jawa yang ngemong, momong dan tut wuri handayani .

Foto Section CGP angkatan 4 Kota Surakarta

Berlangsung di Lokakarya 3 - Hotel Royal Herritage Solo.

Foto Section CGP angkatan 4 Kota Surakarta

Berlangsung di Lokakarya 3 - Hotel Royal Herritage Solo.

Sunday, April 10, 2022

JURNAL 13 –PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL

 

JURNAL 13 –PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL

OLEH : DARSONO – CGP 04 SMK NEGERI 6 SURAKARTA

KOTA SURAKARTA

 

Model 8: Model Driscoll

Model ini diadaptasi dari refleksi yang digunakan pada praktik klinis (Driscoll & Teh, 2001). Model yang dikenal dengan Model “What?” ini pada dasarnya terdiri dari 3 bagian, namun dapat dikembangkan dengan berbagai variasi bergantung pada pertanyaan detail yang dipilih.

1)      WHAT? (Deskripsi dari peristiwa yang terjadi)

-          Apa yang terjadi?

Proses pembelajaran anak tidak tergantung pada aspek inteligensi atau kemampuan kognitif saja, tetapi juga dipengaruhi oleh aspek lain seperti aspek perkembangan emosi dan sosial. Aspek emosi dan sosial ini sangat berpengaruh terhadap prilaku anak kepada dirinya, orang lain dan lingkungannya. Pada anak usia dini dan remaja aspek sosial emosi ini dapat dikembangkan melalui pembelajaran sosial emosional. Dimana pembelajaran sosial emosional adalah proses mengembangkan keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk memperoleh kompetensi sosial dan emosional sebagai modal anak dalam berinteraksi dengan dirinya, orang lain dan lingkungan sekitar. Pembelajaran sosial emosional ini dapat dijadikan sebagai awal dan dasar penanaman pendidikan karakter kepada anak usia dini. Ada empat kompetensi kunci pengembangan dalam aspek sosial emosional anak; self-awareness, self-management, social awareness, responsible decision making, dan relationship management. Keempat kompetensi ini penting dikembangkan sejak usia dini untuk membangun dan menanamkan keterampilan sosial anak. Karena dengan mengembangkan keempat aspek sosial emosional anak tersebut akan berimplikasi pada tertanamnya sifat-sifat baik/ karakter-karakter unggul pada diri anak dalam dunia sosial. Metode-metode seperti bermain, modeling, story telling, drama dan lainnya tepat digunakan untuk mengembangkan keempat keterampilan tersebut

 

-          Apa yang saya lihat/dengar/alami?

Saya mengamati bahwa pembelajaran sosial emosional di sekolah perlu dibumikan, perlu diterapakan sedini mungkin, sebab belajar dari pengalaman bukanlah inteligensia yang harus ditonjolkan tetapi justru nilai-nilai karakterlah yang mampu membuat orang berhasil. Keberhasilan seseorang ternyata lebih ditentukan pada EQ (Emotional Quetion) mencapai 80%  daripada IQ (Intelegencia Quetion) hingga hanya 20%. Penelitian menemukan bahwa individu yang dengan potensi kepemimpian kuat juga cenderung lebih cerdas secara emosional. Riset ini menyarankan bahwa EQ adalah kualitas penting yang perlu dimiliki pemimpin atau manajer. Menurut suatu analisis berdasarkan hasil program pembelajaran emosional dan sosial, jawaban pertanyaan tadi adalah ya.

Penelitian menunjukkan, sekira 50 persen anak-anak yang mengikuti program tersebut meraih pencapaian yang lebih baik, dan 40 persen lainnya menunjukkan perbaikan nilai rata-rata. Program ini juga dihubungkan dengan berkurangnya tingkat hukuman, peningkatan kehadiran siswa di sekolah dan berkurangnya masalah displin.

Suatu penelitian yang dilakukan Carnegie Institute of Technology menunjukkan bahwa 85 persen kesuksesan finansial seseorang adalah karena kemampuan humanis seperti kepribadian dan kemampuan berkomunikasi, bernegosiasi dan memimpin. Sementara itu, pengetahuan teknis hanya mengambil porsi 15 persen.

 

-          Apa reaksi saya pada saat itu?

Membaca data di atas saya melakukan reaksi menyadari pentingnya sosial emosi bahwa belajar adalah interaksi penting menuju masa depan peserta didik. Belajar di kelas dan di luar sekolah adalah pembentukan karakter, persiapan diri untuk menyiapkan diri lebih baik baik di industri dan wirausaha.

Membaca data di atas satu kata yakni : “Change” Perubahan, berubah dan merubah. Perubahan radikal konstuksional di masa belajar mengajar menggunakan pendekatan sosial emosional dan berdiferensiasi pada peserta didik sebagai drivernya adalah guru dan kurikulum, passengernya adalah siswa dan orang tua.

Kolaborasi membentuk ekosistem belajar untuk bersama berubaha dilakukan dengan diskusi, sarasehan dan obrolan positif.

 

-          Apa yang orang lain lakukan pada saat peristiwa itu terjadi?

 

 

 

Seorang anak dapat belajar dengan sebaikbaiknya apabila kebutuhan fisiknya dipenuhi dan mereka merasa aman dan nyaman secara psikoligis. Para ahli perkembangan yang menganut paham kematangan sebagai dasar pertumbuhan berpendapat bahwa pertumbuhan, perkembangan, dan pembelajaran merupakan buah dari hukum kematangan internal. Ini menunjukkan bahwa anak akan bisa belajar apabila cukup waktu untuk berkembang. Namun behaviorist berpendapat berbeda, menurut mereka pertumbuhan dan pembelajaran adalah hal eksternal bagi anak dan dikendalikan oleh lingkungan. Dengan memengaruhi secara langsung, berbagai stimulus dan respons yang berasal dari lingkungan, anak itu akan belajar. Dengan menata lingkungan yang penuh dengan stimulus yang serasi dengan tiap perkembangan anak maka anak dengan nyaman akan belajar tentang lingkungan sekitarnya. Lain halnya dengan para ahli psikologi constructivist, mereka berpendapat bahwa baik faktor biologis maupun faktor lingkungan sama-sama memengaruhi perkembangan anak secara timbal balik (Seefeld & Wasik, 2008:33-34).

Kompetensi sosial dan emosional adalah kemampuan untuk memahami, mengelola, dan mengekspresikan aspek-aspek sosial dan emosional kehidupan seseorang, dengan demikian seorang anak mampu meraih keberhasilan, melaksanakan tugas sehari-hari seperti belajar, membentuk hubungan/ berinterkasi, memecahkan masalah kehidupan sehari-hari, dan beradaptasi dengan tuntutan pertumbuhan dan perkembangan yang kompleks. Ini mencakup kesadaran diri, kontrol impulsif, bekerja kooperatif, dan peduli tentang diri sendiri dan orang lain. Mereka belajar untuk mengenali dan mengelola emosi mereka; membangun hubungan yang sehat; menetapkan tujuan yang positif; memenuhi kebutuhan pribadi dan sosial; membuat keputusan yang bertanggung jawab, dan memecahkan masalah. Mereka diajarkan untuk menggunakan berbagai keterampilan kognitif dan interpersonal untuk mencapai secara etis tujuan yang relevan dan perkembangan sosial. Selanjutnya, mendukung diciptakan lingkungan untuk mendorong pengembangan dan penerapan keterampilan ini untuk beberapa pengaturan dan situasi. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran sosial emosional dapat meminimalisir prilaku-prilaku negatif dan menanamkan perilaku-perilaku positif sehingga terbentuknya karakter unggul pada anak.

 

 

 

 

2)      SO WHAT? (Analisis dari peristiwa yang terjadi)

-          Bagaimana perasaan saya pada saat peristiwa itu terjadi?

Perasaan saya mendapati pembelajaran berdiferensiasi dan sosial emosional adalah saya langsung mencoba menerapkan di kelas. Saya mendapati sesuatu hal dalam belajar mengajar yang lebih mendukung bangunan karakter masa depan.  Goleman (dalam Elias, 1997) menjelaskan kecerdasan emosional terdiri dari lima bidang, yaitu 1) self-awareness; mengenal perasaan (kesadaran) karena berada dalam situasi kehidupan nyata; 2) managing emotions; mengatur emosi dengan perasaan yang kuat sehingga tidak kewalahan dan terbawa oleh emosi, 3) self-motivation; motivasi diri yang berorientasi pada tujuan dan mampu menyalurkan emosi ke arah hasil yang diinginkan, 4) empathy and perspective-taking; berempati dan mengenali emosi dan memahami sudut pandang orang lain, 5) social skills, kemampuan menjaga hubungan di lingkungan sosial.

Kelima area intelejensi sosial tersebut dijadikan sebagai kompetensi kunci yang dapat dikembangkan, dipraktikkan dan dikuatkan dalam pembelajaran sosial emosional (Elias, 1997). Karena dengan mengembangkan kelima kompetensi tersebut akan melahirkan berbagai sifat-sifat positif dan keterampilan-keterampilan sosial lainnya. Keterampilan-keterampilan tersebut merupakan karakter-karakter unggul yang dibutuhkan anak pada setiap sisi kehidupannya untuk bisa hidup aman dan nyaman dengan orang lain.

 

-          Apakah yang saya rasakan sama/berbeda dengan orang yang mengalami kejadian yang sama?

Hal yang saya rasakan sangat berbeda dengan kejadian yang sama. Belajar itu membangun impian bukan mengajar materi semata, belajar itu membentuk karakter bukan membentuk tekanan, belajar itu dibuat menyenangkan bukan penekanan.

 

-          Apakah saya masih merasakan perasaan/dampak yang sama jika dibandingkan dengan perasaan/dampak langsung setelah peristiwa?

Dampak belajar menerapkan PSE (Pembelajaran sosial Emosional) sangat kuat bagi siswa, hasil refleksi yang saya lakukan pada aksi nyata 7 Maret 2022 menunjukkan siswa lebih releks, lebih nyaman, lebih asyik dan mampu bertahan untuk duduk mengerjakan tugas. Komentar siswa lebih memperlihatkan belajar itu bermain positif, bercerita dan berbagi ada di dalamnya.

 

-          Kecenderungan apa yang saya amati dari diri saya ketika menghadapi peristiwa serupa?

Saya memiliki kecenderungan bahwa penerapan pembelajarn sosial emosional dan pembelajaran berdiferensiasi perlu dijadikan interaksi belajar setiap hari agar belajar itu menyenangkan, belajar itu menggembirakan.

 

-          Mengapa saya bisa memiliki kecenderungan tersebut?

Saya memiliki kecenderungan untuk menjadi perubah keadaan, menjadi pembelajar bukan semata mengajar tetapi melakukan perubahan (Change) pada siswa agar bersama berubah melihat masa depan dengan fenomena belajar yang menyenangkan, belajar dengan mendeteksi kesiapan, kebutuhan belajar dan profil diri siswa.

Belajar dengan pendekatan sosial emosional mulai dari kesadaran diri, kesadaran sosial dan pengelolaan diri, keterampilan relasi serta pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

Kecerdasan bukan milik IQ semata, tetapi kecerdasan melihat perubahan, kecerdasan melihat masa depan, kecerdasan melihat perubahan yang fenomena pada teknologi seperti crypto currency, metaverse, NFT dan perubahan lain yang nampak di kita.

 

-          Setelah mengalami peristiwa tersebut, apa hal yang berubah dari pendapat, pemikiran, atau apapun yang Anda yakini sebelumnya?

Satu kata kunci Perubahan. Pendapat saya mari kita berubah, mari kita ciptakan pola belajar mengajar yang menggunakan pendekatan diferensiasi, belajar dengan sosial emosional, belajar dengan senyum, sapa, salam sopan, santun. Belajar dengan ice breaking dan teknik STOP.

Pemikiran saya mengemas belajar mengajar dengan bernyanyi lagu “Mars SMKN 6 Surakarta, awali dengan motivasi pagi, cerita-cerita pembuka yang menyenangkan, tanya jawab tentang ibu, keluarga, sholat subuh, bantuan-bantuan yang perlu dilakukan. Menanyakan tentang penerapan HASTALAKU (Delapan karakater lokal baik) meliputi : Gotong Royong, Grapyak Semanak (ramah tamah), Guyub Rukun (kerukunan), Lembah Manah (rendah hati), Ewuh pekewuh (saling menghormati), Pangerten (saling menghargai), Andhap Asor (berbudi luhur), dan Tepa Slira (tenggang rasa).

 

 

3)      NOW WHAT? (Tindak lanjut dari peristiwa yang terjadi)

-          Apakah kejadiannya akan berbeda jika pada saat itu saya mengambil langkah yang berbeda?

Menggunakan Pembelajaran Sosial Emosioanl dikemas dalam Visi misi sekolah serta tujuan sekolah dijadikan program sekolah akan berbeda hasilnya jika kita tidak bertindak. Maka mari kita buat visi misi sekolah.

Hasil Lokakarya 3 tempo hari pada tanggal 19 Maret 2022 mengajarkan kita membuat Visi Misi Sekolah.

 

-          Di mana saya bisa mendapatkan informasi tambahan agar bisa siap ketika
menghadapi peristiwa serupa di masa depan?

Kita membuat visi misi sekolah (hasil diskusi dengan kepala sekolah) di lokakarya 3 di hotel Royal Heritage Surakarta tgl 19 Maret 2022.

Diawali dengan membuat pertanyaan berbasis rumus BAGJA (buat pertanyaan, dan gali mimpi) disebarkan kepada seluruh siswa, guru, kepala sekolah dan orang tua siswa.

Hasil Angket yang disebarkan dianalisis, dijadikan rekap diambil beberapa kata kunci meliputi Masalah, harapan, dan mimpi siswa.

Hasil analisis angket dibuatkan kata kunci untuk membuat Visi misi sekolah.

 

-          Dukungan apa yang saya butuhkan agar bisa menindaklanjuti refleksi saya?

Saya berdiskusi dengan kepala sekolah dan guru mengenai tindak lanjut atas visi misi dan kegiatan sekolah untuk mencapai visi misi sekolah.

Kita merencanakan membuat gerakan sekolah menyenangkan (GSM) berupa gerakan membuat Mural di tembok sekolah yang menginspirasi, gerakan 5S (Senyum, sapa, salam, sopan, santun) berupa Greeting, Grooming dan Gembira (3G).

Kita merencanakan membuat pekan Wirausaha menujuk gerakan Siswa preneur. Siswa mandiri di bidang entreprenuer. Kita mulai ibarat kita mengarungi gelombang, kita harus di atas gelombang perubahan.

 

-          Bagian mana yang sebaiknya saya kerjakan lebih dulu?

Bagian yang akan saya kerjakan adalah : Menumbuhkan budaya belajar mengajar menyenangkan. Budaya 3G, dan budaya Siswapreneur.

 

-          Setelah Anda melakukan pembelajaran ini, apa hal baru yang ingin Anda bagikan kepada rekan atau lingkungan Anda?

Yang akan saya bagi kepada rekan guru dan siswa adalah :

1.      Belajar mengajar menggunakan pendekatan diferensiasi belajar (kesiapan, kebutuhan dan profil siswa)

2.      Belajar mengajar menggunakan pendekatan sosial emosional ( 5 KSE)

3.      Belajar mengajar menggunakan budaya positif (Rutin, Protokol dan Terintegrasi).

4.      Menyampaikan pada guru visi misi baru sekolah yang berpihak pada siswa dan membuat kegiatan yang membentuk karakter baik pada diri siswa.

 





Daftara Pustaka

https://edukasi.okezone.com/read/2015/03/31/65/1126832/mana-yang-lebih-penting-iq-atau-eq

 

Jurnal 16 Coaching Dengan Rekan Guru dan Murid

 

JURNAL 16

COACHING DENGAN SISWA DAN GURU

TENTANG SUATU MASALAH

Oleh : Darsono – SMK Negeri 6 Surakarta




Minggu ini, saya masih mempelajari Modul 2.3 Coaching. Pembelajaran yang dilaksanakan adalah Refleksi Terbimbing, yaitu memberikan refleksi atas pembelajaran yang telah dilaksanakan, meliputi pemahaman sebelum dan sesudah mempelajari modul, hal yang perlu ditingkatkan, kendala, dan upaya dalam menghadapi kendala. Pada Demonstrasi Kontekstual, saya melakukan praktik coaching bersama dua siswa dengan kasus yang berbeda. Untuk memantapkan pemahaman pada materi coaching, CGP mengikuti Elaborasi Pemahaman bersama instruktur. Minggu ini saya juga melaksanakan praktik pembelajaran berdiferensiasi yang terintegrasi dengan Pembelajaran Sosial dan Emosional PSE).

Pada jurnal 16 ini saya akan menggunakan Model 3: Six Thinking Hats (Teknik 6 Topi)

1)      Topi putih: tuliskan informasi sebanyak-banyaknya terkait pengalaman yang terjadi. Informasi ini harus berupa fakta; bukan opini.

2)      Topi merah: gambarkan perasaan Anda terkait dengan topik yang sedang dibahas, misalnya perasaan saat mempelajari materi baru atau saat menjalankan diskusi kelompok.

3)      Topi kuning: tuliskan hal-hal positif yang terkait dengan topik tersebut.

4)      Topi hitam: tuliskan kendala, hambatan, atau risiko dari tindakan/peristiwa yang sedang dibahas.

5)      Topi hijau: jabarkan ide-ide yang muncul setelah mengalami peristiwa tersebut.

6)      Topi biru: tarik kesimpulan dari peristiwa yang terjadi, atau ambil keputusan setelah mempertimbangkan kelima sudut pandang lainnya. Bandingkan dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

PROCESS

Intinya saya mengambil kesimpulan bahwa coaching sangat penting dalam membantu siswa dan guru menemukan solusi atas masalah yang dihadapinya. Coaching bertumpu pada kemampuan coach untuk bertanya, menggali informasi dari coachee, kemudian mengajak coachee menemukan potensi terbaiknya untuk merumuskan rencana aksi dan menyepakati tanggung jawab. Sesungguhnya hal ini sudah sering  saya lakukan, hanya saja selama ini masih lebih didominasi oleh peran guru dalam memberikan tips untuk mengatasi masalah.


Terlepas itu sudah menjadi realitas atau baru sebatas nama, tetapi sebetulnya ada beberapa hal yang penting untuk diingat, yaitu:

1.      Memiliki data yang akurat

Data di sini mungkin tidak harus kita artikan sebagai data dalam pengertian yang formal dan rumit. Data di sini bisa juga kita artikan sebagai catatan pribadi yang berisikan tentang gap antara skill yang dimiliki karyawan dengan tuntutan pekerjaan. Bisa juga berisi masalah yang dihadapi si karyawan dalam kaitannya dengan kinerjanya. Bisa pula berisi tentang perkembangan si karyawan yang kita coaching itu dari waktu ke waktu. Dengan memiliki apa yang kita sebut data itu, berarti ketika kita hendak meng-coach orang, kita sudah tahu apa yang perlu dan apa yang belum perlu, mana yang perlu ditekankan dan mana yang belum perlu, dan seterusnya.

2.      Menemukan metode yang “teachable”
Seperti yang saya katakan di muka, bahwa dalam meng-coaching ini memang kita dituntut untuk memerankan diri sebagai pendidik. Hal yang terpenting di sini adalah menggunakan atau menemukan metode mendidik yang dapat membuat orang yang kita didik itu bisa mendidik orang lain dan begitu seterusnya. Dengan begitu, tanpa harus kita yang turun langung, program coaching tetap berjalan di tempat kita. Ini tentu sangat positif. Selain meminterkan orang lain, ini juga bisa membentuk lingkungan yang positif.

3.      Menghidupkan, bukan mematikan

Ini soal cara bagaimana meng-coach orang. Meski kita sudah sama-sama tahu bahwa cara yang bagus adalah menghidupkan semangat orang, tetapi dalam prakteknya belum tentu pengetahuan itu kita gunakan. Ada cara yang menghidupkan tetapi ada cara yang mematikan, ada cara yang mendorong tetapi ada cara yang malah menarik. Cara yang kita gunakan terkadang bisa bertentangan dengan niat yang kita maksudkan. Karena itu, meski niat kita baik, namun kalau cara yang kita gunakan itu mematikan, me-looking-down-kan, atau menghinakan, bisa jadi hasilnya bukan malah bagus.

CREATIVITY

 

 Sebagai Coach kita harus mempunyai keterampilan dalam memberi Pertanyaan-pertanyaan efektif yang akan  diajukan kepada coachee untuk menggali permasalahan yang terjadi dan coach mendengarkan apa yang menjadi keyakinan dan perhatiaan coachee sebagai upaya untuk menciptakan komunikasi asertif dengan coachee. Coach menyimak pada saat coachee berbicara untuk memahami setiap  ucapan yang diucapkan oleh coachee serta ikut serta memberi pemahaman kepada coachee tentang pentingnya menyelesaikan masalahnya sendiri dengan potensi coachee sendiri.


Sebagai coach tidak hanya menjadi komunikator yang baik tetapi juga harus mampu  menuntun coachee membuat tindakan serta alternative jalan yang mungkin dipraktekkan coachee dan memberikan dorongan kepada coachee untuk memilih ide dan keputusan.  Dorongan coach untuk coachee dalam menyusun rencana penyelesaian dengan waktu yang tepat, jelas dan spesipik disuaikan dengan kebutuhan. Coach juga harus mampu mendorong coachee untuk memilih orang yang akan dipercayakannya dalam menyelesaikan masalahnya. Coach juga harus memberikan dorongan kepada coachee untuk mempertanggungjawabkan terhadap aksi nyata yang akan diambil dan dijalankan dan capaian rencana secara spesipik disesuaikan dengan jadwal yang telah dibuatnya.  

Kristin Constable, Forbes Councils Member, mengatakan ada empat tahap dalam proses kerja coaching, yaitu:

  1. Awareness

Coaching menantang cara berpikir seseorang, sehingga ia dapat mempertanyakan cara menjadi sadar dan tidak sadar dan berinteraksi dengan dunia tanpa ego.

  1. Clarity

Melalui coaching, individu dapat menyebutkan dan mendefinisikan masalah nyata secara berfokus pada satu bagian pada satu waktu serta memisahkan fakta dari perasaan.

  1. Choice

Coaching memungkinkan seseorang untuk membatasi keyakinan dan mengeksplorasi kemungkinan untuk berubah. Karena coach menciptakan koneksi saraf baru yang mempromosikan cara berpikir dan berperilaku baru.

  1. Action

Seseorang dapat dapat berkomitmen pada rencana atau latihan untuk memperbaiki cara berpikir dan berperilakunya. Hal itu mendukung cara hidup yang ia inginkan.

Ide-ide pada coaching adalah tentang Negative to Positive Feeling (N2P) yakni:

1.      Mengajak coachee untuk melihat perspektif lain dari sebuah masalah.

2.      Merubah perasaan negatif menjadi positif.

3.      Coaching tidak dapat dilakukan saat coachee berada dalam keadaan negatif.

 

Penerapannya adalah dengan 3 R yakni Relax, Relate dan Reframe.

Relax artinya menangani coachee dengan pertanyaan-pertanyaan yang santai, tidak menghakimi, tidak menyudutkan

 

Relate artinya menjalin hubungan dengan keakraban coach dan coachee.

 

Reframe artinya membangun kembali potensi yang tenggelam dan dibangkitkan lagi untuk disatukan dipadukan.

FACTS

Tanggal 1 April 2022

Coaching Siswa

Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran minggu ini, saya merasa menikmati saja alur dan perjalanannya, karena beberapa tagihan tugas mengharuskan berupa video. Saya merancang kegiatan coaching, berlatih bersama siswa, dan melakukan perekaman dan editing video. Semua adalah kegiatan yang menuntut kompetensi video editing dan teknik pengambilan gambar serta talenting yang baik sehingga kegiatan ini bisa dilakukan, kebetulan ini adalah bagian dari mapel saya yakni Videografi. Ditambah melihat siswa yang semangat, saya menjadi termotivasi untuk melaksanakan praktik coaching dengan segenap kekuatan saya. Sesi elaborasi pemahaman bersama instruktur memberikan tambahan pemahaman pada praktik coaching yang sangat bermanfaat.




Saya melakukan coaching siswa sebanyak 2 orang kasus yang berbeda dan ini adalah kasus yang real (nyata) dialami siswa hanya diulang dan dijadikan model TIRTA sebagai penerapan coaching sesuai materi. Diulang olah kasusnya dengan pendekatan TIRTA dan direkam.

Kasus pertama tentang siswa yang tugasnya terlambat hingga raportnya belum KKM karena sesuatu hal.

Kasus kedua tentang siswa yang putus hubungan dengan kedua orang tuanya karena keduanya berpisah dan siswa tersebut mencari solusi mengatasi masalahnya sendiri hingga berakibat nilai raport banyak yang tidak tuntas.

Link : https://youtu.be/CAtJcgXdnT0

Tanggal 2 April 2022

Coaching Guru

Pada tanggal 2 April 2022 saya melakukan coaching dengan teman guru, tema yang diambil adalah pendaftaran Guru Penggerak Angkatan 7, pengambilan gambar saya minta salah satu siswa kelas XII Multimedia. Lokasi pengambilan gambar di salah satu ruang studio. Hasil gambar saya kirim ke LMS sebagai penugasan aksi nyata (latihan praktek coaching) sebelum datang Pendamping Praktek CGP.

Kasus guru ini juga merupakan kasus nyata, dimana ybs pernah diajak ikut mendaftar Pengajar Praktik, namun memilih CGP atas kemauan dan hasil konsultasi (konseling) dengan saya..Di tengah perjalanan ybs mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas, diduga dipengaruhi oleh dirinya, pekerjaannya dan teman-temannya.

Setelah didekati dan dicoaching sebisanya akhirnya ybs bersedia ikut mendaftar CGP lagi. Potret inilah saya rekam ulang dengen pendekatan model TIRTA.

Link : https://youtu.be/J6ppe9R5WU0

BENEFITS

Saya mendapatkan manfaat yang luar biasa setelah menerima materi teori dan praktek coaching, yang selama ini masih seperti bukan menjadi bagian tugas guru ternyata sangat penting perannya menyelesaikan banyak masalah belajar mengajar. Keterampilan yang harus dimiliki seorang Coach ada empat kelompok kompetensi dasar bagi sesorang coach :


1. Keterampilan membangun dasar proses coaching

2.    Keterampilan membangun hubungan baik

3.    Keterampilan berkomunikasi

4.    Keterampilan memfasilitasi pembelajaran

Adapun Prinsip Coaching adalah :


1.       Kolaborasi coach dan coachee

2.       Coach menuntun, memfasilitasi, memaksimalkan potensi coachee

3.       Berfokus pada solusi

4.       Berorientasi pada hasil dan

5.       Sistematis

Manfaat lain adalah saya bisa membedakan mana coaching, mentoring dan konseling, ternyata ketiganya berbeda-beda.

Mentoring sebagai proses mentor menggunakan pengalamannya untuk membantu orang lain mengatasi masalah.

Konseling adalah hubungan bantuan antara konselor dan klien yang difokuskan pada pertumbuhan pribadi dan penyesuaian diri serta pemecahan masalah.

Coaching Jalinan kemitraan yang setara dengan coachee untuk mengambil keputusan sendiri. Tugas Coach hanya mengarahkan melalui pertanyaan-pertanyaan yang menuntun.

 

 

Coaching biasanya melatih seseorang untuk mampu menghasilkan performa yang lebih baik, menjadi pemimpin bagi diri sendiri, menjadi manusia pembelajar, menyesuaikan dengan kondisi sekarang untuk terus berkembang dan tumbuh, serta mengaktualisasikan ide dan pemikirannya, sehingga orang tersebut bisa mengandalkan diri sendiri untuk menghasilkan keputusan dan tindakan yang “lebih” baik lagi.

Benefit Coaching :

1.       Memperbaiki Retensi Karyawan

2.       Memperbaiki Performa Kerja

3.       Membentuk Komunikasi Positif Di Dalam Organisasi

FEELINGS

Coach mana yang tidak ikut bahagia kalau di akhir sesi coaching, melihat Coachee-nya tersenyum lebar dengan mata berbinar. Coachee menjadi tercerahkan, semakin bersemangat dengan segudang insight baru, dan dengan suara lantang menyerukan langkah selanjutnya yang akan ia wujudkan.


Tapi mari kita jujur, Coach. Kenyataannya belum semua sesi coaching kita berjalan 100% efektif. Bisa jadi disebabkan oleh cara bertanya atau jenis pertanyaan yang kita ajukan belum tepat, atau mungkin kita sebagai Coach ikutan stuck saat bertemu Coachee yang stuck, keras kepala, dan menutup diri dengan jutaan alasan. Coaching adalah tentang “mendengarkan” ( Listen ) bukan hanya “mendengar” (earn) Jadi harus fokus perhatian pada coachee. Coaching bukan mentoring, bukan pula terapi atau konseling. Coaching lebih menjurus kepada memfasilitasi melalui bertanya, memberikan feedback dan berperan sebagai ahli.

 

CAUTIONS


Kendala yang saya hadapi adalah mengelola membuat pertanyaan yang mengajak, membantu merefleksi hingga mengarahkan coachee sehingga tergerak potensinya muncul dan melakukan perubahan pada solusi yang diinginkan. Pertanyaan yang diajukan Coach bisa jadi sangat menantang bagi Coachee, membongkar zona nyaman dan menata ulang kebiasaan atau pola pemikiran (mindset) yang lama. Memang rasanya tidak nyaman bagi Coachee, tapi sebagai Coach kita sadar disanalah titik balik transformasi Coachee berawal. Maka wajar jika Coachee menjadi resisten lalu stuck dalam merespon pertanyaan Coach. Bagaimana Bisa? Ini cara Coachee mendengar, menangkap dan memproses pertanyaan dari Coach.

Beberapa hal yang kerap menghambat terlaksananya kegiatan yang mulia ini, misalnya:

1.      Budaya menghakimi/ memarahi

Kita langsung memarahi karyawan saat melakukan kesalahan. Marah terkadang tidak bisa dihindari tetapi yang kerap kita lupakan adalah apa yang kita lakukan setelah marah. Kalau yang kita lakukan membenci atau menjauhi, tentu akan berbeda efeknya dengan ketika yang kita lakukan setelah itu adalah mendekati dan meng-coach-nya.

2.      Budaya membiarkan

Kita membiarkan karyawan bekerja sendiri-sendiri karena kita malas atau tidak peduli dengan skill mereka. Membiarkan seperti ini tentu berbeda dengan membiarkan yang punya pengertian memberi kesempatan untuk mandiri dalam menerapkan pengetahuan.

3.      Budaya mengerjakan sendiri

Kita menangani sebagian besar pekerjaan dan enggan untuk mendelegasikannya kepada yang lain karena kurang percaya.

4.      Budaya mengharapkan hasil yang instan
Kita mengharapkan hasil yang instan dari apa yang kita instruksikan pada mereka.

5.      Budaya arogansi birokrasi

Kita menjaga jarak dengan karyawan untuk melindungi gengsi atau kita enggan turun ke bawah. Umumnya kita, semakin tinggi jabatan atau posisi, justru semakin jauh dari realitas yang bersentuhan langsung dengan manusia dan masalahnya di bawah. Kalau mengacu pada teori pendidikan, meng-coach karyawan itu sebenarnya juga termasuk mendidik. Bicara soal pendidikan ini mungkin ada satu hal yang perlu kita ingat bahwa metode yang kita gunakan dalam mendidik orang itu jauh lebih berperan penting ketimbang materi yang kita sampaikan. Materi yang bagus akan diresponi tidak bagus kalau metode yang kita gunakan tidak cocok dengan keadaan orang yang kita coach.

 

 

Disadur dan diolah dari berbagai sumber.

 

Jurnal 15 - Coaching Clinic Dengan Siswa dan Rekan Guru

 

JURNAL 15

COACHING CLINIC

Oleh Darsono-CGP SMKN 6 Surakarta



Fact

 

Perjalanan Pendidikan Guru Penggerak saat ini telah sampai pada minggu ke-15. Saat ini kami sedang mempelajari Modul 2.3 Coaching. Saya bersama rekan-rekan CGP melakukan eskplorasi konsep secara mandiri, forum diskusi eksplorasi konsep, ruang kolabarsi latihan coaching dan ruang kolabarosi praktek coaching. Dalam eksplorasi konsep mandiri, saya membaca materi tentang konsep coaching, definisi coaching, mencermati video sang kancil dan burung hantu, video tentang komunikasi asertif, menjadi pendengar aktif, bertanya efektif dan memberi umpan balik positif, serta coaching model TIRTA. Banyak pengalaman baru yang saya dapatkan di samping ada beberapa yang telah saya lakukan secara rutin. Dalam forum diskusi eksplorasi konsep, kami menjawab pertanyaan berdasarkan pengamatan terhadap video praktik coaching model TIRTA, kemudian saling berbagi pengalaman, pendapat, saran dan masukan. Tujuannya untuk saling menguatkan pemahaman CGP. Pada pembelajaran ruang kolaborasi CGP didampingi oleh fasilitator dalam memperlajari kasusyang ada di sekolah, yaitu kasus antara siswa, antara siswa dengan guru, dan antara guru dengan kepala sekolah dan pengawas, kami bergiliran menjadi coach, coachee, dan pengamat dalam mempraktikkan coaching model TIRTA secara virtual. Selain kegiatan pembelajaran di LMS, minggu ini saya juga merancang kegiatan aksi nyata untuk modul 2.3 berupa Pembelajaran Coaching dengan rekan guru dan murid, yaitu melakukan coaching dengan menerapkan model TIRTA pada suatu masalah siswa yang dihadapi.

 

Feelings

 

Pengalaman yang saya dapatkan pada pembelajaran minggu ini sangat banyak dan akan sangat berguna dalam melaksanakan tugas di sekolah. Misalnya komunikasi asertif, akan sangat berguna dalam menjalin hubungan dengan rekan kerja, atasan, siswa maupun masyarakat. Dalam komunikasi asertif, saya belajar bagaimana mendengarkan lawan bicara sekaligus mengungkapkan pendapat dengan baik, santun, tanpa menyinggung lawan bicara. Teknik bertanya efektif, memberikan saya pengalaman bagaimana mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mengidentifikasi masalah yang dihadapi, menggali potensi, menjabarkan rencana, dan menuntun tanggung jawab.  Menjadi pendengar aktif, sangat penting untuk diterapkan dalam berkomunikasi untuk membuat lawan bicara merasa nyaman, merasa diperhatikan, sekaligus kita dapat menyimak, memahami, dan memberi respons atas hal yang diungkapkan. Respons yang diberikan akan berguna bagi lawan bicara jika diberikan dalam bentuk umpan balik positif. Semua keterampilan yang dipelajari, mendukung penguasaan pada coaching model TIRTA. Coaching model TIRTA yang dilaksanakan dengan baik akan dapat membantu peserta didik mengetahui potensinya, menentukan rencana solusi dan mengambil tangung jawab. Hal ini penting dalam menjalankan peran sebagai guru yang menuntun murid guna mencapai kemandirian dalam hidup.

 

Findings

Hubungan antara keterampilan coaching dalam peran sebagai seorang pendidik yaitu mampu mendorong tumbuh kembangnya peserta didik secara holistik, aktif dan produktif serta perannya sebagai coach bagi rekan sejawat atau guru lain. Dalam modul 2 ini sangat berhubungan dari mulai pembelajaran berdeferensiasi kemudian pembelajaran sosial emosional dan coaching. Ketiganya saling berhubungan dan sangat penting yang harus dimiliki oleh seorang pendidik.

Coaching merupakan sebuah proses kolabirasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistemati, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri dan pertumbuhan pribadi dan coachee (Grant, 1999)

Model TIRTA adalah tahapan coaching yang biasa diterapkan baik dalam lingkungan kelas maupun sekolah. TIRTA merupakan akronim sebagai berikut:

  1. Tujuan Umum
  2. Identifikasi Masalah
  3. Rencana Aksi dan
  4. Tanggung Jawab

Dari keempat langkah tersebut dapat diperankan oleh pendidik sebagai coach dalam teknik coaching model TIRTA.

Sebagai seorang calon guru penggerak harus menguasai keterampilan coaching akan membantu saya dalam proses kolaborasi baik dengan rekan sejawat atau dengan murid. Disisi lain dengan menguasai keterampilan coach dapat menambah wawasan memahami proses coaching, serta mempraktikkan sebagai coach dan coachee.

 

Future

Setelah mempelajari coaching model TIRTA, saya tertarik untuk mencoba menerapkannya dalam membantu murid menemukan jalan keluar dari masalah yang dihadapinya. Coaching model TIRTA sangat berbeda dengan praktik konseling maupun mentoring yang selama ini diterapkan di sekolah. Dalam konseling, konselor berperan menggali masalah yang telah dilalui oleh klien, sedangkan dalam mentoring, mentor memberikan tips-tips mengatasi masalah berdasarkan pengalaman mentor. Sementara dalam coaching model TIRTA, coach tidak memberikan solusi secara langsung, tetapi menggali dari dalam diri coachee, potensi/kekuatan apa yang dapat dikembangkan guna menjadi solusi. Di sinilah keterampilan komunikasi dan bertanya efektif akan sangat berguna. Dalam meningkatkan kemampuan saya melakukan coaching, saya akan belajar dari rekan guru senior, kepala sekolah, rekan CGP, maupun dari media internet yang memberikan banyak contoh coaching. Saya akan mengasah kemampuan coaching, baik dengan murid maupun dengan rekan guru yang memiliki masalah. Harapannya, saya dapat membantu mereka mengidentifikasi masalah, menemukan potensi diri, merancang rencana solusi, dan komitmen dalam menjalankan rencana.

Rencana alternatif yang akan saya lakukan agar perencanaan berjalan dengan lancar yang akan saya lakukan pertama adalah menggunakan model TIRTA pada proses coaching. Peran guru sebagai pamong dapat mendampingi murid, menuntun murid dalam mengeksplorasi dirinya dalam menemukan kebutuhan belajar dan strategi dalam memecahkan masalah pada dirinya sendiri.Dengan melakukan proses coaching dengan model TIRTA, murid akan lebih percaya diri dan dapat menemukan kekuatan yang ada dalam dirinya sehingga peran guru di sini hanya menggali kekuatan tersebut dan memberikan motivasi serta dukungan kepada murid.

 

Demikian jurnal saya minggu ini, semoga bermanfaat. Salam dan Bahagia

Wednesday, April 6, 2022

Tolak Bahasa Melayu Sbg Bhs ASEAN

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim membeberkan alasan menolak permintaan Malaysia untuk menjadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa perantara kedua negara dan bahasa resmi Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN). 

Permintaan itu disampaikan oleh Perdana Menteri Malaysia Dato' Sri Ismail Sabri Yaakob saat melakukan kunjungan ke Indonesia. 

Menurut Nadiem, Bahasa Indonesia lebih layak untuk dikedepankan dengan mempertimbangkan keunggulan sejarah, hukum, dan linguistik.

“Dengan semua keunggulan yang dimiliki bahasa Indonesia dari aspek historis, hukum, dan linguistik, serta bagaimana bahasa Indonesia telah menjadi bahasa yang diakui secara internasional, sudah selayaknya bahasa Indonesia duduk di posisi terdepan, dan jika memungkinkan menjadi bahasa pengantar untuk pertemuan-pertemuan resmi ASEAN,” kata Nadiem dalam keterangannya, Senin (4/4/2022) lalu.

Mantan CEO Go-Jek itu mengatakan, Bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa terbesar di Asia Tenggara. Bahkan, dia menilai persebaran bahasa Indonesia telah mencakup 47 negara di seluruh dunia. 

Menurut Nadiem, pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) juga telah diselenggarakan oleh 428 lembaga, baik yang difasilitasi oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud Ristek, maupun yang diselenggarakan secara mandiri oleh pegiat BIPA, pemerintah, dan lembaga di seluruh dunia.

Baca selengkapnya di.. https://bit.ly/3udAtsu

- #Nadiem #Tolak #Usulan #PMMalaysia #BahasaMelayu #Kompascom #BeritaTerkini #Faktaberita #JernihkanHarapan

Saturday, April 2, 2022

Jurnal Refleksi Minggu ke 7 Aksi Nyata Bagja /IA di SMK Negeri 6 Surakarta

 Jurnal Minggu ke 7

CGP Angkatan 04 Kota Surakarta

Aksi Nyata Bagja / IA di SMK Negeri 6 Surakarta

Oleh Darsono

Pendidikan Guru Penggerak Angkatan ke empat kota Surakarta telah memasuki minggu ke tujuh, yakni modul 1.3 membahas tentang eksplorasi dan pendalaman pendekatan Inquiry Apreseatif atau BAGJA (pendekatan IA yang diakronimkan Bagja) yaitu Buat pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan Desain dan Atur Eksekusi.

Pada tanggal 03 Desember 2021 saya mengajar Desain Multimedia Interaktif (DMI) kelas XII MM1 dengan topik rencana proyek SAC (Smart Apps Creator). Teringat akan filosofi Ki Hajar Dewantara atas keberpihakan guru pada murid dan kolaborasi nilai dan peran guru penggerak serta pemetaan dan kekuatan komponen sekolah yang telah saya dapatkan, kali ini saya mengembangkan pendekatan BAGJA dengan mengajukan beberapa pertanyaan ringan mengenai keberpihakan murid atas proyek SAC yang akan dijalankan di semester genap nanti. Aplikasi yang saya gunakan adalah Google Form.

Suasana Guru menjelaskan Isian Google Form "Kesepakatan Kelas SAC" (Dokpri)


Momen di saat siswa mengerjakan jawaban "kesepakatan kelas SAC" (Dokpri)


Dokpri

Beberapa pertanyaan di google form dijawab siswa dan guru memintanya untuk mengungkapkan secara lisan di hadapan guru dan teman-temannya. 

Hasilnya cukup menggembirakan, mereka punya impian, harapan pada kelas, pada guru yang bervariasi metode mengajarnya, mimpi proyeknya cepat selesai, dan pendekatan guru tidak klasikal saja tetapi individual juga, berikut dokumentasi proses guru melakukan kesepakatan kelas bersama siswa 12 MM1.


Dokpri


Dalam membuat jurnal refleksi ke-7 Calon Guru Penggerak CGP kali ini admin menggunakan model segitiga refleksi yang terdiri dari empat tahap yaitu :

  • Segitiga Merah                  : Memahami materi yang dipelajari
  • Segitiga Kuning                 : Mampu merancang dan menerapkan apa yang dipahami
  • Segitiga Hijau                     : Perasaan yang terjadi setelah belajar
  • Segitiga Biru                       : Target apa yang akan dicapai

    • Tahap 1 : 
    • Segitiga Merah
    •  
    • Tahap 2 : 
    • Segitiga Kuning
    • Tahap 3 : 
    • Segitiga Hijau
    • Tahap 4 : 
    • Segitiga Biru
    • Memahami
    • Setelah mempelajari modul 1.3 saya memahami bahwa :
    • Mampu
    • Setelah mempelajari modul 1.3 saya mampu :
    • Perasaan
    • Setelah mempelajari modul 1.3 saya merasa
    • Target
    • Setelah mempelajari modul 1.3 saya memberi target sebagai berikut :
    • Visiku sebagai Guru Penggerak
    • Visi adalah gambaran tujuan yang akan dicapai di masa depan
    • Sangat bahagia dan bersemangat memahami modul 1.3
    • Mengeksekusi visi saya yaitu Mengawal siswa memiliki ilmu, akhlakul karimah dan mandiri mengedepankan 4 Kompetensi berprofil Pelajar Pancasila.
    • Mimpiku muridku di masa depan
    • Imajinasi muridku di masa depan adalah menjadi menusia yang berkarakter Pancasila
    • Termotivasi untuk merancang visi dan cara mengeksekusinya
    • Melakukan tahapan BAGJA dalam proses pembelajaran di kelas.
    • Paradigma Inquiri Apresiatif (IA)
    • Paradigma IA adalah pendekatan kolaboratif dengan perubahan berbasis kekuatan
    • Makin terbuka wawasan ketika bertemua teman-teman CGP lain dalam lokakarya
    • Meningkatkan kolaborasi dengan aset dan kekuatan yang mendukung visi
    • BAGJA dan tahapannya
    • Tahapan dari BAGJA terdiri dari Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana dan Atur eksekusi
    • Bersemangat untuk menerapkan tahapan BAGJA dalam upaya mewujudkan visi

    • Pemetaan Aset dan Kekuatan
    • Pemetaan aset dan kekuatan untuk menentukan peran dan manfaat dalam mencapai visi.
    • Semakin mengerti pentingnya kolaborasi dan mengenali kekuatan untuk mewujudkan mimpi


  • ---- CGP4-Darsono----